Sudah hampir tiga bulan setelah kejadian itu dan kini Gulf sudah mulai beraktivitas seperti biasa, ia sudah mengantar jemput anak-anaknya sekolah seperti biasa tapi ia belum bisa kembali ke Amerika karena Gulf belum mengingat semuanya, yang ia ingat ia memeliki suami di negara lain tapi ia merasa jika suaminya tidak pernah datang menemuinya.
"Kau kenapa? Sejak tadi Mami perhatikan hanya diam saja?"
"Gulf rindu dengan suami Gulf, Mam, kenapa dia tidak pernah datang menemuiku,"
Davikah hanya bisa menarik nafas bagaimana caranya ia memberitahu Gulf jika suaminya adalah Mew yang ia anggap sebagai uncle nya, melihat kondisi Gulf yang seperti ini jelas saja membuat Davikah tidak tega memisahkan Gulf dan juga Mew, apa lagi Gulf harus kehilangan anaknya pasti ia akan merasa sangat sedih saat Gulf sudah ingat tentang kejadian nahas itu.
"Bersabarlah, mungkin pekerjaannya tidak dapat ia tinggal,"
"Mam!"
"Ya!"
"Apa boleh, jika Gulf menyukai uncle Mew?"
"Maksudnya bagaimana?"
"Gulf mulai menyukai uncle, perhatian yang selalu uncle berikan membuatku merasa nyaman,"
"Itu terserah kau saja, jika kau nyaman dengannya, tidak apa-apa,"
"Tapi, bagaimana jika suami Gulf tau,"
"Coba kau ingat-ingat dulu, wajah dan nama suamimu,"
"Aku tidak bisa Mam, setiap Gulf mengingatnya yang terlintas wajah uncle, apa benar jika uncle itu memang suami Gulf?"
"Mami tidak ingin kau berpikir terlalu keras, jika kau memang nyaman bersama Mew lakukan saja, Mami tidak akan melarang nya,"
"Mam, kapan uncle pulang kesini? Sudah hampir satu minggu uncle pergi,"
"Kau bisa menghubunginya bukan?"
"Gulf tidak mau,"
"Kenapa?"
"Karena, Gulf akan semakin merindukan uncle,"
Mew memang sedang berada di Amerika seminggu yang lalu, karena perusahaan membutuhkan tenaganya, Jef tidak bisa menangani perusahaan sebesar itu seorang diri banyak klien yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Mew sedangkan Jef tidak bisa memutuskannya.
"Gulf mau kekamar dulu Mam,"
"Kau tidak makan siang dulu,"
"Nanti saja, Gulf belum lapar,"
Gulf pergi kekamar ia ingin menghubungi Mew, karena ia benar-benar merindukannya.
"Ada apa sayang?"
"Kapan uncle kembali?"
"Kenapa hmmm?"
"Aku merindukan uncle, anak-anak pun juga merindukan uncle,"
"Sabar ya sayang, lusa aku akan kembali menemuimu,"
"Aku menunggumu, selalu menunggumu kembali,"
"Kau sedang apa sayang?"
"Aku sedang di kamar, seperti biasa,"
"Jangan di kamar terus, kau bisa pergi jalan-jalan bersama anak-anak,"
"Tidak mau, karena tidak ada uncle,"
"Kan ada Win yang menemanimu,"
"Maunya sama uncle, dan aku ingin menonton film romantis lagi seperti waktu itu,"
