Dengan gugup, Ninda mengetuk pintu berwarna coklat tua itu dengan pelan, hanya dua kali ketukan, sudah terdengar sebuah suara menggelegar dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk.
"Sore, Pak. Katanya mau panggil saya, ya?"
Pria yang berumur matang kebangetan itu, mengangguk. Lalu mempersilahkan Ninda untuk duduk.
"Begini, Ninda. Mulai minggu depan kamu saya promosikan untuk jadi asistennya Bu Kanaya, gantiin posisi Cindy. Itupun kalau kamu bersedia"
Ninda menelan salivanya, sedikit terkejut sama tawaran barusan.
"Emang si Cindy nya mau kemana, Pak?" Tanya nya dengan polos, sebab akhir-akhir ini terlalu sibuk menggalau ria, dan ngeladeni gebetan baru. Bikin Ninda jadi gak tau sama berita sekitar, terutama soal teman baiknya itu.
Pak Anton terkekeh geli, ia mengelus jenggot panjangnya sesekali sembari melemparkan sebuah undangan.
"Kamu gak tau? dia mau nikah bulan depan. Cindy itu anak bontot saya, kerja disini cuma itungan magang, belajar dulu sebelum bisa pegang perusahaan. Tapi berhubung dapet calon yang bukan orang sini, harus pindah kesana setelah nikah" ujar Pak Anton panjang lebar, dengan bangga ia menceritakan siapa sosok anaknya yang ia biarkan kerja dari posisi bawah, dan cukup bangga karena tak satupun pegawai yang tau soal penyamaran itu.
Ninda cuma bisa cengo, masih bengong buat memahami setiap kata yang keluar dari mulut atasannya tadi. Kok bisa fakta hidup se-plot twist ini? Gak bercanda kan?
"Sudah, pikirin baik-baik yaa. Sekalian nanti saya minta tolong kamu sama Windy jadi bridesmaid anak saya. Pasti dia suka gak enakan minta tolong orang sekitar" ujarnya lagi sebelum membiarkan Ninda keluar dari ruangannya.
Setelah berhasil menutup pintu, Ninda langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari keberadaan sosok Cindy.
Ketemu! Perempuan berambut sebahu itu, tentu sedang ngobrol di meja nya Windy, tanpa wajah bersalah sedikit,pun.
"Tai ya, lo! Mau nikah gak ngomong-ngomong" ujar Ninda dengan penuh gemas sambil menjewer telinga Cindy, tentu aja perempuan itu meringgis kesakitan sekaligus kaget. Datang- datang kok langsung jewer.
"Ih kok lo, tau? Gak surprised dong" ujar Windy.
"Anjing, lo juga tau? Gue doang yang gak tau di dunia ini?? Tega banget.." jawab Ninda dengan dramatis, ia segera menarik kursi tepat di sebelah kedua temannya itu, sambil cemberut.
"Makanya jangan galau mulu, hidup lo kan kalau gak galau ya bucin, gak peka sama sekitar" celetuk Windy asal, walau seratus persen fakta.
Bikin Ninda jadi menelan rasa bersalah. Memang benar, selama beberapa waktu, dia terlalu fokus sama rasa sedih, setiap pulang kerja lebih milih langsung pulang kerumah, bahkan banyak menolak ajakan untuk hangout bareng yang lain.
"Sorry, Nin. Dadakan banget sih, sebenernya. Bokap gue udah ngebet mau punya momongan, semenjak jadi duda jadi super sensitif tuh, aki-aki"
"Jangan bilang lo juga udah tau kalau Pak Anton bokapnya dia?" Tanya Ninda langsung ke muka Windy, sementara yang ditanya cuma ngangguk-ngangguk doang sambil senyum nakal.
"Gila, jago banget lo berdua bohongin gue!"
Sukses pena di meja di lempar gitu aja ke muka Windy. Untung gak kena mata. Windy selalu tahu semua gossip di kantor, bahkan sekelas berita ini aja, cuma Ninda yang gak tahu. Pertemanan macam apa ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Pretend Lovers
Roman d'amourGirl, do you really wanna be my friend? Or do you really wanna be my lover? If not, baby, let's pretend, pretend, love - Montell Fish.
