38 - One Time Fives

461 17 1
                                        


"Kenapa kau melarikan diri?" Tanya Jeno.

Jaemin mengerutkan alisnya, siapa yang tidak akan melarikan diri setelah ia melakukan hal yang baru saja ia lakukan.

"Karena sekarang kau sudah tahu maksud kami. Sekarang pertanyaannya berubah, apa kau menginginkannya?" Lanjut Jeno yang memahami tatapan bingung Jaemin.

Jaemi terdiam. Ia membayangkan apa yang baru saja Jeno lakukan dan mempertanyakan apakah dirinya menginginkan hal itu atau tidak.

"Hm..?" Jeno kembali mendekati Jaemin, "... Kalau kau menjadikan apa yang kulakukan tadi sebagai referensi, jangan lupa untuk mengalikannya lima kali. Karena kami ada lima." Jeno mengucapkan hal itu dengan senyum miringnya.

Perhatian Jaemin kembali pada Jeno ketika ia mengingatkannya akan fakta bahwa ada lima orang yang akan melakukan hal itu padanya.

"Apa kalian semua memperlakukanku dengan baik hanya untuk melakukan itu padaku?"

Jeno tertegun dengan pertanyaan itu, tapi ia kembali tersenyum setelahnya. "'itu'? Itu apa?"

Ekspresi Jaemin yang awalnya terdapat rasa ragu dan takut langsung tersirat tatapan kesal pada Jeno. Ia tahu bahwa Jeno sengaja memaksanya untuk mengatakan hal yang bahkan ia sendiri tak pernah membayangkannya sebelumnya.

Jeno terkekeh melihat ekspresi Jaemin yang begitu lucu dan imut karena tak ingin menjawab pertanyaannya. Ia melangkah mendekati Jaemin.

"Apa kau takut padaku, sekarang?" Ujar Jeno lembut.

Jaemin terdiam menatap Jeno. Ia tidak takut pada Jeno tapu ia tak tahu darimana asal debaran kuat di dalam dadanya. Ia menahan nafasnya begitu melihat Jeno mengangkat tangannya.

Jaemin mencoba menahan dirinya dan hanya membiarkan Jeno menggapai pipinya. Ia merasakan kulit tangan Jeno di pipinya dan usapan lembut dari ibu jarinya.

"Apa kau takut?" Tanya Jeno lagi, kali ini dijawab dengan gelengan kepala oleh Jaemin.

Jeno kembali mengambil langkah untuk lebih dekat lagi. Kali ini ia mengecup lembut dahi kepala Jaemin.

"Bagaimana dengan ini?" Ujar Jeno, tak dijawab oleh Jaemin. Namun ia dapat merasakan wajah Jaemin yang menegang di tangannya yang masih di pipinya.

"Kau bisa mendorongku begitu kau merasa tidak menginginkannya, oke?" Lanjut Jeno, tak lagi menunggu respon Jaemin.

Tepat ketika Jaemin mengangkat kepalany ingin mempertanyakan maksud Jeno, ia dipaksa diam oleh bibir hangat yang menyambut bibirnya. Jaemin terkesiap namun tangan Jeno menahan kepalanya untuk melarikan diri.

Berbeda, sangat berbeda. Jaemin merasakan ketegangan yang menjalar dari bibirnya. Ia tidak pernah merasakan sensasi itu. Tangannya terdiam di dada Jeno, dilema untuk mendorong atau memeluknya.

Jeno yang merasakan keraguan dari tangan Jaemin, menafsirkan hal itu sebagai lampu hijau untuk tahap selanjutnya. Ia dengan mudah membuka jalan untuk lidahnya menyapa lembut lidah Jaemin.

Jaemin tak tahu bagaimana ia harus bereaksi. Ia bahkan tidak sepenuhnya paham apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Ia hanya menyadari bahwa detak jantungnya begitu kuat, seakan ruang di dadanya tidak cukup baginya. Ia tidak sedang olahraga tapi ia merasa jantungnya sedang mengikuti lomba lari. Kakinya lemas, ia merasakan tubuhnya bisa ambruk kapan saja.

Jeno menangkap tubuh Jaemin dengan mudah, menghentikan ciumannya dan membawa tubuh Jaemin kedalam dekapannya.

"Kau tidak mendorongku, artinya kau tidak menolak. Aku yakin ini adalah pengalaman pertamamu dari reaksi dan desahan nafasmu saat ini. Apa kau bahkan tak bisa bernafas ketika berciuman?" Ujar Jeno. Ia mengangkat tubuh Jaemin yang sudah lemas dan membawanya ke tempat tidurnya.

Jaemin masih terengah-engah dari ciuman Jeno. Ia yang tidak memahami apapun juga tak bisa merespon perkataan Jeno. Ia hanya menatap kosong dengan pikiran yang berantakan hingga ia bahkan tidak tahu barus memikirkan apa-apa.

Kesadaran Jaemin kembali ketika Jeno menggapai tangannya dan mengecupnya lembut.

"Apa yang kau rasakan saat ini, Jaemin?" Tanya Jeno serius. Jaemin menatap lurus pada mata Jeno.

"Dadaku sakit." Jawab Jaemin jujur karena hanya itu satu-satunya yang ia tahu dari kondisinya saat ini. Jeno mengangkat sebelah alisnya.

"Sakit?"

"Iya, tapi tidak menyakitkan. Hanya seperti ingin meledak karena jantungku berdetak begitu kencang."

Jeno menahan senyumnya. Bahkan setelah semua itu, kepolosan Jaemin tidak hilang. Ia tetap setia pada karakternya ini.

"Apa kau tidak suka dengan perasaan itu?"

"Entahlah. Aku tidak pernah hal seperti ini." Jaemin menunduk, tak bisa memberikan jawaban pasti pada Jeno.

"Apa kau ingin merasakannya lagi?" Jeno dengan sabar mencoba membuat Jaemin mengerti perasaaannya sendiri.

"Dari yang kulakukan tadi, apa kau bisa membayangkan jika itu dilakukan oleh kami berlima?" Lanjut Jeno, ia tahu bahwa ia perlu pelan-pelan bukan hanya untuk mengajarkannya tentang perasaannya tapi juga kenyataan bahwa ada lima orang yang bersedia menjadi pengalaman pertama Jaemin untuk mengeksplorasi rasa penasarannya nanti.

Jaemin kembali terdiam.

"Kau bayangkan jika tadi aku menciummu, tapi bersamaannya dengan itu Vernon mencium lehermu, Baekhyun dan Taehyung mencium tubuhmu dan Hyunjin memijat penismu. Apa kau bisa membayangkan hal itu?" Jelas Jeno.

Jaemin terdiam namun pikirannya melayang pada imajinasi skenario yang dikatakan Jeno. Tanpa ia sadari kali ini sesuatu yang berbeda bereaksi darinya. Ia merasakan denyutan di bawah perutnya.


To Be Continued..
Jangan Lupa Like and Comment nya ya..
 

F For Five || MobxJaeminCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang