Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
Ruang Rapat di Lantai Tiga
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus tirai tipis berwarna krem, menorehkan garis-garis lembut di lantai kayu ruang rapat lantai tiga di markas PE. Akan tetapi, sinar itu tidak membawa kehangatan. Udara di ruangan tetap dingin, menusuk tulang, seolah dinding-dinding beton tebal ikut menahan napas.
Meja panjang berbahan kayu gelap membentang di tengah ruangan, permukaannya berkilau redup di bawah lampu gantung temaram. Kursi-kursi berderet rapi, beberapa di antaranya sudah terisi oleh empat inti—Kirei duduk di ujung meja dengan tangan terlipat di depan, Reynand mencondongkan tubuh, Geovan bersandar santai, Byza duduk tegap dengan tangan terlipat—sementara anggota lain menempati sisi meja, beberapa terlihat gelisah.
Cavin duduk di tepi, tatapan matanya selalu berpindah ke Kirei. Caldera menunduk sambil menatap lantai. Zen mengetuk-ngetuk jari di meja. Raffael dan Arlen saling bertukar pandang cemas. Hazell menunduk sambil menggigit bibir. Jeselyn dan Alvhie saling berbisik. Sementara Anam menatap kursi kosong di sisi Nathan, dan Davin berdiri di sudut ruangan, bersandar pada dinding dengan tangan terlipat.
Dua kursi kosong—milik Nathan dan Arial—menjadi pengingat yang menyakitkan bagi mereka. Kursi Nathan tetap rapi, seolah menunggu kepulangan yang tak pasti. Kursi Arial terlihat sedikit miring, bekas seseorang yang tiba-tiba menghilang, menorehkan keheningan yang pekat di ruangan tersebut. Kehadiran dua kursi kosong itu terasa lebih berat daripada kata-kata, mempertegas betapa rapuhnya PE saat ini, dan betapa tipis garis yang memisahkan keselamatan dan kehancuran mereka.
Lampu gantung berkilau redup memantul di permukaan meja, bayangan anggota rapat memanjang ke arah tirai. Suasana dingin, hening, dan tegang itu seperti menekan semua yang hadir, seakan memberi tahu ... kalau hari ini, keputusan yang akan diambil bisa mengubah segalanya.
Kirei berdiri di ujung meja, kedua tangannya menekan permukaan kayu gelap, jari-jarinya mengepal pelan. Matanya menatap semua yang hadir, wajahnya sedikit pucat pagi itu, tapi sorot matanya tajam, menembus setiap anggota.
“Aku tidak akan bertele-tele,” suara Kirei terdengar datar saat gadis itu membuka jalannya rapat. “Mulai hari ini … Psycho Elite vakum dari semua kegiatan. Semua misi dan semua rencana akan dihentikan sampai waktu yang belum bisa kutentukan.”
Sejenak, hanya terdengar detak jam di dinding dan desiran angin dari tirai yang bergoyang. Lalu keributan mulai muncul. Beberapa anggota saling menatap cemas, bisik-bisik terdengar, ada yang menepuk meja dengan gugup, sementara yang lain hanya menunduk, menahan napas.
Reynand mencondongkan tubuh, ia menatap Kirei dengan tajam, suaranya terdengar tenang, tapi juga tegas di saat bersamaan. “Rei, keputusan ini jauh melenceng dari apa yang kita sepakati semalam. Kita sepakat memecah PE jadi dua kubu untuk menemukan dalang dari semua masalah ini. Itu satu-satunya cara terbaik yang bisa kita tempuh.”