39~CAGARA

3.4K 119 35
                                        

Hallo

•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.






















Di teras rumah dengan langit jingga yang menemani, Cagara duduk bersama Killa. Bagai kekasih yang saling melengkapi penuh sayang. Mereka duduk berbeda bangku, dengan Cagara mengusap perut Killa. Di kehamilannya yang hampir delapan bulan itu, perut Killa tidak nampak besar. Menjadi keuntungan ketika masih sekolah beberapa waktu lalu, walaupun tetap ada yang menduga dirinya tengah berbadan dua.

Perut Killa bergelombang, membuat Cagara dan Killa berdesir. Ditengah usapannya itu, Cagara melantunkan sebuah amalan yang pernah dirinya dengar.

Haanah waladat maryam, wa maryam waladat 'iisaa, ukhruj ayyuhal mauluudu bi qudratil malikil ma'buud. Allahumma shaali 'alaa sayyidinna muhammaddin sahhil wa yassir maa ta'assar

"Ciee, ciee, bang Gara." Suara yang terdengar mengejek itu menghentikan usapan Cagara pada perut Killa.

Bocah berbadan gemoy terlihat berjalan mendekati mereka. Bersiul-siul dengan wajah mengejek pada dua sejoli yang juga menatapnya.

"Kalo kata bang Zeifan mah romantis," kata bocah itu.

Cagara terdiam mendengar itu, Killa yang menyadari itupun mengusap lembut punggung tangan Cagara. Lalu digenggamnya telapak tangan Cagara untuk kembali mengusap perutnya.

"Mizhan sore-sore udah mandi belum? Kok malah main hayo," tanya Killa memincingkan matanya menatap anak itu.

"Udah dong, kak La. Terpancar ini lho gantengnya berkali-kali lipat dari bang Gara," balas anak itu sembari mengguyar rambutnya kebelakang.

"Ih anak kecil bisa-bisanya." Killa terkekeh melihat kelakuan bocah itu.

"Anak kecil mana yang berani di rumah sendiri? Nggak ada kak La, berarti aku bukan anak kecil," sangkal Mizhan.

"Ke mana lagi mami papi lo?" tanya Cagara.

"Lupa, bang Gara. Habisnya kemarin ke sana, sekarang kemana lagi, besoknya kemana lagi," jawab Mizhan menyerukan sedikit unek-unek nya.

"Kamu nya nggak main ke sini, padahal tinggal panggil aja nanti kak La temenin," ujar Killa.

"Kemarin-kemarin kan bang Gara sama kak La sibuk belajar," jelas Mizhan mengingat dua remaja itu tengah dilanda sibuk untuk menyiapkan diri menghadapi ujian-ujian kelulusan yang akan ditempuh.

Benar adanya, bocah itu juga tahu waktu kapan akan merusuh. Meskipun baru saja akan lulus sekolah dasar, bocah itu mampu mengerti orang sekitarnya dengan baik.

"Sini, duduk. Kak La mau ambilin cemilan dulu." Killa beranjak berniat mengambilkan cemilan dan minum untuk mereka.

"Nggak usah, aku duduk sini aja, nih. Bentar lagi aku pulang, nggak usah ambil cemilan," cegah bocah itu.

CAGARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang