Masih ada yang baca gak sih ini? Huhuhu, baru bisa up. Selamat membaca🩶
🪷🪷🪷
Ia termenung melihat pemandangan dihadapannya. Biru, Naga dan orang tua gadis pujaannya itu terlihat sangat akrab di balik pintu kamar ini.
Pangeran merasa sesuatu tak kasat mata meremukkan hatinya. Membuat ia merasa sesak saat ini. Perlahan ia berjalan mundur menjauh dari sana. Ia melangkah tak tentu arah, seperti orang linglung yang tak ingat jalan pulang.
Merasa sesak di dadanya semakin menjalar, membuat Pangeran menghentikan langkahnya kemudian terduduk di kursi tunggu rumah sakit.
"Sakit." Lirih Pangeran sambil mencengkram dadanya berusaha menghilangkan rasa sakitnya.
"Dek gak apa-apa?" Tanya salah satu suster yang tak sengaja lewat depan Pangeran.
"S-aya gak apa-apa Sus." Balas Pangeran dengan terbata.
"Yakin?" Tanya suster itu lagi.
"Iya sus."
"Kalau gitu saya pamit yah dek, kalo ada apa-apa langsung panggil suster aja yah."
Setelah kepergian suster itu, Pangeran kemudian termenung menatap ke arah sepasang sepatunya. Kembali mengingat kejadian beberapa menit lalu. Ia kemudian menghela nafasnya berat kala rasa sesak ith tak kunjung pergi. Sampai akhirnya.
"Ngapain kamu disini?!"
Mendengar pertanyaan itu, sontak saja membuat pangeran kaget bukan main. Ia menatap ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya Pangeran saat mendapati Ata dan Cantika yang berdiri di hadapannya.
"B-unda, A-yah." Ucap spontan Pangeran dengan kaku.
"Berhenti panggil saya Bunda, saya gak suka. Saya tanya ngapain kamu disini!?" Tanya Cantika dengan tegas.
Terlihat jelas raut tak suka tercipta di wajah cantiknya itu. Ia menatap remaja di hadapannya ini dengan tajam, seolah-olah ingin mengulitinya saat ini juga.
"Bun, gak baik ngomong kayak gitu. udah ya."
"Bunda gak suka sama dia Yah!" Tegas Cantika.
"Bun-" Ucapan Pangeran terhenti, merasa ia seharusnya tidak mengatakan itu.
"Maaf. Maksud Pangeran tante, om pangeran kesini cuman mau tau keadaan Nisya, gak lebih." Sahut Pangeran semakin lama semakin pelan.
"Ngapain kamu tanya keadaan anak saya hah? Sete-lah." Ucapan Cantika terhenti.
Rasanya berat jika sudah membahas anak gadis satu-satunya itu. Mengingat masa-masa kelam itu membuat ia sebagai orang tua ikut merasakan sakitnya.
Biru yang pendiam, Biru yang menjauh dari orang-orang, Biru yang tak ingin bertemu bahkan berteman dengan siapapun selain Ayah dan Bundanya, Biru yang memutuskan berhenti sekolah formal dan memilih homeschooling.
Semua masalah itu dikarenakan lelaki yang berada tepat dihadapannya ini. Dan karna itu ia sangat, sangat membencinya. Hatinya seakan diremuk jika melihat wajah dari biang masalah anaknya itu.
"Setelah kamu buat anak saya seperti itu, kamu masih punya malu buat nanya keadaan anak saya hah?!" Tegas Cantika dengan mata yang sudah memerah karna perasaan marah juga sakit hati yang begitu dalam.
"Ma-af Tante." Balas Pangeran dengan begitu lirih.
Air matanya sudah mengalir sejak tadi. Ia menyesal. Sungguh, dan sampai matipun Pangeran akan menyesal dengan kesalahannya dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAGA CRUEL
Teen Fiction"PUNYA MATA GAK LO!, DASAR CABE!" Sahut Naga marah dengan kejamnya,tidak memandang gender. "Apa! Cabe? Kurang ajar banget sih ini cowok!" Batin Biru marah. "Aku rasa kakak masih punya mata buat ngeliat aku punya mata atau nggak." Jawab Biru dengan r...
