45 ☠ The Unbroken Trail

12 2 0
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Zevin's Workspace, After Dinner.

Lampu meja di ruang kerja Zevin masih menyala redup. Jam sudah melewati tengah malam, tapi rumah itu tetap sunyi. Kirei duduk di sofa, menyandarkan punggung sambil menggenggam segelas air hangat. Wajahnya terlihat letih, tapi matanya dipaksa tetap terbuka. Zevin di sisi lain berdiri di depan laptop, menatap layar dengan dahi berkerut.

"Jadi rapatnya ... berakhir kacau," Zevin membuka percakapan setelah beberapa saat diam. Tangannya masih sibuk mengetik, jari-jarinya lincah berpindah di atas keyboard.

Kirei menarik napas panjang. "Yahh ... dan aku memutuskan memvakumkan PE sementara."

Kata-kata itu terdengar berat, bahkan bagi dirinya sendiri.

Zevin menoleh, menatap adik sahabatnya itu dengan sorot mata tajam, tapi tidak menghakimi. "Itu bukan keputusan kecil. Mereka pasti nggak setuju."

"Ya. Hampir semua anggota menolak keputusanku," Kirei mengangguk pelan. "Tapi aku nggak bisa terus menyeret mereka tanpa arah. Arial nggak ada, Bang Nathan pun harus bersembunyi. Kalau aku biarkan, mereka cuma akan saling menyalahkan, Bang."

Zevin menutup laptopnya sejenak, lalu berjalan ke arah meja. "Kamu memilih jadi tameng buat semuanya."

Kirei terdiam. Ada guratan rasa bersalah di wajahnya.

Zevin kembali duduk, menyilangkan tangan. "Kalau begitu, kita bicara tentang hal yang lebih penting. Tentang Ayahku dan Arial."

Nama itu disebut, membuat bahu Kirei menegang. Dia menunduk, menatap gelas di tangannya yang sudah mulai kehilangan rasa hangat. "Aku tahu ... polisi kemungkinan akan menutup pencarian. Katanya, ombak di area itu terlalu kuat. Mereka bilang mustahil mencari korban dalam keadaan seperti itu."

Nada suaranya pecah di ujung kalimat.

Zevin menyalakan laptop lagi, kali ini membuka folder yang tadi sempat ia tutupi. Beberapa file muncul. Laporan pencarian, peta digital garis pantai, hingga rekaman yang berhasil ia unduh dari server lalu lintas. "Polisi memang nggak becus, tapi aku nggak bisa berhenti di laporan mereka."

Ia memperbesar sebuah peta laut. Garis-garis arus deras terlihat jelas, berwarna merah di beberapa titik. "Lokasi jatuhnya mobil memang berbahaya. Arus bawah lautnya bisa menyeret benda berat sejauh ratusan meter dalam hitungan menit. Itu alasan kenapa mereka angkat tangan."

Kirei memandang layar itu dengan mata membesar. "Jadi ... mayat mereka-"

Zevin langsung memotong. "Justru karena itu, kita nggak boleh percaya mereka mati. Tidak ada jenazah, berarti tidak ada kepastian."

Hening sejenak. Kalimat Zevin menggantung di udara, mengisi ruang dengan secercah harapan.

Akan tetapi, Kirei masih gelisah. "Kalau memang ada peluang mereka selamat, kenapa tidak ada satu pun tanda atau petunjuk? Perahu nelayan, tim SAR, semua nihil."

NEXT PSYCHOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang