Setelah kejadian di restoran Gulf tidak pulang ke rumah, ia pergi ke suatu tempat yang tidak di ketahui oleh siapapun bahkan Win yang sebagai teman masa kecilnya, sudah menjelang malam Gulf belum ada kabarnya membuat semua orang merasa khawatir, Mew sudah mencoba menghubungi beberapa kali namun Gulf tidak menjawab panggilannya bahkan Mew sudah mencari dimana-mana namun hasilnya tetap nihil.
"Sebenarnya apa lagi yang terjadi pada kalian? Kenapa Gulf sampai menghilang seperti ini?" Tanya Mark.
"Papi, bagaimana ini, sudah hampir jam sembilan tapi Gulf belum juga pulang, Mami jadi khawatir,"
"Sebentar lagi, pasti dia pulang,"
"Ayo Pap, kita cari dia, karena biarpun dia suka membuat onar dan tingkahnya menyebalkan, dia tetap saja putraku yang aku sayang,"
Dan benar saja tiba-tiba pintu rumah terbuka lebar, Gulf datang dengan keadaan lelah dan langsung pergi ke kamar.
"Sayang!"
Bahkan saat Mew memanggilnya Gulf tetap tidak perduli.
"Sayang, kau darimana saja, aku mencari dimana-mana tapi tidak menemukanmu,"
"Menyingkir lah, aku lelah ingin istirahat,"
"Tidak, sebelum kau memaafkanmu, aku tidak akan menyingkir dari hadapanmu,"
"Maumu sebenarnya apa?"
"Maafkan aku sayang, aku janji tidak akan mengulanginya lagi,"
Mew tau jika istrinya sedang marah sungguhan padanya, pasti ini semua karena kejadian di restoran tadi sore, semua memang salahnya harusnya Mew memberitahu Andriana tentang status pernikahannya.
"Pergilah dari hadapanku, bukankah sudah aku katakan, jika aku tidak ingin melihatmu,"
"Sayang aku mohon maafkan aku, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi,"
"Jika kau ingin menikah lagi, katakan saja padaku, dan aku akan mengizinkanmu tapi sebelum itu ceraikan aku,"
"Kenapa kau bicara seperti itu? Demi Tuhan aku tidak pernah ada niatan meninggalkanmu, percayalah padaku jika aku tidak akan pernah lagi mengulanginya,"
"Bulsit dengan janjimu, sekarang kau berjanji dan besok kau ulangi lagi, setiap hari saja kau seperti itu,"
"Tidak sayang, tidak,"
"Lepas Dad, aku ingin istirahat,"
Setelah itu Gulf masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan sangat keras, lalu ia berjalan dengan sedikit tertatih karena ia merasa jika kedua betisnya sakit semua, bagaimana tidak sakit Gulf berjalan kaki dari halte Bis menuju rumahnya selama setengah jam.
Saat pergi meninggalkan Mew di restoran Gulf lupa tidak membawa uang sedangkan ponselnya tertinggal di dalam mobil, Gulf bingung ingin menghubungi siapa, ingin menghubungi Win ia sedang di luar negeri, beruntung sekarang ia sudah berada di rumah walaupun saat menaiki Bis tadi Gulf tidak membayar dan membuat banyak orang melihatnya aneh, berpakaian rapih seperti orang kaya tapi tidak punya uang itulah yang ada di pikiran mereka.
☀🌻
Tengah malam Gulf terbangun karena merasa haus, saat ia mengerakan kakinya ia merasa kesakitan, Gulf mencoba berdiri secara perlahan namun tetap tidak bisa dengan terpaksa Gulf merangkak untuk membuka pintu dan memanggil Mili.
"Mili, tolong Papa cepat,"
Bukannya Mili yang datang melainkan Mew, membuat Gulf jengah melihatnya.
"Sayang, ada apa kau berteriak malam-malam seperti ini? Dan kenapa kau duduk di lantai,"
"Pergilah Dad, kenapa kau masih disini?"
"Apa maksudmu bicara seperti itu?"
"Aku tidak ingin melihatmu ada disini, jadi kau bisa bukan di rumah saja,"
"Bagaimana aku di rumah, sedangkan kau dan anak-anak ada disini? Ayo cepat kau harus tidur lagi,"
"Tidak mau, daddy pergi sana,"
"Jangan membuatku kesal, jika tidak aku akan benar-benar menikah lagi seperti yang kau ucapkan,"
Gulf langsung terdiam dan menatap Mew dengan tajam, sedangkan Mew tentu saja merasa sedikit takut melihat istrinya menatapnya seperti itu.
"Pergi kau dari sini, aku benar-benar tidak ingin melihatmu lagi,"
"Aku tidak akan pergi,"
"Lalu untuk apa kau ada disini, hiksss... Jika kau sudah tidak menginginkanku lagi?"
"Siapa yang mengatakan itu? Aku masih mencintaimu dan ingin selalu bersamamu, karena hanya kau orang yang terakhir yang aku nikahi,"
"Dasar pembohong, aku membencimu,"
Mew benar-benar jengah melihat tingkah istrinya yang seperti anak-anak, tapi entah kenapa ia sangat mencintainya.
"Sekarang tidurlah kembali,"
"Tapi temani,"
"Aku akan menemanimu,"
"Daddy!"
"Apa lagi?"
"Kakiku sakit,"
"Biar aku pijat,"
"Pelan-pelan Dad, betisnya sakit sekali,"
"Memang apa yang kau lakukan?"
"Aku berjalan kaki, dari halte sampai rumah,"
"Kenapa bisa?"
"Karena, aku tidak membawa uang saat pergi dari restoran,"
"Kau memiliki ponsel kan, lalu gunanya untuk apa?"
"Ponselku tertinggal di mobil,"
Rasanya Mew benar-benar ingin menelan mentah-mentah istrinya, pantas saja ia menghubungi ratusan kali tidak ada jawaban ternyata ponselnya tertinggal di mobil.
"Lain kali, jangan kau ulangi lagi, apa kau mengerti?"
"I-iya, aku mengerti,"
"Tengkuraplah,"
"Untuk apa?"
"aku akan menghukummu,"
Mendengar kata hukuman membuat Gulf tersenyum, ia sudah membayangkan hal yang tidak-tidak, dengan senang hati ia membuka celana dan pakaian miliknya, setelah itu ia tengkurap seperti yang Mew katakan.
"Apa yang kau lakukan?"
"Daddy ingin menghukumku bukan? Jadi ayo kita lakukan,"
"Aku menyuruhmu tengkurap, supaya mudah saat aku memijat kakimu,"
"Ishhh... Sudahlah, daddy pergi saja sana,"
"Jangan marah, dan diamlah biar aku pijat kakimu, jika tidak kau akan kesakitan dan tidak bisa berjalan,"
Gulf hanya menurut walaupun ia merasa kesal, ia sudah membayangkan gaya apa yang akan ia pakai tapi malah gagal semuanya.
Bersambung...
❤❤
