Benar saja keesokan harinya Mew benar-benar membawa Gulf pergi ke Maldives, meskipun Gulf sudah menolak namun Mew tetap memaksa, sedangkan anak-anak nya menolak untuk ikut semua.
"Kau benar-benar menyebalkan Dad, aku tidak mau pergi ke sini kenapa kau paksa,"
"Sayang, aku hanya ingin menyenangkanmu saja, lihat bukankah di sini pemandangannya sangat indah?"
"Aku tidak mau,"
"Tapi kenapa?"
"Kau pernah membawa, selingkuhanmu itu berlibur ke sini bukan?"
"Siapa yang kau sebut selingkuhanku? Aku tidak memiliki selingkuhan hanya kau yang aku cintai,"
"Dasar pembohong,"
"Aku tidak pernah bohong padamu,"
"Aku tidak pernah berbohong padamu, dasar laki-laki semuanya sama saja,"
"Maunya apa sih? Sejak kemarin marah-marah terus,"
"Berikan uang daddy padaku, semua,"
"Uang ku sudah aku berikan padamu semua, lalu apa lagi yang kau inginkan?"
"Aku ingin membeli pesawat,"
"Nanti akan aku belikan,"
Terkadang Gulf merasa bingung apa lagi yang akan ia minta dari suaminya, karena semuanya sudah ia punya yang belum mungkin hanya pesawat dan kapal pesiar saja.
"Sekarang pergilah mandi, setelah itu kita makan malam di restoran,"
Gulf yang masih merasa kesal pun lalu pergi ke kamar mandi, mungkin dengan ia mandi pikirannya akan terasa tenang kembali, setelah selesai mandi Gulf merebahkan dirinya ia merasa sangat lelah dan mengantuk dan pada akhirnya ia pun tertidur pulas.
Hiksss... Hiksss...
Mew yang tengah bermain ponsel mendengar suara tangisan istrinya pun langsung menghampirinya, lalu membangunkannya secara perlahan.
"Sayang, bangun,"
"Hiksss... Daddy jahat,"
"Ada apa sayang,"
"Jangan menyentuku, aku benci daddy,"
"Sayang, bangun kau kenapa?"
"Lepas!"
Gulf memberontak saat Mew memeluknya, bahkan ia memukuli Mew dengan menangis histeris.
"Gulf!!"
Mendengar suara teriakan Mew, seketika Gulf terbangun dan langsung memeluk Mew, ia menangis sedih entah mengapa mimpinya begitu nyata.
"Kau kenapa? Apa kau mimpi buruk?"
"Jangan tinggalkan aku Dad, aku mohon,"
"Apa yang kau katakan?"
"Tolong tetap bersamaku, jangan pergi bersamanya, aku tidak mau,"
"Sayang, apa maksudmu? Aku tidak mengerti,"
"Daddy mengkhianatiku, dan daddy lebih memilih dia,"
"Kau hanya bermimpi, jadi tidak perlu kau pikirkan, aku akan tetap bersamamu selamanya,"
"Tapi itu terlihat seperti nyata, daddy mengatakan padaku jika dia lebih baik, sedangkan aku hanya seperti anak kecil yang selalu membuat masalah, apa aku seburuk itu, bahkan di dalam mimpi pun daddy mengatakan itu padaku, jika daddy berniat meninggalkanku pulang kan saja aku pada Papi,"
Mew memeluk tubuh kurus itu dengan sayang, bagaimana mungkin ia memulangkan istrinya tanpa alasan yang tidak jelas, biarpun di luaran sana banyak yang jauh lebih baik tapi tetap saja istrinya tidak akan tergantikan.
"Kau tau, meskipun di luaran sana banyak yang jauh lebih baik darimu, tapi kau tetap yang terbaik untukku,"
"Daddy tidak akan meninggalkanku kan?"
"Tidak sayang, aku akan bersamamu dan anak-anak,"
"Daddy tidak bohong kan? Daddy tidak memiliki orang lain di luaran sana kan?"
"Tidak! Percayalah padaku, aku tidak memiliki siapa pun di luaran sana karena hanya kau yang aku punya,"
"Jika daddy bohong, lebih baik aku tiada,"
"Jangan bicara seperti itu, aku tidak suka mendengarnya,"
Entah mengapa akhir-akhir ini istrinya selalu mengatakan hal yang tidak-tidak, terkadang membuatnya merasa takut.
☀🌻
Setelah seharian hanya di villa, Mew membawa Gulf untuk pergi ke pantai agar istrinya tidak terus berpikiran yang macam-macam, namun istrinya itu tetap diam saja tidak ada senyum yang terpancar di wajah itu, meskipun Mew sudah mencoba membuat lelucon tapi tetap saja Gulf tidak tertawa.
"Apa kau tidak senang, kita berlibur ke sini? Jika kau tidak senang kita liburan ke tempat lain saja,"
"Aku senang berlibur di sini, maafkan aku jika aku membuat liburan kita seperti ini,"
"Aku membawamu liburan agar kau senang dan tertawa lepas, bukan membuatmu sedih seperti ini, jika kau tidak nyaman lebih baik kita pulang saja,"
"Tidak! Sesuai yang daddy inginkan kita akan berlibur di sini selama satu minggu,"
"Kalau begitu, tersenyumlah,"
Walaupun terpaksa Gulf mencoba untuk tersenyum, entah mengapa setiap mengingat mimpi semalam Gulf benar-benar tidak suka, bahkan mimpi itu seperti nyata.
"Kita makan malam dulu, kau pasti lapar kan?"
"Aku lapar, ingin makan sup ikan,"
"Baiklah! Apa pun yang kau inginkan akan aku belikan,"
Mereka pun pergi ke arah restoran Gulf sudah tidak sabar karena perutnya benar-benar sudah sangat lapar, namun tiba-tiba ia berhenti di toko oleh-oleh.
"Daddy, aku ingin membeli ini dulu ya,"
"Boleh!"
"Lihat Dad, ini bagus-bagus sekali, dan sangat lucu, aku akan membelikan untuk Leticia,"
"Jangan hanya baby, belikan juga untuk Alex,"
"Tapi untuk Alex apa? Aku bingung karena ini mainan hanya untuk perempuan,"
"Jika tidak kau belikan, nanti dia akan merajuk lagi,"
"Nanti aku cari di toko lainnya, siapa tau ada yang cocok untuk Alex,"
"Ya sudah, lebih baik kita makan dulu yuk,"
Restoran terlihat sangat ramai untuk memesan makanan pun harus bergantian.
"Lama sekali, perutku sudah sangat lapar,"
"Sabar sayang,"
Tidak lama makanan yang mereka pesan pun datang, namun yang membuat Gulf salah fokus adalah wajah sang pelayan yang sangat mirip di mimpinya tadi siang, yang menjadi selingkuhan suaminya.
"Ternyata kau memang ada di dunia nyata, dasar sialan,"
Byurr...
Gulf menyiramkan air ke wajah laki-laki itu, ia merasa kesal, belum hilang rasa kesalnya tadi siang kini ia semakin kesal karena di dunia nyata pun laki-laki itu saat ini sedang berada di hadapannya.
"Sayang, apa yang kau lakukan?"
"Diam! Jangan mengikutiku,"
"Tapi kenapa kau melakukan ini? Apa salahnya?"
"Salahnya, karena dia sudah berani merebut daddy,"
Tentu saja laki-laki pelayan itu merasa bingung, kenapa ia di tuduh berselingkuh sedangkan ia tidak kenal dengan salah satu dari mereka.
"Apa yang kau katakan? Bahkan kami tidak saling mengenal,"
"Dasar menyebalkan,"
Karena merasa kesal akhirnya Gulf pergi begitu saja, ia akan kembali ke penginapan dan lebih baik ia tidur, sedangkan Mew hanya bisa mengelus dada ia harus lebih bersabar lagi menghadapi istrinya yang seperti ini.
Bersambung...
❤❤
