Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
"Bang, gimana perkembangan penyelidikan terkait hilangnya Arial dan Om Keanan?"
Bibir Kirei spontan terkatup rapat saat gelengan kepala didapatkannya sebagai respon atas pertanyaannya barusan. Ia dan Bang Zevin tengah berada di sebuah cafe yang terletak di pusat kota saat ini. Kirei memang sengaja meminta bertemu karena beberapa hari terakhir, laki-laki yang merupakan anak sulung Keluarga Albercio itu sangat sulit dihubungi lantaran sibuk dengan penyelidikan terkait hilangnya kedua orang tersebut.
"Abang belum nemuin titik terang, Rei. Tidak ada jejak sama sekali. Di area sekitar tebing juga sudah kami selidiki, tapi kami tidak menemukan jejak apapun. Seolah Papa dan Arial memang menghilang begitu saja."
Penjelasan Zevin membuat netra cokelat madu Kirei meredup. Rasa bersalah dan cemas terus menggerogotinya sejak beberapa hari yang lalu saat pesta ulang tahun Louis. Kirei merasa kalau kejadian ini sangat aneh. Mereka hanya menemukan bangkai mobil Avanzanya saja, sementara dua orang di dalamnya tidak ditemukan. Bahkan tidak ada jejak ataupun petunjuk sama sekali terkait kondisi dan keberadaan Om Keanan serta Arial.
Jelas saja hal ini membuat Kirei jadi uring-uringan sendiri. Belum selesai satu masalah, sudah muncul masalah baru lagi. Sebenarnya siapa yang melakukan ini? Apa tujuan orang itu sehingga mengusik kami, Psycho Elite? Seingat Kirei, PE sama sekali tidak pernah terlibat masalah dengan organisasi manapun.
Maka dari itu, dari mana asalnya semua masalah yang datang bertubi-tubi dan menyerang para anggotanya ini? Pertama Bang Nathan, lalu Arial dan Om Keanan yang ikut terseret. Setelah ini siapa lagi?
"Bang, menurutmu ... apakah ini ada kaitannya dengan Deadlock Gang?"
Pertanyaan Kirei membuat Zevin urung mengambil cangkir kopi yang ia pesan. Manik hitamnya menatap tepat pada kedua netra cokelat madu milik Kirei. "Ya. Sepertinya Deadlock Gang juga terlibat. Aku masih berusaha menyelidikinya, Rei."
Kirei kembali terdiam. Tatapannya jatuh pada kedua tangan Alzevin Giordano yang mengepal kuat di atas meja. Melihat itu, Kirei jadi terpikirkan akan satu hal.
"Bang, aku punya rencana."
Manik cokelat madu itu berkilat tajam.
𓈓 𓈓 ◌ 𓈓 𓈓
Meeting Room, Psycho Elite HQ.
"Apa maksud lo dengan memberhentikan semua kegiatan PE untuk sementara, Rei?"
Pertanyaan Reynand mewakili seluruh isi kepala Geovan dan Byza, juga bayangan Nathan yang tampak muncul di layar ponsel milik Reynand. Keempat inti itu menatap Kirei penuh tuntutan. Bahkan Nathan yang berada jauh di Paris sana juga dibuat heran saat mendengar keputusan sepihak yang Kirei ambil di tengah peliknya permasalahan yang menimpa organisasi mereka.
"Gue rasa maksud dan tujuan gue udah jelas. PE akan vakum dari semua kegiatan untuk sementara waktu."
"Tapi kenapa?" Kini Byza yang angkat bicara. "Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, Rei?"
Tatapan Kirei jatuh ke arah eksistensi Nathan yang memandangnya dari dalam layar ponsel Reynand. "Gue bakalan bikin PE jadi dua kubu."
Hening.
Suasana ruang rapat itu seketika menjadi senyap saat Kirei mengutarakan kalimatnya. Ekspresi tak percaya dan bingung terpampang jelas di wajah keempat inti PE lainnya. Mereka jelas bertanya-tanya apa maksud dari perkataan sang ketua sekaligus pendiri Psycho Elite tersebut.
"Entah kalian sadar atau enggak, tapi gue yakin kalau ada orang dalam yang menjadi informan musuh di organisasi ini."
"Sebenarnya gue juga berpikir gitu." Nathan menyahut, membuat Reynand langsung menyalakan loudspeaker dalam video call tersebut. "Menurut gue aneh aja. Kenapa dalam kurun waktu yang terbilang singkat, dua identitas anggota PE terbongkar ke publik gitu aja? Lo tahu sendiri kalau identitas para anggota itu benar-benar udah gue simpan rapat-rapat, Rei."
Byza mengangguk setuju. "Ada benarnya juga, sih. Faktor orang dalam juga patut dicurigai, tapi kira-kira siapa?"
Kirei menghela napas dan menggeleng. "Itulah kenapa gue vakumin PE untuk sementara. Gue mau nyari tahu siapa yang berkhianat di sini. Alasan kenapa gue mau mecah PE jadi dua kubu, karena gue mau mengecoh musuh. Gue pengen mereka berpikir kalau mereka udah berhasil memecah belah organisasi kita."
"Terus? Konflik kayak gimana yang harus kita pakai buat nimbulin perpecahan?" Reynand yang sedari tadi hanya diam menyimak, kini ikut angkat bicara. "Kita harus bikin pemicunya, 'kan?"
Ketiga inti PE yang lain dibuat terdiam saat Reynand mengakhiri pertanyaannya. Reynand benar. Mereka harus berpikir tentang pemicu konflik seperti apa yang harus mereka pakai untuk memecah Psycho Elite menjadi dua kubu seperti rencana Kirei.
"Jujur, gue belum mikirin pemicu konfliknya, sih." Kirei berkata sembari menghela napas kemudian. "Nanti kita pikirin sama-sama. Gue lagi pusing banget sekarang. Gue pamit ke kamar duluan, ya?" Tanpa menunggu jawaban dari ketiga rekannya, Kirei langsung berjalan ke arah pintu ruangan dan keluar dari meeting room.
Sikapnya yang tidak biasa itu jelas menimbulkan banyak pertanyaan di benak sahabat-sahabatnya. Terutama Reynand yang sudah mengenal Kirei sejak kecil.
Lo pasti nyembunyiin sesuatu dari kita lagi 'kan, Rei?
Reynand menghela napas sebelum ikut berpamitan pergi menuju kamar setelah sebelumnya mematikan sambungan video call dengan Nathan. Diikuti oleh Geovan dan Byza yang juga memutuskan untuk pergi dari ruang meeting. Masalah organisasi yang semakin rumit membuat para inti PE jadi harus benar-benar berpikir keras.
Malam itu adalah malam di mana anggota inti PE akan mengambil tindakan terhadap musuh yang bahkan belum mereka ketahui pasti siapa dalang dibalik semua kemalangan yang menimpa dua anggota mereka—Nathan dan Arial.
Perlahan tapi pasti, mereka akan mengungkap siapa dalang dibalik semua kekacauan yang terjadi di Psycho Elite.
• • •
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yuhu! Next Psycho comeback setelah hampir setahun mangkrak, wkwk. Maafkan aku yang terus tergiur buat bikin cerita baru. Padahal cerita ini aja masih on-going dan belum tak kelarin :v