"KARA!!" Grace terbangun kaget disebuah brankar rumah sakit dengan Selang oksigen di hidung nya.
"Grace" Anggi segera mendekati putrinya yang sudah sadar setelah pinsan beberapa hari.
"Mama, kara mana ma? kara baik-baik aja kan?" Tanyanya menanyakan kabar sang buah hati.
"iya sayang, kara baik-baik aja, anak mu juga sudah sadar, begitupun dengan suamimu" mendengar kabar itu Grace bernafas lega tapi setelah itu tersadar dengan kata terakhir dari sang ibu.
"Suami?" Tanya Grace bingung, Anggi dan Gita yang sedari tadi juga ada disana juga ikut bingung saat Grace bertanya demikian.
"iya, suami kamu juga sudah melewati masa komanya" jawab Anggi lalu menatap ke seberang.
"hah?" beo Grace bingung.
"hai" Sapa seorang pria yang sedari duduk di kursi roda dengan tangan yang masih terinfus menunggu sesosok perempuan untuk tersadar dari koma nya.
Grace menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok suami nya sedang menyapanya. "Akhirnya kamu sadar juga, saya sudah menunggumu sadar selama tiga hari belakangan ini" ucap Theo lalu membelai wajah Grace.
"Theo?" tanya Grace, tiga manusia yang ada di sana memandang Grace dengan bingung.
"iya, ini saya Theo" jawab Theo, Grace langsung turun dari brankar nya dan terduduk di lantai lalu memeluk kaki theo, Theo dengan sisa-sisa tenaganya mengangkat Grace dibantu oleh Gita untuk duduk di pangkuan Theo.
"ini beneran Theo kan?" tanya Grace saat di pangkuan Theo. Gita memindahkan tiang infus Grace mendekat kearah Theo yang sedang duduk di kursi roda agar infus dari perempuan yang Theo pangku itu tidak tertarik.
"Bisa tinggalkan kami sebentar?" Tanya Theo menatap saudari dan ibu mertuanya. Gita mengangguk tapi Anggi tampak keberatan. "tapikan kalian baru saja siuman, tidak apa-apa?" tanya Anggi, Theo mengangguk menyakinkan sosok ibu mertuanya setelah itu Gita keluar bersama dengan Anggi.
"Om, ini beneran Lo kan?" tanya Grace lagi.
"kenapa kamu bertanya demikian sayang?" Tanya balik Theo lalu mencium pipi Grace.
"Syukurlah kamu sudah sadar, tiga hari terakhir saya hanya bisa bernilai balik antara ruangan saya dan ruangan ini hanya untuk menemui kamu" ucap Theo.
Grace memeluk pria nya dan menangsi sejadi-jadinya. "Syukurlah hanya mimpi buruk" ucap Grace yang didengar oleh Theo.
"kamu bermimpi apa sayang?" tanya Theo.
"panjang om ceritanya, nanti aja yah. oh ya udah sempat ketemu kara belum?" Tanya Grace yang mendapat anggukan kepala oleh Theo.
"mau ke kara?" tanya Theo Grace mengangguk, Theo segera berteriak agar orang-orang diluar masuk untuk membantunya.
"Tolong panggil kan dokter" ucap Theo.
"kok dokter?" tanya Grace saat ia sudah berpindah ke brankar.
"Katanya mau ke kara, kamu di periksa dulu yah" jawab Theo, Gita keluar untuk memanggil dokter tak berselang dokter datang untuk memeriksa keadaan Grace sebelum memberi perempuan itu izin untuk bertemu dengan kara.
"Sus tolong ambilkan kursi roda" pintah sang dokter.
tak lama seorang dokter datang untuk memberikan Grace sebuah kursi roda. "Jangan lama-lama disana yah" pesan sang dokter sebelum pergi bersama suster tadi.
Gita dan Anggi segera mendorong pasutri itu untuk keruangan anak mereka, sepanjang perjalanan tangan kiri Grace dan tangan kanan Theo setia untuk selalu berpegang. setelah masuk di ruangan kara Theo meminta agar mereka ditinggalkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Ceo Husband
RomanceSiapa yang menyangka, gadis berusia 20tahun menikah dengan seorang Ceo yang usia terpantau sangat jauh dengan gadis yang dinikahinya, 30tahun. Dan juga seorang duda. Xaviera Graceva Axyra atau biasa di panggil Grace, Menikah dengan seorang duda kaya...
