40 ☠ After the Meeting

14 2 5
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Langkah-langkah berat mulai terdengar di ruang rapat lantai tiga. Pintu kayu besar terbuka setengah, engselnya berderit pelan. Satu per satu anggota Psycho Elite berdiri dari kursi mereka dengan ekspresi yang masih panas akibat perdebatan tadi. Ruangan itu masih menyisakan hawa tegang, seakan dindingnya ikut merekam setiap kata yang terlempar.

Kursi panjang dengan sandaran tinggi masih berantakan. Beberapa terdorong ke belakang, beberapa setengah miring, bahkan ada yang ditinggalkan terbuka begitu saja. Di atas meja, gelas air mineral yang tak habis diminum memantulkan cahaya pucat matahari pagi, sementara kertas catatan dan pena berserakan, bekas tangan yang gelisah selama rapat berlangsung.

Byza yang lebih dulu bangkit, menghentakkan kursinya ke belakang dengan kasar. Wajahnya merah, rahangnya mengeras. Ia keluar sambil menggerutu pelan, tapi cukup terdengar. “Kalau terus begini, PE hancur bukan karena musuh, tapi karena keputusan bodoh.”

Geovan menyusul, ekspresinya tampak tenang dan dingin. Langkahnya mantap, kedua tangannya masuk ke saku celana. Ia sempat menoleh sekilas ke arah Kirei yang masih berdiri diam di ujung meja, lalu mendengkus kecil. Tanpa berkata apa pun lagi, ia berjalan melewati pintu.

Reynand agak tertinggal, tapi ekspresinya tetap sama. Serius, tajam, tapi tak meledak-ledak seperti Byza. Ia hanya menepuk bahu Geovan sebelum keluar. Tepukan itu singkat, lebih seperti kode untuk tetap tenang meski mereka jelas tak sepakat dengan keputusan sepihak Kirei.

Begitu para inti selesai keluar, giliran anggota lain.

Cavin berdiri cepat, kursinya hampir terjungkal. Wajahnya gusar, matanya sempat menatap Kirei, lalu beralih ke anggota lain. “Gue udah bilang, vakum itu masuk akal. Kalau kalian masih mau main nekat, silakan. Tapi gue nggak mau jadi korban sia-sia.” Ia melangkah keluar dengan langkah cepat, seolah ingin segera menjauh dari ruangan itu.

Caldera langsung menyambar dengan suara tinggi, meski Kirei tak menoleh sedikit pun. “Pengecut! Kalau semua berpikir kayak lo, kita nggak akan pernah maju!” Ia sendiri akhirnya keluar sambil menghentakkan pintu, napasnya masih tersengal karena emosi.

Zen menunduk, suaranya hampir tak terdengar. “Tapi … ada benarnya juga kata Cavin.” Ia berdiri perlahan, kursinya menggeser lantai dengan suara berdecit. “Kalau dua orang inti saja sudah jatuh, apa kita yakin masih sanggup?” Tatapannya sebentar menoleh ke arah Davin sebelum akhirnya melangkah keluar.

Raffael justru berdiri dengan keras. “Justru karena itu kita harus bertahan, Zen! Jangan biarkan mereka menang dengan membuat kita takut!” Suaranya masih terdengar hingga ia benar-benar keluar ruangan, menyusul yang lain.

Arlen bangkit lebih pelan, wajahnya menegang. Tangannya mengepal di sisi tubuh. “Aku nggak peduli. Kalau Kak Kiki bilang ini demi keselamatan kita, aku ikut dia.” Suaranya serak, jelas sarat dengan ketakutan yang berusaha ia tekan.

NEXT PSYCHOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang