47 ☠ Ties That Remain

14 3 6
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Di luar café kecil tempat mereka singgah, Geovan berdiri merapatkan jasnya, melindungi diri dari embusan angin malam yang menusuk. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang menusuk hidung. Genangan air di trotoar memantulkan cahaya lampu jalan yang temaram.

Ia menyalakan rokok, menarik satu hisapan dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Asap putih tipis melayang, terseret angin. Sorot matanya jauh, seakan menembus kegelapan malam.

“Rei…” gumamnya lirih, lebih ditujukan pada diri sendiri. “Lo terlalu sibuk pakai hati buat ambil keputusan. Dunia ini nggak selalu berjalan sesuai hati, tapi dengan kepala dingin.”

Geovan menunduk sebentar, mengamati rokok di jarinya, lalu tertawa pendek, getir. “Lo pemimpin, tapi lo nggak bisa pisahin perasaan sama logika. Selalu mikirin siapa yang bakal terluka, siapa yang bakal hilang. Hasilnya? Kita berhenti di tengah jalan dan jadi sasaran empuk.”

Ia mengembuskan asap lagi, kali ini lebih kasar. Rahangnya mengeras. “Kalau kayak gini terus, PE nggak akan pernah maju. Kita cuma akan habis dimakan permainan musuh.”

Beberapa langkah terdengar dari belakang. Byza keluar, melirik sebentar ke arah Geovan, tapi tidak banyak bicara. Hanya tatapan singkat yang seakan memberi isyarat. Ia mendengar, ia mengerti, dan ia setuju.

Geovan menoleh sekilas, lalu membuang pandangan kembali ke jalanan yang masih basah. “Kalo Kirei nggak bisa ngurus PE dengan benar … maka gue yang harus turun tangan.” Suaranya rendah, tapi tegas, nyaris seperti pengucapan sumpah.

Byza menahan diri untuk tidak menanggapi. Ia hanya menarik napas panjang, lalu memasang tudung jaket dan melangkah lebih dulu meninggalkan sosok Axel Geovan.

Geovan sendiri hanya menatap punggung sahabat perempuannya yang menjauh, kemudian menengadah sebentar, membiarkan sisa air hujan menetes dari atap dan jatuh ke wajahnya. Dalam sorot mata kelamnya, ada bara yang belum pernah tampak sebelumnya—ambisi yang perlahan menyala, tertutupi kabut malam.

• • ☠ • •

Reynand masih duduk di pojok café yang hampir sepi. Cangkir kopinya sudah mendingin, tapi ia belum beranjak. Kedua tangannya terlipat di atas meja, sementara pandangannya kosong menembus kaca jendela yang berembun.

Ia bisa melihat samar-samar sosok Geovan dan Byza di luar, berdiri di bawah lampu jalan, berbicara singkat sebelum berpisah. Gerakan mereka cukup jelas untuk dimengerti. Ada sesuatu yang sedang mereka sepakati, meski tanpa kata panjang.

Reynand menekan pelipisnya, menarik napas dalam, dan berujar, "Ini buruk."

Ia tahu sejak awal kalau rapat tadi akan memunculkan riak perbedaan, tapi ia tidak menyangka kalau retaknya akan begitu cepat. Kirei dengan keputusannya yang keras kepala. Geovan dengan ketidakpuasannya yang semakin nyata. Lalu Byza—ia terlalu emosional, terlalu mudah terbakar, sehingga bisa jadi bahan bakar paling mudah untuk ambisi Geovan.

NEXT PSYCHOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang