56 ☠ Road After Rain

3 0 0
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Garasi rumah Keluarga Albercio masih diselimuti aroma logam dan oli pagi itu. Cahaya matahari yang baru naik menembus lewat celah pintu besi, membentuk garis-garis tipis di lantai yang berdebu. Di sudut, seekor kucing liar melintas sebentar sebelum menghilang di balik tumpukan ban bekas. Suara kecil rantai motor yang disentuh tangan Zevin menggema pelan, nyaris bersatu dengan embusan angin yang masuk dari ventilasi atas.

Kirei berdiri tak jauh dari pintu masuk, mengenakan jaket krem panjang yang sudah ia pakai sejak semalam. Rambutnya yang masih sedikit acak menutupi sebagian wajah. Ia memandangi Zevin yang tengah memeriksa kondisi motor hitam di depannya—motor sport dengan bodi berkilat, tampak kontras dengan suasana garasi yang cukup remang.

Itu motor milik Arial.

Lalu etah kenapa, setiap kali melihatnya, dada Kirei seperti diremas kuat.

"Masih bisa jalan?" Suaranya pelan, bahkan terdengar ragu.

Zevin mengangguk sedikit tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk memutar kunci inggris, menyesuaikan baut di sisi bawah tangki. "Masih. Mesinnya sehat, kok. Cuma lama nggak dipakai. Jadi Abang sempatin ganti oli tadi malam."

Kirei mendekat beberapa langkah, lalu berhenti di sebelah kanan motor. Tatapannya mengikuti setiap gerakan Zevin. Ada sesuatu yang khidmat dalam caranya bekerja—tenang, efisien, dan tanpa suara berisik yang tidak perlu.

"Padahal, dulu dia selalu marah kalau Abang sentuh motor ini," gumam Zevin kemudian, seolah berbicara pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepala. "Katanya Abang kasar kalau bawa nih motor."

Kirei tersenyum kecil, tapi kepalanya tertunduk. "Itu khas Arial banget. Kalau dia bisa lihat Abang sekarang, mungkin dia bakal ngomel karena Abang pegang nih motor tanpa pakai sarung tangan."

Zevin menatap tangannya sejenak, lalu tersenyum samar. "Ya. Dia memang secerewet itu."

Keheningan turun lagi. Yang terdengar hanya deru angin dari luar dan bunyi lembut kain lap ketika Zevin mengelap kaca spion. Di sudut lain garasi, sebuah mobil Kijang hitam berdiri diam, tertutup kain abu-abu yang sebagiannya tampak berdebu.

Kirei melangkah ke arah mobil itu. Ujung jarinya menelusuri permukaan kap yang dingin. "Kita naik ini, 'kan?"

"Ya," jawab Zevin sambil menegakkan badan. "Abang nggak mau kamu kedinginan kalau bawa motor. Perjalanan ke markas bisa makan waktu dua jam kalau jalanan masih licin."

Kirei mengangguk pelan. Pandangannya berpindah dari mobil ke langit di luar—langit yang belum sepenuhnya berwarna biru, masih diselimuti sisa kabut karena hujam semalam. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Sejak bangun pagi tadi, dadanya terasa berat, seolah udara pun menolak masuk dengan mudah.

"Bang," katanya pelan. "Yakin kita mau langsung ke markas?"

Zevin menatapnya, pandangan matanya tenang, tapi tajam. "Kalau nunggu lebih lama, aku takut jejak yang tersisa di sana keburu hilang."

NEXT PSYCHOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang