Akhir.

1.2K 110 29
                                        

Ninda mengemas semua barang-barang miliknya kedalam dua koper besar berwarna biru muda itu dengan tergesa-gesa. Sembari menghapus air mata yang tak kunjung surut dari pelupuk mata, ia mengigit bibirnya untuk memaksa tangisan itu berhenti.

Kemarahan sudah jelas di depan mata, ia bahkan sudah booking tiket dengan jadwal tercepat untuk pulang ke Jakarta. Gak perduli kalau sang istri tak tahu menahu soal kepulangan dadakan ini.

"Lo yakin?" Tanya Windy dari speaker ponsel yang ternyata masih tersambung, mungkin sudah satu jam durasi panggilan itu telah berlangsung.

"Kenapa harus gak yakin, dia udah gak sayang gue, Win" ucap Ninda lagi semakin histeris menangis, cukup kalut sama perasaannya sendiri.

Maklum di usia pernikahan yang baru menginjak satu tahun itu, bikin mood Ninda naik turun, persis rollercoaster. Faktor perbedaan usia yang tipis, dan juga faktor kesibukan mungkin jadi pemicu utama.

"Tapi kan, masih bisa di bicarain baik-baik, Ninda. Kalau dia mau cerain lo karena hal ini, gimana?" Nada suara kesal dari Windy terdengar nyaring, meski terhalang jarak ribuan kilometer, Ninda bisa tahu dengan jelas bagaimana mimik dari wajah ibu satu anak itu tercipta.

Sejak masa sekolah hingga sampai berumah tangga gini pun, Ninda masih sama di matanya, terlalu kekanakan. Begitu pikir Windy, walau usia sudah kepala tiga lebih pun, perempuan itu masih terlalu hanyut sama isi pikiran sendiri.

"Mau gimana lagi, udah takdir gue kali jadi janda"

"Huh!! Sembarangan banget!!" Elak Windy lagi disebrang panggilan mereka, ia lalu diam sebentar, mungkin menimang kata-kata yang bakal dia ucapkan untuk menenangkan sobat karibnya itu.

"Yaudah, lo tenangin diri deh. Flight lo jam berapa?"

"Setengah tujuh, Win"

"Masih ada dua jam buat lo mikir, Nin. Nanti kalaupun keputusan lo udah mantep, gue sama Cindy bakal jemput lo di bandara. Okay? Sekarang tarik nafas yang dalam, buang pelan-pelan. Nah, pinternya temenku.. yaudah gue matiin ya, anak gue nangis, ketularan sedih lo kayaknya" ucap Windy terakhir kali sebelum benar-benar mematikan sambungan panggilan.

Ninda terdiam di posisinya agak lama, setelah mengikuti seluruh intruksi dari temannya itu, ia pandangi koper yang di letakan di samping pintu kamar itu dengan sendu, sedikit berpikir; apakah keputusan yang dia ambil sekarang merupakan keputusan yang tepat. Meninggalkan rumah yang hampir menemaninya selama satu tahun lebih ini, dengan penuh kenangan cinta kasih bersama orang yang paling sayang.

Nasi sudah menjadi bubur, kan? Ia letakan cincin yang selalu bertanggar di jari manis itu, tepat di sebelah pigura sepasang kekasih dengan gaun pengantin, yang tampak tersenyum bahagia sekali.

Ironi,

Ninda menghembuskan nafasnya sekali lagi, sesaat ia mendengar deru mesin mobil yang mungkin baru terparkir di depan rumah mereka.

Gisella telah pulang. Kepulangan yang mungkin tak lagi ia harapkan sekarang, terlalu takut menatap raut wajah kecewa dari pasangan yang telah melamarnya tiga tahun lalu itu dengan penuh tekad.
Ninda jelas tahu, kalau wanita lebih tua itu akan jauh lebih marah mendengar penjelasannya, ia juga tahu kalau kepulangan mendadak istrinya itu sebab laporan Windy yang mungkin panik akan situasi rumah tangganya.

Klek,

Suara gagang pintu yang terbuka pelan, terdengar begitu nyaring di telinga nya, ia jelas sudah pasrah jikalau jemari Gisella mungkin akan mendarat di pipinya, toh dia memang pantas mendapatkan hal tersebut.

"Sayang" sebuah suara serak kini menyapa seluruh ruangan yang sepi senyap, sementara Ninda masih menunduk pada posisi duduk bersilanya, terlalu enggan menatap lawan bicara yang kini kian mendekat.

Pretend LoversTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang