part 66

445 82 13
                                        

Satu bulan dua bulan dan kini sudah satu tahun berlalu, Mila benar-benar menutup komunikasi dengan Zee membuat laki-laki itu hampir gila karena merindukan Mila setengah mati, bahkan setiap hari Zee menghubungi Mili hanya sekedar ingin melihat atau mendengar suaranya namun tetap saja Mila tidak ingin bicara, hingga akhirnya saat ini Zee berada di Amerika karena ia sudah tidak tahan menahan rindunya pada Mila, diam-diam Zee pergi ke Amerika tanpa memberi kabar pada Mila namu ia memberitahu Gulf jika ia datang ke Amerika.

"Kau mau kemana?"

"Kampus sebentar Pa,"

"Sekalian kau antar makanan ini, ke apartemen,"

"Untuk siapa Pa? Dan apartemen yang mana?"

"Sudah bawa saja, nanti akan Papa kirim alamatnya,"

"Ya sudah, Mila berangkat dulu,"

"Hati-hati sayang, jangan terlalu kencang membawa mobilnya,"

"Iya Pa!"

Mila merasa bingung dan aneh sejak kapan Papa nya mengirim makanan pada seseorang, apa Papa nya itu memiliki selingkuhan di luaran sana, dan apa ini Papa nya menyuruhnya ke apartemen yang bahkan belum pernah ia kunjungi.

Setelah dari kampus Mila langsung pergi ke alamat apartemen yang sudah Papa nya kirimkan lewat ponsel, dengan ragu-ragu Mila menuju lantai tujuh belas lalu ia mencari unit nomor 202, Mila menekan bel beberapa kali hingga akhirnya pintu itu terbuka menampilkan sosok laki-laki bertubuh tegap dengan wajah tampanya, Mila sedikit terkejut namun sedetik kemudian Mila menghambur kepelukan laki-laki yang amat ia rindukan itu.

"Uncle, hiksss... Mila merindukan uncle, sangat merindukan," Tangisan Mila terdengar begitu sedih, satu tahun tidak pernah bertemu atau bertegur sapa membuatnya merindukan kekasihnya.

"Masih mau, seperti ini lagi?" Jawab Zee dengan mengusap sayang kepala Mila.

"Tidak, maafkan aku,"

"Mila tau, bagaimana rasanya merindukan bukan? Dan uncle tidak ingin kita seperti ini lagi,"

"Mila minta maaf uncle, Mila pikir semuanya akan sangat mudah namun setelah Mila jalani semuanya menjadi berat, bahkan setiap detik Mila merindukan uncle,"

Zee melonggarkan pelukannya lalu menarik dagu Mila agar melihatnya, lihatlah wajah cantik ini yang selalu Zee rindukan setiap hari bahkan hampir membuatnya gila, Zee menghapus air mata itu merapihkan rambut yang sedikit berantakan lalu menciumnya.

"Kau tau? Aku merindukanmu setiap hari, bahkan aku hampir mati karenamu,"

"Maafkan aku uncle, aku tidak akan memberi syarat apapun lagi,"

"Jangan membuatku gila Mila, aku tidak bisa jika tidak melihat atau mendengar suara mu,"

Mila masih sesenggukan ia masih belum percaya jika yang ada di hadapannya ini adalah orang yang ia rindukan, dengan perlahan Mila meraba wajah tampan itu wajah yang selalu ia rindukan hingga rasanya dadanya begitu sesak saat menahan rindu, Mila sedikit menarik kepala Zee lalu ia mengecup bibir itu awalnya hanya kecupan kecil namun kini menjadi sedikit panas, Zee meraih tubuh ramping itu lalu membawanya ke arah ranjang, Zee meletakkan Mila dengan perlahan setelah itu ia merangkak naik ke atas tubuh gadis itu, tidak memberi jeda Zee terus menyesap dan menghisap bagian tubuh Mila yang terekspos membuat Mila tidak tahan dan akhirnya mendesah pasrah.

"Uncle!"

Dengan nafas yang masih terengah-engah Mila membuka kancing baju milik Zee, setelah berhasil Mila membuangnya ke sembarang arah, kini ia pun membuka pakaiannya dan membuka pengait bra nya dan terlihatlah dua buah dada itu membuat Zee menelan ludahnya dengan sangat kasar, dan kini mereka sudah sama-sama setengah telanjang, Mila tidak berhenti menatap Zee dengan tangannya yang bermain abstrak di dada bidang itu.

Uncle Mew (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang