Judul: Under the Red Light
Berdasarkan Lirik:
"Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi / Aku masih menunggumu di sini"
Kamar hotel itu sunyi, hanya diterangi oleh lampu jalan dari balik tirai yang sedikit terbuka, memberikan cahaya kemerahan yang redup. Red light. Chan duduk di tepi tempat tidur, lengannya bertumpu pada lutut, menatap ponsel yang layarnya gelap. Pukul 03:07. Ia sudah menunggu selama dua jam. Janji mereka jam satu. Tapi Hyunjin selalu seperti ini. Selalu membuatnya menunggu. Dan Chan selalu menunggu.
"Tidak ada yang bisa menyelamatkanku / Di dalam ruang sempit ini"
Rasanya seperti terperangkap. Udara terasa berat, penuh dengan antisipasi dan kecemasan yang sudah terlalu akrab. Setiap detik tanpa Hyunjin di sisinya terasa seperti ruang yang menyempit, mendesak dadanya. Tidak ada ponsel, tidak ada musik, tidak ada pekerjaan yang bisa mengalihkan pikirannya. Hanya keheningan dan bayangan Hyunjin.
"Tidak ada yang busa menyelamatkanku/ Di dalam ruang sempit ini"
Pernah suatu kali, setelah pertengkaran hebat, Chan benar-benar pergi. Naik pesawat ke Sydney, mencoba kembali ke kehidupan lamanya yang normal. Tapi di pantai Bondi yang cerah sekalipun, ia melihat siluet rambut panjang dan bahu yang ramping di setiap kerumunan. Di setiap senyuman, ia mencari senyuman sinis yang ia kenal. Ia kembali dalam tiga hari. Gagal melarikan diri.
"Red light, stop right there / Jangan pergi lebih jauh"
Pintu kamar hotel terbuka dengan bunyi kartu kunci. Hyunjin masuk, wajahnya pucat oleh riasan panggung yang belum sepenuhnya luntur, matanya lelah namun masih berkilau dengan sesuatu yang liar. Ia melemparkan jaketnya ke lantai.
"Kau terlambat," suara Chan serak.
Hyunjin hanya mendongak, menantang. "Kau tetap menunggu, kan?"
Chan berdiri, mendekat. "Selalu."
"Tahukah kau bahwa aku tidak bisa meninggalkanmu?" Chan membisikkan lirik itu, bukan sebagai pertanyaan, tapi sebagai pernyataan fakta yang pahit. Tangannya meraih dagu Hyunjin, memaksa mata mereka bertemu. "I can't leave you. Even if I wanted to." (Aku tidak bisa meninggalkanmu. Bahkan jika aku ingin.)
Hyunjin tersenyum tipis, sebuah ekspresi kemenangan yang sedih. "Aku tahu."
", kamu adalah segalanya bagiku / Tanpamu, aku hanyalah bayangan"
Chan menarik Hyunjin ke dalam pelukan, erat, seolah mencoba memadukan mereka menjadi satu entitas. Ia mencium leher Hyunjin, menghirup wangi parfum dan keringat panggung.
Di sini, dalam pelukan ini, Chan merasa utuh. Di luar ini, ia hanya Bang Chan pemimpin Stray Kids, sebuah topeng yang ia kenakan untuk dunia. Tapi Hyunjin… Hyunjin adalah intinya. Obsesinya. Kebutuhannya.
"Aku tidak bisa bernapas tanpa kamu berada di sisiku" (I cannot breathe without you being right by my side) Chan mengatakannya ke kulit Hyunjin, suaranya parau dan penuh pengakuan. Setiap tarikan napas terasa seperti usaha ketika Hyunjin tidak ada. Kehadiran Hyunjin adalah oksigennya, sekaligus racun yang perlahan-lahan melumpuhkannya.
Hyunjin mendongak, matanya berbinar di bawah cahaya merah. "Kalau begitu jangan pernah lepaskan."
"Bahkan jika dunia ini berakhir / Aku akan tetap memilihmu"
KAMU SEDANG MEMBACA
hyunjin harem
Fanfictiontentang hyunjin dan para haremnya Konsumsi pribadi Klo ngak suka ya udh terserah Vote aja klo mau Maaf weeee sering ilang hehe Random ae Malas ngetik Update kalo udh ada 35 mata Dan klo udh 10 vote Update klo ide lancar Ak ngetik pakai AI Udh tau...
