Caramela • Part 29

131 43 0
                                    

halooo! selamat datang di cerita CARAMELA versi terbaru!

⚠️ WARNING ⚠️
PLAGIAT DILARANG MAMPIR

happy reading!
•••

Ruangan kelas terasa sunyi. Semua siswa/i duduk rapi di kursi masing-masing, mendengarkan dengan saksama.

Di depan kelas, Lita, wali kelas 12 IPA 1, berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, menatap mereka satu per satu dengan mata penuh ketegasan sekaligus kelembutan.

"Hari Senin kalian akan menghadapi ujian kelulusan," suara Lita terdengar jelas, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Ujian ini bukan sekadar formalitas, tapi penentu perjuangan kalian selama tiga tahun ini. Saya tau banyak dari kalian merasa takut, khawatir, bahkan mungkin tidak percaya diri. Tapi ingat, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha."

Beberapa siswa/i menunduk, merenungi kata-kata Lita.

"Saya ingin kalian percaya pada diri sendiri," lanjutnya. "Jangan terlalu membebani diri dengan ketakutan akan kegagalan. Sebaliknya, siapkan diri sebaik mungkin. Belajar dengan giat, tetap jaga kesehatan, dan yang paling penting, jangan lupa berdoa. Usaha tanpa doa itu sombong, doa tanpa usaha itu sia-sia."

Caramela menggenggam ujung rok seragamnya erat-erat. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya belakangan ini, tapi kata-kata Lita seperti menamparnya pelan.

"Saya yakin kalian bisa. Kalian sudah belajar sejauh ini, melewati banyak ujian, dan sekarang tinggal satu langkah lagi menuju masa depan kalian masing-masing," Lita tersenyum tipis. "Apapun yang terjadi nanti, hadapi dengan tenang. Percaya bahwa kalian sudah memberikan yang terbaik."

Kelas masih hening, tapi atmosfernya terasa lebih hangat.

Beberapa siswa/i mulai saling bertukar pandang, ada yang mengangguk pelan, ada yang menarik napas dalam, berusaha menanamkan semangat dalam diri mereka.

Lita melangkah ke meja guru, menatap seluruh kelas sekali lagi. "Saya bangga pada kalian semua. Lakukan yang terbaik, dan jangan pernah meremehkan kemampuan diri sendiri."

Suasana tetap hening, tapi di dalam hati masing-masing siswa/i, ada semangat baru yang mulai tumbuh.

Bel istirahat berbunyi, membuyarkan keheningan dalam kelas.

Siswa/i mulai berkemas, ada yang langsung berdiri dan keluar, ada pula yang tetap di tempat sambil membuka buku catatan, mengulang kembali pelajaran yang akan diujiankan.

Caramela masih duduk diam di bangkunya, tatapannya kosong menatap papan tulis yang mulai dipenuhi coretan sisa pelajaran tadi.

Kata-kata Wita masih terngiang di kepalanya, tapi rasa takut dan gelisah tidak mau pergi begitu saja.

"Mel, lo gak mau makan?" suara Laura menyadarkan Caramela dari lamunannya.

Caramela menggeleng pelan. "Gak laper," jawabnya singkat.

Laura mengernyitkan dahi, duduk di samping Caramela. "Lo kenapa sih? Dari tadi diem aja. Ada yang ngeganggu pikiran lo?"

Caramela menghela napas panjang, tangannya meremas rok seragamnya. "Gue takut, Lau. Takut kalau ujian ini malah gak berarti apapun buat gue,"

Laura menatapnya bingung. "Kok gitu? Lo kan pasti lulus, Mel. Nilai lo bagus, selama ini lo juga gak pernah ada masalah di akademik,"

Caramela tersenyum kecut. "Bukan itu. Gue takut... masa depan gue gak sesuai sama apa yang gue harapin. Karena semuanya udah berantakan,"

Laura terdiam, mencoba memahami maksud ucapan Caramela.

Namun sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, suara gaduh dari pintu kelas membuat mereka menoleh.

Beberapa siswa/i sedang bercanda di depan kelas, melempar-lempar kertas ujian yang sudah dibagikan sebagai bahan latihan.

Namun, perhatian Caramela justru tertuju pada sesuatu yang lain.

Di lantai, tepat di depan pintu kelas, ada amplop cokelat yang tampak lusuh. Perasaannya langsung tidak enak.

Dengan hati-hati, Caramela berdiri dan berjalan mendekati amplop itu. Tangannya gemetar saat mengambilnya. Begitu dibuka, matanya membelalak.

Sebuah kertas lusuh berisi tulisan tangan yang sudah sangat dikenalnya.

"Yakin masih bisa fokus ujian?"

Jantung Caramela berdetak kencang. Tangannya mencengkram kertas itu erat, tubuhnya menegang.

Laura yang melihat perubahan ekspresi Caramela langsung ikut berdiri. "Mel, kenapa apa? Dapet surat itu lagi?"

Caramela menelan ludah. "Orang itu masih ngawasin gue,"

•••
don't forget to vote n comment ‼️

Caramela (SELESAI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang