Satu bulan setelah memikirkan semuanya akhirnya kini mereka sudah berada di Thailand, Mew sudah merestui pernikahan mereka berdua walaupun awalnya membuatnya tidak setuju, namun saat melihat putrinya terus memohon mau tidak mau Mew mengiyakan dan pulang ke Thailand, dan kini rumah Davikah terlihat sedikit sibuk karena pernikahan itu akan di gelar dua hari lagi.
"Kau sedang apa sayang?"
"Aku merindukanmu uncle, apa kita tidak bisa bertemu sebentar saja?"
"Tidak bisa sayang, kita harus mengikuti apa kata orang tua, aku pun merindukanmu ingin memeluk dan menciumu,"
"Hanya itu saja, tidak ingin yang lain?"
"Apa?"
"Jangan pura-pura tidak tau, apa aku harus telanjang dan berfoto lalu aku kirim pada uncle?"
"Jangan mesum, sabar ya,"
"Aku tidak sabar, aku akan menemui uncle di apartemen,"
"Sayang, jangan, disini juga ada Paman dan Bibi, mereka mengawasi ku juga,"
"Kita bertemu di hotel saja,"
Sudah hampir satu minggu mereka tidak di izinkan bertemu karena bentuk seperti adat, membuat Mila tidak suka ia seperti terkurung dan hanya bisa lewat ponsel saja mereka bicara.
"Hanya sebentar uncle, Mila mohon,"
"Tapi, bagaimana jika nanti kita di marahi?"
"Mereka tidak akan tau, percayalah,"
"Baiklah, kita bertemu di hotel tapi tidak lama ya,"
"Iya cayang ku, muahhh..."
Mila pun merasa senang lalu ia menganti pakaiannya, sedikit berdandan agar terlihat cantik saat bertemu calon suaminya nanti.
"Kau mau kemana?"
"Keluar sebentar Pa,"
"Iya kemana?"
"Supermarket, Mila ingin membeli sesuatu,"
"Ajak adikmu,"
"Tidak mau, Mila pergi sendiri saja,"
"Awas sampai bertemu dengan uncle,"
"Tidak janji, bye Papa, Mila pergi dulu, cupp,"
"Mila!"
"Hanya sebentar Pa,"
"Ya Tuhan," Keluh Gulf.
"Bagaimana? Sekarang kau tau kan jadi Mami dulu seperti apa? Beruntung hanya satu putrimu yang sama persis sepertimu, jika keduanya kau akan lebih stres lagi,"
"Mami, hiksss..."
"Sudah jangan menangis, terima saja, lagi pula semua sudah terjadi tidak bisa di atur ulang lagi,"
Gulf harus menerimanya ini seperti sebuah dosanya pada orang tuanya dulu yang tidak mau menurut dan selalu membantah, dan kini putrinya yang mengikuti jejaknya beruntung Mila mendapatkan laki-laki baik seperti Zee yang mau bertanggung jawab.
Kini Mila sudah berada di hotel ia menunggu Zee dengan sabar, Mila tidak berhenti tersenyum membayangkan hal indah-indah yang akan mereka lakukan, lamunannya buyar begitu saja saat bel berbunyi dengan tidak sabar Mila membuka pintu itu dan melihat sosok yang ia rindukan selama hampir satu minggu lebih.
"Uncle!" Mila mendekap tubuh itu dengan kuat, rasanya ia tidak ingin melepaskannya lagi.
Zee memeluk tubuh ramping itu lalu menggendongnya membawa kearah kasur king size, lalu merebahkan nya secara perlahan sambil berciuman, lihatlah Mila akan terlihat sangat agresif membuat Zee selalu kualahan saat meladeni nya.
