Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
Matahari sudah tenggelam sepenuhnya ketika Kirei akhirnya membuka mata. Ruangan kamar tamu itu temaram, hanya diterangi cahaya lampu meja yang redup. Ia tak sadar tertidur setelah meletakkan kepalanya di atas bantal, tubuhnya sudah terlalu letih untuk menanggung semua beban yang ada.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pelan di pintu kamar tamu membuat Kirei terbangun seketika.
"Rei, kamu sudah bangun?"
Suara Zevin terdengar dari luar.
Kirei mengucek mata, lalu bangkit duduk. "Iya, Bang. Sebentar." Ia merapikan rambut seadanya sebelum membuka pintu.
Ceklek!
Zevin berdiri di lorong, kali ini mengenakan hoodie abu-abu. Wajahnya terlihat lebih santai, tapi sorot matanya tetap serius. "Abang bikin makan malam sederhana. Kalau kamu lapar, ayo turun dan makan."
Kirei mengangguk, lalu mengikuti langkah pria dewasa di depannya dan menuruni anak tangga. Aroma tumisan bawang putih bercampur daging memenuhi udara. Dapur rumah Albercio luas, dengan meja makan kayu panjang di tengah. Di atasnya sudah tersaji beberapa hidangan sederhana. Sup hangat, nasi, dan lauk yang jelas dimasak terburu-buru.
"Bang Zev masak sendiri?" Kirei bertanya pelan sebelum mendudukkan diri di kursi seberang.
Zevin mengangkat bahu. "Kalau sendirian di rumah, mau nggak mau ya, harus belajar. Lagipula Abang nggak suka kalau harus pesan makanan terus."
Kirei mengangguk mengerti.
Kemudian, mereka mulai makan dalam diam. Suara sendok dan piring jadi satu-satunya yang terdengar di antara keduanya. Kirei sempat beberapa kali melirik ke arah Zevin, tapi tatapannya selalu ia alihkan kembali ke mangkuk.
Hingga akhirnya, Zevin meletakkan sendoknya dan berujar, "Rei." Suaranya datar, tapi nadanya membuat Kirei otomatis berhenti menyuap dan menoleh ke arah pria tersebut. "Tadi siang kamu di markas, 'kan? Rapat PE?"
Pertanyaan itu membuat napas Kirei tertahan. Tangannya mengepal di pangkuan. "Iya," jawabnya singkat.
"Apa yang diputuskan?" Zevin menatap lurus, ekspresinya sulit ditebak.
Kirei menunduk, suaranya rendah. "Aku ... memutuskan untuk memvakumkan PE. Semua kegiatan dihentikan untuk sementara."
Keheningan langsung turun. Zevin tidak langsung merespons. Ia hanya duduk bersandar, matanya masih terpaku pada wajah Kirei, mencoba membaca alasan di balik ucapan sang gadis yang cukup membuatnya terkejut.
"Jadi ... kalian menyerah begitu saja?"
Kirei terdiam dengan tangan mengepal di sisi-sisi tubuhnya. "Bukan menyerah. Aku cuma ... nggak mau ada yang jadi korban lagi."