"CEWEK SIALAN! Berani banget Lo sama gue!" Ya, kurang lebih umpat seperti itu selalu lolos setiap harinya dari bibir seorang CAGARA KHALAFA DAEIRLANGGA.
°°°
Kejadian malam itu merubah segalanya bagi dua remaja berbeda gender.
°°°
Kehidupan yang abu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Killa tampak sibuk di pagi yang masih nampak petang, mengusik Cagara yang masih nyenyak dengan tidurnya. Setelah dikira segala macam kebutuhannya sudah masuk pada totebag nya, Killa beranjak tanpa memperdulikan Cagara yang masih terlelap.
Dua piring nasi goreng dengan toping telur mata sapi dan sekotak bekal Killa tinggalkan pada meja makan. Hingga suara derum motor terdengar oleh pendengarannya, membuat perempuan itu segera menghabiskan segelas susu yang masih tersisa.
"Gara belum bangun?" tanya laki-laki yang baru saja melepas helm nya begitu melihat Killa berjalan ke arahnya.
Killa menggeleng menanggapi. "Gara mah mana mungkin bangun jam segini," katanya.
"Sorry gue bawa motor ini, matic nya mau dipake mami. Lo nggak apa-apa?" tanya laki-laki itu setelah membantu Killa memasang helm nya.
"Santai aja, bisa kok ini," jawab Killa menyakinkan. Perempuan itu mendudukkan dirinya di jok dengan space yang tidak begitu luas.
"Ayo, nanti keburu macet," lanjutnya ketika mereka tidak kunjung beranjak.
Laki-laki berperawakan tinggi di depan Killa itu membalikkan setengah badannya, mengamati Killa sejenak. Setelahnya laki-laki itu melepaskan jaket yang digunakannya lalu mengikatnya pada pinggang Killa.
"Jangan dilepas, biar nyaman di jalan," ujar laki-laki itu ketika Killa hendak melontarkan suaranya. Membuat perempuan itu tak lagi mengernyitkan dahinya dan mengangguk paham.
Motor hitam yang mereka tumpangi itu berhenti pada area parkir sebuah bangunan luas. Belum cukup ramai, tetapi napak seseorang yang menyapa dari kejauhan setelah mereka turu dari motor besar itu.
"Untung udah sampai lo. Bu Dwi cerewet banget dari tadi teleponin gue, padahal masih jam segini," cerocos laki-laki yang sedari tadi menunggu keduanya tiba.
"Maaf, ya, Dev. Aku kira kamu belum dateng makanya aku suruh Tama hati-hati aja," ujar Killa merasa tidak enak.
Laki-laki di sebelah Tama itu tertawa kecil. "Nggak apa-apa kali, gue juga baru sampai sebenernya. Cuma itu guru emang nyebelin banget nyuruh-nyuruh cepet samperin beliau," balasnya.
"Lah, lo nggak langsung ke sekolah, Tam?"
Tama menoleh pada temannya itu. "Gue di undang, lupa lo?"
Devin cengengesan dibuatnya. "Lupa gue, turnamen kemarin satu lembaga."
"Ini jadi nemuin Bu Dwi nggak, ya?" tanya Killa yang mengamati interaksi dua laki-laki itu.
"Astaga! Iya, lupa gue gara-gara si Tama." Devin menepuk dahinya kemudian mengajak Killa agar bergegas.