Sejak kepulangannya dari rumah sakit Gulf lebih banyak diam, ia akan hanya menghabiskan waktunya di kamar namun biarpun begitu ia tidak pernah lupa tanggung jawabnya, seperti biasa Gulf akan tetap memasak untuk suami dan anak-anaknya.
Sejak lima belas menit yang lalu Mew terus memperhatikan Gulf, Mew melihat jika istrinya sedikit berbeda lebih banyak diam dan melamun, bahkan Gulf tidak menyadari kehadirannya dan saat Mew memegang bahunya barulah Gulf tersadar dari lamunannya.
"Daddy!"
Mew berjalan menghampiri Gulf lalu ia duduk di samping Gulf, membawa tubuh kurus itu kedalam pelukanya.
"Ada apa?" Tanya Gulf saat melihat tingkah Mew yang seperti ini.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau sering melamun akhir-akhir ini, apa ada yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak, memang nya apa yang aku pikirkan?"
"Sayang, jangan menyembunyikan apapun dariku, apa yang membuatmu tidak nyaman katakan padaku,"
"Aku baik-baik saja, seperti yang dokter katakan kemain,"
Apa yang harus Gulf katakan pada Mew, bukankah lebih baik ia menyimpannya sendiri tanpa harus di ketahui oleh Mew, jujur saja Gulf ingin sekali berbagi cerita pada suaminya tapi lagi-lagi ia tidak ingin membuat suaminya merasa bersalah, setiap kali melihat senyuman di wajah Mew membuat Gulf tidak tega memberikan kabar buruk ini padanya.
"Dad!"
"Iya sayang,"
"Bagaimana jika anak yang aku kandung ini bukan laki-laki, apa kau akan meninggalkanku?"
"Kenapa kau bicara seperti itu hmmm? Apapun jenis kelaminnya aku tidak masalah, yang terpenting kalian berdua sehat,"
"Tapi, bukankah daddy ingin memiliki anak laki-laki?"
"Tidak sayang, aku tidak akan menuntut apapun lagi padamu, sudah cukup bagiku memilikimu dan aku tidak mau yang lain lagi,"
"Maafkan aku Dad, jika aku masih banyak kekurangan dan tidak sempurna,"
"Bagiku kau lebih dari sempurna, aku yang merasa jika aku tidak sempurna, jadi jangan pernah mengatakan itu lagi,"
"Dad, baby ingin di usap,"
Gulf menaikan sedikit bajunya dan memperlihatkan perut ratanya, Gulf sangat senang saat Mew mengusap perutnya rasanya sangat nyaman saat tangan hangat itu menyentuh perutnya.
"Aku ingin tidur, Dad,"
"Tidurlah, akan aku temani,"
"Terimakasih,"
Saat sore hari seperti ini sangat nikmat bagi Gulf untuk tidur, entah mengapa ia sangat hobi tidur sekarang apa karena kehamilannya yang membuatnya seperti ini, tidak lama Mew mendengar suara dengkuran halus dan ternyata istrinya sudah tertidur pulas, dengan perlahan Mew turun dari atas kasur lalu ia menyelimuti Gulf agar tidak kedinginan, Mew ingin menemui Davikah karena ia ingin menanyakan sesuatu pada Ibu mertuanya itu.
"Dav, dimana yang lain?"
"Sedang pergi,"
Saat Mew menyapanya, Davikah tetap fokus melihat kearah televisi ia sangat malas melihat Mew karena rasa emosinya masih menguasai dirinya.
"Dav, aku ingin bicara padamu, sebentar saja,"
"Apa yang ingin kau bicara denganku?"
"Tentang Gulf,"
"Apa yang ingin kau ketahui tentang Gulf? Bukankah kau senang karena akhirnya kau akan memiliki anak lagi?"
"Tidak, bukan seperti itu, aku ingin tau apa ada yang sedang kalian sembunyikan dariku?"
