44 Rencana

296 3 0
                                        

"Gimana kalo seandainya gue bisa keluar dari sini?"

"syukurlah"

"gimana sama nasib gue selanjutnya? gue ga bisa sendiri, gue juga butuh Lo"

"Mau bagaimana lagi sayang, kamu harus bisa"

"ga bisa.."

"besok hari persidangan, saya yakin kamu bisa keluar dari sini tapi tidak dengan saya"

"ga! gue bakal bujuk Grace biar bisa ngeyakinin keluarganya"

"menyakinkan apa sayang? saya sepenuhnya bersalah, jika seandainya mereka memaafkan pun, saya masih ada kasus lain yaitu kamu, ibumu tidak bisa memaafkan saya"

"tapi gue ga bisa besarin anak ini sendirian"

"Kamu bisa, yakin sama diri sendiri, maaf telah membawamu ke masalah sebesar ini"

"waktu kalian sudah habis..."

________

"om Lo ga lupakan sama janji Lo" ucap Grace pada Theo yang sedang berdiri sambil mengendong kara.

"janji? janji apa?" tanya Theo sambil menatap istrinya.

"ih! Lo kan pernah janji sama gue, kalo kara udah lahir mau liburan"

"Mau kemana memangnya?"

"katanya dulu mau ke London"

"iya, terserah kamu saja"

"Malam ini?"

"tapikan besok hari persidangan, kamu tidak mau hadir membela sahabatmu? zerin?"

"Mau sih, tapi gue ga mau ketemu kak Tami, sakit hati banget gue liat nya, gue juga udah pernah ketemu mamanya zerin, katanya, dia bakal sewain pengacara buat zerin, jadi yaudah lah kita hadir atau ga pun juga ga bakal ngaruh banyak, hukum tetap lah hukum, biar keluarga yang lain aja yang hadir"

"yasudah terserah kamu"

Grace mundur beberapa langkah dan kembali duduk di sebuah bangku yang ada di taman kota. Ia menatap ke sekeliling dan berhenti saat menatap punggung tegap suaminya yang sedang mengendong kara.

ia menarik dua kurva dan membentuk senyuman manis. "i love you theo anugrah valentino" gumam Grace.

"love you more" balas Theo dan berbalik. "Lo dengar om?" tanya Grace. Theo terkekeh kecil lalu kembali duduk di dekat Grace dengan kara yang masih di gendongan nya.

"Kamu bilang apa tadi?" tanya Theo sambil meletakkan kara di strolernya.

"I love you" ulang Grace lalu memeluk Theo dari samping.

"selanjutnya?" Grace tersenyum kecil lalu berbisik. "Theo anugrah Valentino" mendengar itu Theo terkekeh kecil, ia baru pertama kali mendengar Grace memanggil namanya.

"Kamu tidak mau memanggil saya dengan nama saya saja? kita sudah jadi orang tua, masih mau memanggil saya dengan sebutan om?" Tanya Theo sambil menatap Grace yang memeluknya.

"Lo keberatan gue panggil Lo om?" tanya Grace.

"sayang, bisa ubah cara bicara kamu? sebutan kamu menyebut orang lain dan dirimu tidak sopan"

"yang mana? Lo gue gitu?"

"iya, tidak sopan sayang"

"hmm gimana yah? masalahnya udah kebiasaan om, terus mau manggil Lo Theo pun ga sopan juga"

"Paksakan sayang, lama-lama juga terbiasa, bisakan?"

"sulit"

"mudahkan"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 18, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Perfect Ceo HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang