Setelah berlibur selama dua hari kini mereka sudah kembali lagi ke Thailand, Gulf masih terlihat lemah bahkan tidak mau makan membuat tubuhnya semakin tidak memiliki tenaga.
"Sayang, aku pergi ke kantor sebentar ya,"
"Daddy tidak boleh pergi kemana-mana,"
"Hanya sebentar, aku janji,"
"Aku katakan tidak, berarti tidak,"
"Tapi ini penting sayang, setelah selesai aku akan langsung pulang,"
"Jadi pekerjaan daddy lebih penting, dari pada aku dan baby?"
"Bukan seperti itu, kau atau baby jelas lebih penting, tapi kali ini ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan,"
"Pergilah, jika perlu tidak usah pulang,"
"Jangan marah, aku janji hanya sebentar,"
"Ya sudah, pergi saja tunggu apa lagi,"
Gulf membuka pintu kamarnya dan menyuruh Mew untuk berangkat ke kantor, ia tidak akan bersikap kekanak-kanakan lagi jika suaminya mau pergi Gulf akan mengizinkan meskipun ia dalam keadaan menangis.
"Bagaimana aku akan pergi, jika kau tidak berhenti menangis seperti ini,"
"Tidak perlu mencemaskan ku, aku bisa menjaga diri dengan baik,"
"Sayang!"
Merasa sedikit kesal akhirnya Gulf mendorong Mew begitu saja, dan setelah itu ia mengunci pintu kamarnya, Mew berusaha membuka namun percuma saja.
"Sayang, buka pintunya jangan di kunci seperti ini, Gulf,"
Mew merasa khawatir terjadi hal buruk pada Gulf, apa lagi sejak kemarin Gulf tidak mau makan apa pun.
"Sayang, jangan bersikap seperti ini tolong buka pintunya, aku mohon,"
"Mew ada apa?"
"Dav, tolong suruh Gulf membuka pintunya,"
"Memangnya kenapa?"
"Gulf mengunci pintunya dari dalam, aku takut terjadi hal buruk padanya,"
"Tenanglah Mew, Gulf tidak akan se ceroboh itu, apa kau ingin pergi ke kantor?"
"Iya, karena ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggal,"
"Kau pergi saja biar Gulf aku yang menjaganya, tapi kau harus ingat jangan lama-lama perginya,"
"Aku hanya sebentar, aku janji,"
Setelah itu Mew pun pergi ke kantor karena ia sudah di tunggu, sungguh jika bukan karena hal penting Mew tidak akan pergi ke kantor dan meningalkan Gulf begitu saja.
Sudah hampir tiga jam Gulf tidak keluar kamar bahkan tidak ada tanda-tanda Gulf beraktivitas di dalam kamar membuat Davikah merasa khawatir, bahkan Davikah sudah mengetuk pintu kamar putranya itu tapi tidak ada jawaban, beruntung tidak lama Mark pulang.
"Papi, syukurlah Papi pulang cepat,"
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat sangat khawatir seperti ini?"
"Papi, Gulf sejak tadi ada di dalam kamar, dan tidak mau keluar Mami takut terjadi sesuatu padanya,"
"Kenapa Mami tidak buka saja pintunya?"
"Gulf mengunci pintunya dari dalam, Pap,"
"Mew memang tidak ada?"
"Mew ke kantor sejak tadi, katanya ada pekerjaan yang penting,"
"Biar Papi coba dobrak,"
Mark pun mencoba mendobrak pintu kamar Gulf sedikit keras tapi Mark tetap berusaha, karena ia pun penasaran dengan keadaan putranya.
