38~CAGARA

1.7K 83 11
                                        

Hallo

•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




















Hari penuh haru tiba pada penghujung perpisahan, segala senang, sedih, suka dan duka telah menjadi kenangan. Tempat di mana mereka pertama berjumpa hingga memiliki ribuan cerita, esok hanya bisa didatangi tanpa bisa mengulang segala ribuan cerita itu.

Banyaknya usaha yang selalu diperjuangkan, kini telah usai. Tempat berkeluh kesah yang berakhir gemaan tawa, esok akan menjadi milik penerusnya. Lantai dingin yang menjadi tempat untuk tidur di kala jam kosong pelajaran, esok tidak akan terjamah lagi.

Bayangan demi bayangan terbesit pada ingatan, kenangan akan menjadi riwayat yang tidak akan pudar. Semoga selalu terkenang meskipun termakan usia.

Saling merangkul dan berpelukan dengan temennya, menyalurkan rasa terimakasih dan rindu yang mungkin nanti akan datang. Jika masih masanya mungkin akan kembali berjumpa, namun jika masanya telah usai mau se berusaha apapun akan tetap asing. Perbedaan jalan yang ditempuh akan membawa mereka berkelana dengan masa depannya.

"Jangan lupain gue, bro!" ujar Zeifan di tengah rangkul mereka.

"Pokoknya gue pastiin kalian paling ingat sama gue," lanjutnya. Diusap nya kasar ketika cairan bening lolos dari ekor matanya.

"Ibarat sedarah, nggak mungkin lupa," kata Devin.

"Apart gue masih boleh jadi basecame." Tama menimpal, laki-laki itu menepuk bahu temannya yang di rangkul.

"Masih ada Bristledark, nggak akan bubar," ujar Cagara.

"Iya, lah! Yakali bubar, harus makin gede pokoknya! Gue pantau terus nanti," timpal Zeifan. Laki-laki itu terkekeh mengingat awal mula gang motor itu terbentuk.

Mereka melepaskan rangkul satu sama lain ketika lagu perpisahan telah usai. Setelahnya meninggalkan area pelepasan, berpencar untuk mengabadikan momen-momen yang mungkin memakan cukup banyak waktu untuk berjumpa kembali.

Terlihat Killa sudah berada di samping nenek Willya dan Rizhan yang menemani, juga para orang tua ketiga laki-laki itu.

"Anak bunda, MasyaAllah juara pararel," sambut bunda Devin. Dipeluk nya penuh sayang anak laki-laki nya itu.

"Anak-anak bunda sini, nak. Selamat ya, kalian sudah berhasil," ujar bunda Devin pada ketiga teman anaknya.

"Anak mami juga, itu semua. Mami nggak di peluk juga?" tanya mami Tama yang melihat anak-anaknya memeluk bunda Devin.

"Cucuk nenek!" seru Zeifan iseng. Bukannya beralih memeluk mami Tama, laki-laki itu berlalu memeluk nenek Willya.

"Sehat-sehat ya, nek. Tunggu Zeifan sukses, Zei kan cucu kesayangan nenek. Cagara mah lewat," ujar Zeifan.

CAGARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang