41 ☠ Beneath the Surface

20 3 6
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Ruang rapat di lantai tiga kini benar-benar kosong. Kursi-kursi yang tadi penuh dengan perdebatan, kini hanya menyisakan jejak berantakan. Sandaran kursi yang miring, gelas-gelas air yang tidak habis diminum, dan kertas catatan yang terlipat kasar. Lampu di langit-langit bahkan masih menyala, berpadu dengan cahaya matahari pucat yang menembus tirai, membuat ruangan terlihat semakin kaku dan hampa.

Kirei duduk di ujung meja, tubuhnya sedikit membungkuk. Kedua tangannya menggenggam ujung meja begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya berat, tidak beraturan. Sesekali bahunya naik-turun seperti berusaha menahan sesuatu yang hampir pecah lagi.

Pandangannya jatuh pada dua kursi kosong di sisi kanan meja. Nathan dan Arial. Dua nama yang seakan membayangi tiap keputusan yang ia buat. Kursi itu sunyi, tapi di mata Kirei seperti masih menyimpan suara tawa dan perdebatan mereka. Ia mengulurkan tangan, menyentuh sandaran kursi Arial. Hanya sentuhan singkat, lalu tangannya terlepas dan gemetar kecil.

Ia menarik napas panjang, lalu meraih ponsel yang tergeletak di meja. Layar menyala, cahayanya memantul di wajah cantiknya yang tampak lelah. Jari Kirei sempat berhenti beberapa detik di layar utama. Ia terlihat ragu, sebelum akhirnya menekan daftar kontak. Deretan nama yang dikenalnya muncul di sana, hingga berhenti pada satu nama.

Bang Zevin.

Kirei menatap nama itu lama, seolah masih menimbang-nimbang apakah ia akan menghubungi kakak kandung dari Arial Giovandra itu atau tidak. Akan tetapi, akhirnya ia menekan tombol panggil.

Nada tunggu berulang. Jantungnya ikut berdetak lebih cepat. Jari-jarinya mengetuk pelan meja kayu di depannya, tanda akan rasa gelisah yang tidak bisa ia kendalikan.

"-Halo?" Suara berat di seberang sana akhirnya terdengar. Dalam, jelas, dan terdengar sedikit serak.

Kirei menelan ludah. "Bang ..." suaranya serak, hampir tidak keluar.

Ada jeda singkat sebelum suara itu kembali. "Kirei? Ada apa? Kamu di mana sekarang? Masih di markas?" Nada Zevin berubah waspada dan sarat akan kekhawatiran saat mendapati suara Kirei yang terdengar serak seperti habis menangis.

"Iya. Aku masih di ruang rapat," jawab Kirei pelan.

"Sendirian?" Zevin bertanya lagi. Suaranya tegas, tapi ada lapisan khawatir yang sulit disembunyikan.

Kirei mengangguk meski tahu lawan bicaranya tidak bisa melihat. "Iya, sendiri."

Beberapa detik terjadi keheningan setelahnya. Kirei bisa mendengar helaan napas berat Zevin di ujung telepon. Lalu suara pria dewasa itu terdengar lagi, kali ini lebih mantap. "Mau aku jemput? Kamu kedengaran nggak baik-baik saja."

Kirei menggenggam ponselnya lebih erat. Ia menggeleng pelan, seperti berusaha menolak kekhawatiran itu. "Nggak usah, Bang. Aku bisa pulang sendiri." Suaranya bergetar. "Aku cuma mau minta izin ... boleh nggak aku nginep di tempat Bang Zevin malam ini?"

NEXT PSYCHOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang