57 ☠ Resonance of Resolve

10 1 0
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Angin pegunungan menyambut mereka begitu mobil hitam itu menembus jalur menanjak terakhir. Jalanan berkelok, dinding tebing di kiri, dan jurang di kanan. Udara pagi di sana terasa lebih dingin daripada di bawah—seperti membawa sisa malam yang belum rela pergi. Dari kejauhan, samar-samar terlihat bangunan besar berwarna abu gelap di balik barisan pinus tinggi.

Markas Psycho Elite.

Kirei menatapnya lewat kaca depan tanpa banyak bicara. Pandangannya tak lepas dari siluet bangunan itu—tampak kokoh, tapi kini terbungkus sunyi. Ia sudah hafal setiap jalur, ruang rahasia, dan lantai yang pernah dipijaknya.

Namun hari ini, entah kenapa, tempat itu terasa seperti tubuh tanpa roh.

Zevin melirik sekilas. Ia juga mengenali setiap tikungan menuju tempat itu. “Masih sama,” gumamnya pelan. “Bahkan bau tanah basah di tikungan terakhir ini nggak berubah.”

Kirei menoleh singkat, sedikit tersenyum. “Abang masih ingat, ya. Sudah lama juga, 'kan Abang nggak main ke markas?”

Zevin mengangguk. “Sulit melupakan tempat seperti Markas PE, Rei,” jawab Zevin datar, tapi ada nada samar yang sulit dijelaskan—antara nostalgia dan sesuatu yang lain.

Mobil terus melaju perlahan. Ban menggilas kerikil yang berhamburan dari tepi jalan. Hutan di sekitar mereka kian rapat, cahaya matahari hanya sesekali menembus dari celah dedaunan. Uap putih keluar dari kap mobil, menari sebentar sebelum menghilang di udara dingin.

“Sekitar dua tikungan lagi,” kata Kirei lirih.

Tak lama, pepohonan mulai jarang. Jalur berbatu berganti semen tua yang menanjak curam. Di ujung tanjakan, berdirilah bangunan besar dengan logo PE di bagian gerbangnya. Catnya masih hitam legam, tapi pagi itu kabut menggantung di sekitar pagar, membuatnya tampak seperti bayangan dari masa lalu.

Gerbang besi itu tetap kokoh, tanpa penjaga. Kamera di atasnya masih menyala, lampu merah kecilnya berkelip pelan—sinyal bahwa sistem keamanan belum dimatikan. Seolah markas ini menunggu seseorang datang, tapi tak tahu siapa.

Kirei keluar dari mobil. Dingin pagi segera merayapi kulitnya. Ia berjalan ke depan gerbang, menempelkan telapak tangan ke sensor di sisi kanan. Sekilas terdengar dengungan elektronik, diikuti suara klik lembut.

Verifikasi: Febrina Callista Kirei. Akses diterima,” ujar suara mekanis dari speaker tersembunyi.

Gerbang bergeser perlahan. Suaranya berat, tapi bukan karena karat—lebih karena lama tak disentuh sejak semalam.

Zevin keluar dari mobil dan menyusul. Ia menatap gerbang itu sesaat sebelum ikut melangkah masuk. “Biasanya ramai di jam segini,” gumamnya tanpa sadar.

Kirei mengangguk pelan. “Ya ... seharusnya begitu.”

Begitu mereka masuk, udara di dalam terasa berbeda. Bukan bau debu atau besi tua, tapi aroma logam, minyak pelumas, dan sisa kopi yang baru menguap semalam. Lantai markas masih bersih, hanya ada sedikit jejak sepatu dan genangan air kecil yang belum sempat kering. Beberapa lampu masih menyala redup—pertanda markas ini belum sepenuhnya ditinggalkan, hanya ... ditinggal sementara.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

NEXT PSYCHOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang