Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
Hujan belum juga berhenti malam itu. Air menetes dari dahan-dahan tinggi, menimbulkan suara berulang seperti detak jam yang tak terlihat. Hutan bernapas dalam irama yang lambat—gemericik, desir, dan sesekali bunyi petir jauh di belakang awan.
Di bawah naungan pohon besar yang separuh tumbang, tubuh besar D-09 meringkuk. Luka di sisi dadanya kembali terbuka. Darah dari luka itu mengalir, bercampur dengan lumpur. Napasnya berat dan tersengal. Setiap helaan napas terasa seperti menelan batu. Hujan menutupi aroma darahnya, tapi tidak cukup untuk menyamarkan jejak.
Ia sudah berhari-hari berlari tanpa arah, menahan lapar dan sakit. Kini tubuhnya mulai menyerah. Dalam kesadarannya yang buram, ia mendengar lagi gema suara-suara lama.
“Subjek D-09 gagal mempertahankan stabilitas”
“Hentikan tes. Denyutnya turun.”
Suara-suara itu terdengar seperti bayangan yang menertawakannya.
Lalu—terdengar bunyi langkah.
Pelan, tapi pasti. Dua pasang langkah mendekat di antara suara hujan. Langkah kaki manusia. Ia mengenal irama itu—terdengar berat, tapi hati-hati. Ia mendongak pelan, pupil matanya mengecil saat dua sosok muncul dari balik kabut.
Lampu senter menembus tirai hujan, memantulkan cahaya di bulu hitamnya. Satu pria dewasa dengan mantel panjang—bahunya lebar, rambut hitamnya telah memutih beberapa. Di belakangnya, seorang remaja sekitar dua belas tahun menatapnya waspada.
“Pa, kau lihat itu?” Suara remaja itu nyaris tak terdengar di antara hujan.
Pria dewasa itu tidak menjawab. Ia mematikan senter, berjongkok perlahan, membiarkan matanya menyesuaikan dengan gelap. Yang terbaring di depannya bukan binatang biasa. Ukuran tubuhnya dua kali lipat daripada panther normal. Otot di bawah bulunya bergerak samar, menandakan kalau binatang itu masih hidup.
Namun, yang paling membuat pria itu terdiam adalah matanya. Mata kuning keemasan itu menatap balik padanya—penuh kesadaran, seperti sedang mengukur dan menilai.
Remaja di sampingnya menegakkan tubuh, tangan kirinya sudah bersiap di gagang senjata. Sebuah tongkat kayu yang ia ambil dalam perjalanan tadi. “Pa, makhluk itu tampak berbahaya. Mungkinkah dia adalah salah satu dari hasil eksperimen—”
Sang pria dewasa yang merupakan ayah dari remaja 12 tahun itu mengangkat tangan, memberi isyarat diam. “Lihat tatapan matanya dulu, Zevin. Itu bukan tatapan mata hewan yang siap menyerang.”
Hening sejenak. Remaja yang dipanggil Zevin itu terdiam setelah mendengar ucapan sang ayah. Hujan menetes dari dahan ke tanah di antara mereka, menciptakan jeda sunyi yang tebal.
D-09 tidak bergerak. Napasnya masih tersengal, tapi ia tetap menatap kedua laki-laki beda usia tersebut. Di matanya, dua bayangan manusia itu tampak seperti siluet samar di antara hujan. Satu terasa asing, satu lagi terasa—entah kenapa—terasa akrab. Suara hati kecilnya mengenali aroma itu. Sesuatu yang dulu sering lewat di laboratorium, di balik kaca pengawasan—wangi logam, tapi juga sedikit … hangat.