37~CAGARA

1.5K 88 8
                                        

Hallo

•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.













Matahari baru saja menyorotkan teriknya, namu keributan kecil sudah tercipta. Melibatkan dua pemuda berbeda gender, sungguh membuat siapa saja menggelengkan kepala dibuatnya.

"Ya, bantu cari makanya! Lo ngeburu-buruin dong bisanya!" Cagara mendumel, melirik sinis Killa yang besedekap dada menunggunya.

"Lagian ngapain berangkat pagi buta," dengus nya kembali.

"Ya udah sih, sana cari aja! Lagian udah di tata di tempatnya segala di berantakin," omel Killa. Hanya perkara dasi dan ikat pinggang membuat pagi mereka tampak masam.

Cagara kembali mengobrak-abrik almari nya, membuat Killa menghela napasnya panjang. Merasa bosan, Killa mendudukkan dirinya pada bibir ranjang sembari mengusap perutnya yang kian terlihat menonjol.

"Ini apa?" tanya Killa begitu dirasa kakinya menginjak sesuatu. Kepalanya menunduk, melihat kepala ikat pinggang Cagara yang tidak sengaja diinjak nya.

Cagara mendengus, diraihnya ikat pinggang itu lantaran Killa kesusahan untuk menggapainya. "Kenapa bisa di situ? Lo pasti yang ngumpetin!" tuduhnya.

"Apa? Lo semalem pulang main asal lepas kali. Malah gue yang dituduh," elak Killa yang tiba-tiba saja mendapat tudingan.

"Udah, kan? Ayo cepet berangkat," ujar Killa. Perempuan itu meraih tasnya dan beranjak.

"Dasi gue mana?" tanya Cagara.

Killa menghentikan langkahnya yang baru saja akan menghapai handle pintu. "Belum ketemu juga?" tanyanya lelah.

"Udah diacak-acak begitu belum ketemu? Biasanya juga ada gue taruh dihenger baju." Perempuan itu mendekat, mencari satu persatu pada henger baju seragam.

"Ini apa? Ada, Gar, ada," ujar Killa menunjukkan barang yang Cagara cari.

Cagara berdecak, mengamati henger seragam itu. "Itu hanger seragam lo! Ngapain punya gue di situ?" tudingnya.

"Lah, iya. Salah berarti," balas Killa seraya mengembalikan henger itu pada tempatnya.

Cagara berlalu meninggalkan Killa, memasang asal dasinya itu. Membuat Killa hanya menggelengkan kepalanya mendapati itu.

Bangunan sekolah masih nampak sepi, bahkan hanya ada beberapa motor di parkiran. Cagara tentu mengomel lantaran Killa memaksanya untuk berangkat lebih awal.

"Ujian gini udah pasti dateng mepet!" ujar Cagara begitu Killa turu dari motornya.

"Biarin, malah lebih tenang buat belajar," balas Killa. Perempuan itu memberikan helmnya pada Cagara, kemudian berlalu meninggalkan laki-laki itu.

CAGARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang