39 - Cozy Storm

382 18 3
                                        

Jaemin membuka matanya pelan, diterangi cahaya pagi yang menyelinap lewat tirai kamarnya. Ingatan tentang ciuman Jeno, sentuhan panasnya, masih membekas seperti bayangan. Ia menekan tangan ke dadanya, di mana jantungnya masih berdegup kencang. "Apa mereka semua akan seperti itu...?" gumamnya, setengah takut, setengah penasaran.

Getar ponselnya memecah kesunyian. Pesan dari Hyunjin: "Temui aku di atap gedung? 💫"

Jaemin ragu. Setelah intensitas Jeno tadi malam, ia tak yakin bisa menghadapi konfrontasi lagi. Tapi aura ceria Hyunjin terasa seperti pelabuhan aman. Ia mengetik "Oke" dan bergegas keluar.

Hyunjin bersandar di pagar atap gedung, sinar matahari menyorot rambut peraknya. Ia menoleh, tersenyum lebar saat Jaemin mendekat. "Morning, sweetheart! Kau terlihat seperti baru melawan hantu."

"Hantu berbentuk Jeno," gerutu Jaemin, membuat Hyunjin tertawa.

"Ah, Jeno..." Senyum Hyunjin melunak. "Dia... tak suka basa-basi. Tapi dia peduli. Kami semua peduli." Kepalanya miring, menatap Jaemin. "Apa dia menakutimu?"

Jaemin menggeleng, meski pipinya memerah. "Tidak. Hanya... bingung. Kenapa kalian semua melakukan ini? Kenapa aku?"

Hyunjin mendekat, keluguannya tergantikan oleh kesungguhan. "Karena kaulah orang pertama yang membuat kami berlima merasakan hal yang sama. Seperti menemukan sesuatu... yang langka." Jarinya memilin lembut rambut Jaemin. "Dan karena kau adalah dirimu. Ceroboh, polos, dan..." —pandangannya jatuh ke bibir Jaemin— "...irresistibly honest."

Sebelum Jaemin bereaksi, Hyunjin menyatukan bibir mereka dalam ciuman lembut —berlawanan dengan gairah Jeno. Manis, hampir ragu, seperti meminta izin. Jaemin kaku, lalu leleh, tangannya mencengkeram lengan Hyunjin.

Saat berpisah, Hyunjin terkekeh. "Lihat? Berbeda, kan? Jeno itu api liar yang membara. Aku lebih seperti... api unggun. Hangat, nyaman." Ia mengedip. "Tapi sama bahayanya jika kau terlalu dekat."

Tawa Jaemin gemetar. "Kalian semua tidak masuk akal."

"Tapi kau masih di sini," bisik Hyunjin, menelusuri garis rahang Jaemin. "Masih bertahan. Masih penasaran."

**

Siang itu, Vernon menemui Jaemin di perpustakaan yang tengah dikepung buku. Ia duduk di sebelahnya, senyum tahu di bibir. "Dengar-dengar pagimu sibuk."

Jaemin mengerang. "Apa semua orang tahu?!"

"Kami berbagi segalanya," kata Vernon santai, meski matanya tajam. "Termasuk bagaimana rasamu."

Jaemin hampir menjatuhkan kopinya. "A-Apa?!"

Vernon tertawa rendah. "Tenanglah. Kami tidak berbagi ciuman untuk merasakanmu. Tapi kami berbicara. Tentangmu." Ia mendekat, suara berbisik. "Kami berjanji, Jaemin-ah. Tanpa rahasia, tanpa cemburu. Hanya... kami. Berlima. Untukmu."

Nafas Jaemin tersendat. "Kenapa?"

"Karena kau layak untuk kekacauan ini." Ibu jari Vernon mengusap buku tangannya. "Dan karena kami egois. Kami tak mau berbagi dengan siapa pun —kecuali sesama kami."

**
Sosok misterius dari kafetaria — junior bermata tajam bernama Kai — menyergap Jaemin usai kelas. "Kaulah yang membuat mereka tergila-gila, ya?" sindirnya. "Lucu. Tapi naif. Kau pikir lima orang bisa menyukaimu tanpa merobekmu? Apa kau yakin tidak menjadi permainan mereka, seperti mainan baru yang menarik dan akan dibuang begitu bosan?"

Jaemin kaku. "Bukan urusanmu."

Kai mendekat, suara beracun. "Menjadi urusanku saat kau memonopoli perhatian. Mereka akan bosan. Dan saat itu..." Senyumnya mengembang. "Aku akan menunggu."

Sebelum Jaemin membalas, Taehyung muncul di belakang Kai, ketenangannya berubah jadi tatapan dingin. "Pergi. Sekarang."

Kai mendengus tapi pergi, meninggalkan Jaemin gemetar. Taehyung memeluknya, aroma kopinya menenangkan. "Abaikan dia. Kau milik kami. Dan kami melindungi milik kami."

**

Udara di kamar Jaemin terasa pengap oleh ketegangan yang tak terucapkan. Kelima seniornya duduk melingkar di lantai — Hyunjin bersandar di kaki sofa, Vernon memutar-mutar cincinnya, Jeno menatap kosong ke jendela, Taehyung mengatur napas pelan, dan Baekhyun... Baekhyun justru tersenyum getir, seolah ini adalah lelucon paling absurd yang pernah ia hadapi.

Jaemin menggigit bibir bawahnya sampai nyaris berdarah. Ini gila, pikirnya. Bagaimana mungkin mereka semua setuju? Bagaimana mungkin aku yang harus memilih?

Bayangan Jeno menghantui — panasnya nafas di leher, gemeretak suara rendahnya: "Kami bukan manusia baik, Jaemin. Tapi untukmu... kami mau belajar."

"Bagaimana membagi diri untuk lima orang? Aku bahkan kesulitan mengatur jadwal kuliah. Apa ini tidak akan menyakiti mereka? Aku benci melihat mereka cemberut saat berebut perhatianku kemarin..." Batin Jaemin yang sedang bertarung dengan dirinya sendiri.

Taehyung tiba-tiba bangun, suaranya seperti gergaji besi: "Kau tidak harus memilih semua, Jaemin. Kami sudah bicara. Jika kau hanya bisa menerima satu... sisanya akan mundur."

Jaemin tercekik. "Mundur...?"

Hyunjin tertawa pahit. "Ya. Aku akan jadi penonton. Vernon akan pura-pura tidak kenalmu. Jeno mungkin akan pindah kampus. Tapi..." Ia menatap Jaemin, "Kami sudah sepakat. Bahkan jika harus seperti itu."

Jaemin menatap kelimanya — monster-monster indah yang menganggapnya sebagai pusat semesta. Di luar, hujan mulai deras.

"Yang kutakutkan..." suaranya parau, "...adalah kalian akan menyadari bahwa aku tidak seistimewa yang kalian kira. Bahwa semua ini hanya ilusi dari program di otak kalian."

Taehyung tiba-tiba mengerang pelan. Jarang. Hampir tak terdengar.

Jaemin berjalan ke tengah lingkaran, tangan mengepal. "Tapi jika kalian mau mencoba... dengan segala kekacauan ini..."

"...aku mau. Aku mau jadi pusarannya."

Hyunjin bersorak, Vernon tersenyum, tatapan Jeno membara, Taehyung terkekeh, Baekhyun bertepuk tangan. Akhirnya hasil yang mereka harapkan tercapai.

"Kalau begitu," Baekhyun berbisik, "mari kami tunjukkan bagaimana rasanya cinta lima kali lipat."

Saat mereka mengelilinginya — tertawa, menyentuh, hidup — Jaemin sadar: ini bukan akhir. Ini awal.

Dan ia siap terbakar dalam api mereka.


To Be Continued..

Jangan Lupa Like and Comment nya ya~~

F For Five || MobxJaeminCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang