🌹
Aku tak memilih sendu
Namun terkadang waktu
Menunjukkan kenangan rindu
Yang selalu berhasil menghancurkanku
🥀🥀
Caelum memandangi perkemahan yang dikelilingi oleh deretan pohon ketapang dan cemara. Sesekali, ia mengangkat rokok elektrik ke bibir, mengecap rasa manis, juga meresapi sensasi dingin yang masuk ke paru-paru. Pikirannya tidak berada di tempat teduh ini, pikiran Cael berkelana menuju ruang dan waktu yang berbeda.
"Tas yang isinya makanan di mana?" tanya Clarice dengan sebelah tangan mengusap perutnya. Pula nampak rengutan di sudut bibirnya.
"A bag full of snacks?" balas Cael bertanya.
"Yes! Tote bag hitam pink itu..." ucap Clarice manja.
Cael membenamkan pasak tenda ke dalam tanah. Sebelah tangannya mengambil tali dan mulai membuka untaiannya. "Kalau nggak ada di dalam tenda gue, berarti tinggal."
"HUH! Apa?" Clarice mengembuskan napas gusar. " Sesimpel itu jawabnya."
Caelum tak menggubris perkataan Clarice. Pemuda itu asik mengikat tali tenda ke pengait.
Tak lama, kembarannya itu kembali menyembulkan kepala dari balik celah pintu tenda. "Gue mau makan mie!!! Ini apaan sayur semua." Clarice mengeluarkan kotak makanan berisi sayur dan buah potong. "Gue mau yang hangat dan ngenyangin!"
Cael berdiri, ia merapikan jaket lalu melangkah ke arah Clarice yang berdiri di samping tenda. "Jangan ribet jadi cewek. Bawa barang itu yang nggak bisa beli di sini dan yang paling dibutuhkan aja. Kalau mau mie, bisa beli di warung dekat parkiran."
Senyum lebar dari wajah cantik Clarice terukir. Senyum yang selalu berhasil membuat siapa pun yang menatapnya terpesona. Tak ada duka yang berlarut bagi Clarice. Gadis itu selalu berhasil mengubah hari buruk menjadi hari penuh tawa. Saat dunia merenggut senyum itu, sebagian dari diri Caelum juga ikut terkubur.
Karena bagi Cael, Clarice adalah separuh napasnya.
"Gimana? Untuk pengaturan tempatnya udah setuju atau ada yang diubah?" tanya Galuh sebagai Ketua Acara.
Cael menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mencoba menghilangkan kenangan manis yang sempat membuat hidupnya berarti. Kini, kenangan dari senyum bahagia itu ternoda dengan guratan dendam yang membara. Dendam yang entah kapan bisa terbalaskan.
"Koordinasi dengan tim perlengkapan bagaimana?" Cael balik bertanya. Karena sejujurnya, ia tadi tidak mendengarkan penjelasan Galuh.
"Uki bilang sih, dia setuju dengan setting tendanya. Ketika acara puncak nanti juga nggak ribet membawa perlengkapan yang diperlukan oleh panitia."
Caelum sekali lagi menatap area perkemahan. Ada lebih dari sepuluh tenda yang terpasang saat ini. Beberapa siswa yang keluar dari tenda terdekat menatap kehadiran Cael dan Galuh di dekat tenda mereka. Bahkan tadi ketika awal kedatangan mereka, beberapa siswa ada yang menyapa keduanya dengan nada sopan. Berpikir bahwa dua pria yang memandangi tenda adalah pengawas senior mereka.
"Ok. Ada kendala dari divisi lain nggak terkait dengan job desk mereka?"
"Konsumsi tadi ada kendala bahan-bahan makanan. Mereka nanya pasar terdekat aksesnya berapa lama?"
"Memang nggak bisa mereka stok untuk dua hari tiga malam?"
"Hmmm... itu nanti lo tanyain ama Relli. Dia tadi udah chat lo, tapi nggak dibales." Galuh menekan tombol lock ponselnya, lalu memasukkan benda pipih itu ke saku jaket khaki yang ia kenakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ᴄᴀᴇʟᴜᴍ (⏸️)
Teen Fiction✨Series kedua dari ᴍᴇᴛᴀɴᴏꞮᴀ✨ Duka itu akan selalu ada, terpatri di dalam hati. Dari setiap cerita yang diulang, akan selalu menghantui. Tapi baginya, tidak ada kata sembuh. Karena terkadang, sakit itu kembali kambuh. Rekaman yang Cael temukan, menj...
