"CEWEK SIALAN! Berani banget Lo sama gue!" Ya, kurang lebih umpat seperti itu selalu lolos setiap harinya dari bibir seorang CAGARA KHALAFA DAEIRLANGGA.
°°°
Kejadian malam itu merubah segalanya bagi dua remaja berbeda gender.
°°°
Kehidupan yang abu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara keributan yang menggema dari salah satu bilik ruangan mampu mengalihkan perhatian siapa saja yang menginjakkan kakinya pada pintu utama rumah. Teriakan, isakan serta tangis pilu terdengar begitu nyaring. Hingga seseorang dengan penampilan jauh dari kata rapi keluar dari salah satu bilik itu. Dua pasang sorot mata saling beradu, antara menatap gusar dan menatap penuh intimidasi.
"Apalagi Cagara?" tanya wanita paruh baya yang belum beranjak setelah membuka pintu utama rumahnya.
Tampak laki-laki yang ditanyanya itu mengepal kan jari-jari tangannya kuat. Napas memburu dapat terasa walau hanya melihat bagaimana dada bidang laki-laki itu yang naik turun tidak beraturan.
"Mau apa kamu?" tanya wanita paruh baya itu dengan tatapan tajam meski matanya sudah terlihat sayu.
"Kamu itu nggak pernah bisa untuk kontrol emosi, pakai kepala dingin, selesaikan semuanya baik-baik tanpa adanya suara tinggi dan kekerasan," ujar sang nenek yang berlalu menuju kursi usang. Menatap cucu kesayangannya yang masih setia pada egonya.
"Cagara, kamu sudah dewasa. Tolong untuk lebih terarah lagi, tidak selamanya nenek akan membersamai kamu, tidak selamanya nenek akan menjadi penengah." Wanita paruh baya itu menatap penuh harap, berharap cucunya itu tidak salah dalam pilihan untuk melangkah.
"Selalu nenek usahakan untuk tidak secepat itu meninggalkan kamu, mau nenek pastikan dahulu bahwa cucu yang selalu merengek ketika usahanya tak kunjung berhasil dan sorak gembira yang terpancar ketika banyaknya gagal setidaknya ada satu keberhasilan diujung usahanya itu, benar-benar tumbuh dengan baik. Tidak lagi mempertanyakan kapan keberhasilan itu tergenggam, kapan kebahgiaan itu kembali, kapan semua itu usai," rentetan panjang tersuarkan oleh bibir yang kian mengeriput termakan usia.
Cagara menundukkan dalam kepalanya, jari-jari tangannya pun semakin kuat mengepal. Kakinya tidak kuat lagi untuk berdiri, laki-laki itu menumpukan lututnya di lantai. Bak terhantam batu, dadanya teras teramat sesak. Melihat wanita paruh baya yang selalu membersamainya selama kurang lebih sembilan belas tahun, merawat juga mengusahakan apapun untuknya.
"Bagaimana pun kesalahan itu, mau disengaja ataupun tidak. Murni kesalahan yang kamu perbuatan atau campur tangan orang lain. Tolong jangan menyimpan dendam yang teramat, tanggung jawab mu tetap tanggung jawab mu," nasihat wanita paruh baya itu. "Tolong bertanggung jawab dengan benar, berdamai dengan semua yang kamu rasa membebani dan menyakiti," lanjutnya dengan harapan penuh pada cucu laki-laki nya.
"Selesaikan, ya?"
Wanita paruh baya itu beranjak, mendekat pada cucunya yang terdiam membisu. "Nenek percaya cucu nenek ini bisa," ujarnya sembari mengusap penuh sayang surai Cagara.