Hari pernikahan itupun di gelar Mew dan Gulf akan mengucapkan janji suci di hadapan pendeta, seperti yang Gulf inginkan acara pernikahan itu hanya di hadiri oleh orang terdekat saja dari keluarga Mark ataupun hanya dari keluarga Davikah, tidak lupa keluarga Win pun turut Davikah undang karna biar bagaimanapun mereka sudah seperti saudara.
Sedangkan dari pihak keluarga Tuan Mike hanya beberapa orang saja yang bisa hadir itupun yang tinggalnya di Chiangmai karna kebanyakan saudaranya tinggal di luar negri.
Sejak tadi Gulf hanya melamun entah apa yang ia pikirkan, harusnya ia sudah keluar dari kamar dan menuju altar untuk menemui Mew yang sudah menantinya disana.
"Sayang!" Panggil Davikah, karna sejak tadi ia tidak melihat Gulf, "ayo kita keluar semua orang sudah menunggumu,"
Gulf hanya diam saja bahkan kini ia hanya meremat jari-jarinya dengan kuat, Davikah yang melihat putranya hanya diam saja pun lalu menghampirinya.
"Ada apa? Kenapa kau masih disini, apa ada yang sedang kau pikirkan?"
"Mami! Boleh Gulf peluk Mami," Jelas saja Davikah langsung memeluk Gulf, karna ia merasa jika putranya belum siap dengan pernikahan ini.
Gulf menyembunyikan wajahnya di perut Davikah ia menangis tanpa suara, namun Davikah tetap menyadarinya karna bahu Gulf sedikit bergetar.
"Sayang ada apa? Kenapa kau menangis?"
"Maafkan Gulf Mam, sungguh Gulf minta maaf, hiksss,"
"Katakan pada Mami, apa kau belum siap dengan pernikahan ini?"
"Entahlah, Gulf pun tidak tau,"
"Sayang dengar Mami, kau sudah mengambil keputusan, dan dari awal Mami pun sudah selalu mengingatkan padamu tapi kau tetap dengan kemauanmu bukan? Sekarang tidak ada yang perlu kau sesali hapus air matamu, dan pergilah ke altar karna Mew sudah menunggumu,"
"Apa tidak bisa, jika pernikahannya di undur saja? Gulf merasa jika Gulf belum siap,"
"Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran?"
"Karna Gulf tidak ingin, setelah menikah tinggal di Amerika, Gulf belum siap Mam,"
"Lihat Mami, kau tidak perlu memikirkan semua itu sayang, biar nanti Mami yang bicara dengan orang tua Mew,"
"Tapi daddy sudah sepakat dengan Papa nya, jika dia akan memimpin perusahaan setelah menikah, jika Gulf harus hidup terpisah lagi dengan daddy lebih baik kita tidak jadi menikah saja,"
"Jangan bicara seperti itu sayang, apa kau ingin membuat Papi dan malu karna semua tamu undangan sudah hadir dan hanya tinggal menunggumu, percayalah pada Mami semua akan baik-baik saja,"
"Harusnya dari awal Gulf mendengar apa yang Mami katakan, tapi Gulf selalu membantah, hiksss.."
"Sudah ya jangan menangis lagi, make-up nya jadi hilang kan,"
Davikah pun menghapus air mata itu dan mendandani Gulf lagi agar putranya terlihat cantik hari ini.
"Sudah selesai, ayo kita keluar jangan lupa kau harus tersenyum,"
Gulf pun mencoba seperti yang Mami nya katakan ia tersenyum walaupun hatinya menangis, lalu Davikah pun membawa Gulf keluar kamar dan menyerahkan putranya pada suaminya untuk mengantarkannya menuju altar.
Lihatlah semua mata kini tertuju pada Gulf yang hari ini benar-benar terlihat sangat berbeda, Gulf terlihat sangat cantik dengan balutan pakaian serba putih di tambah lagi senyuman yang menghiasi wajahnya membuat Gulf semakin terlihat sangat sempurna.
"Apa kau melihat, jika semua mata hanya tertuju padamu," Ucap Mark.
"Papi!" Gulf mengenggam tangan Papi nya begitu erat, ia merasa gugup karna semua orang melihat kearahnya, dan lihatlah Mew rasanya ingin menangis saat melihat calon istrinya terlihat sangat cantik.
