Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
In the Prison.
Hukuman 20 tahun penjara dan 10 tahun pengasingan adalah hal yang tak pernah terpikirkan akan terjadi padanya. Byzarvilous Yehezkiel menghela napas sembari menatap koran di depannya yang menayangkan satu cerita fabel. Di mana seekor singa malah berteman dengan seekor tikus karena tikus itu telah membantunya keluar dari jaring jebakan yang dibuat oleh sang pemburu.
Dari pada berteman, ia lebih suka menyebutnya bertekuk lutut.
Singa itu sangat bodoh karena tidak memakan tikus yang jelas-jelas adalah hidangan satu-satunya yang bisa dia makan saat itu. Satu ekor tikus tidak akan berguna kecuali jika kau berteman dengan semua kawanannya. Bagaimana pun, satu tidak lebih baik dari dua dan tiga, apalagi ribuan atau jutaan.
Namun kisah ini berhasil mengingatkannya akan masa lalu. Di mana ia berada di posisi sang singa yang bodoh karena berteman dengan seekor hewan pengerat tak tahu diri.
Krak!
Byzarvilous Yehezkiel menggelengkan lehernya ke kanan dan ke kiri dengan mata yang tak lepas dari cerita fabel tentang singa dan tikus tersebut. Pria paruh baya tersebut mengangkat foto yang tersembunyi dibalik lipatan koran. Foto keluarganya yang diambil sekitar tiga tahun lalu. Ada ia di sisi paling kanan, lalu sang istri di sisi kiri. Kemudian kedua putra dan putrinya di tengah-tengah. Mereka terlihat bahagia sekali di foto itu.
Yahh, tapi tidak ada yang tahu dibalik senyuman bahagia itu ada banyak luka dan dendam yang tersembunyi. Ada banyak trauma dan kesakitan dibalik masing-masing wajah bahagia keluarganya.
Terutama sang putri, Syafreza Altezza Byza.
Ting! Ting! Ting!
"Waktunya makan."
Seorang petugas mengetuk jeruji besi yang mengurung Byzarvilous beberapa kali sebelum mendorong nampan berisi makanan yang dibawanya ke dalam celah jeruji bagian bawah.
"Habiskan kalau kau masih ingin merasakan makanan enak di sini."
Memang, Byzarvilous selalu menyisakan makanannya beberapa hari terakhir dengan alasan kalau ia rindu makanan enak di luar sana. Membeli makanan di kantin pun rasanya percuma karena menu yang dijual juga itu-itu saja. Ia rindu masakan putri kecilnya.
"Bisakah aku meminjam handphone?"
"Untuk apa?"
"Aku ingin menghubungi putriku."
"Tapi-"
"Biarkan dia menelepon."
Seorang kepala polisi tiba-tiba saja datang dan menyela percakapan yang terjadi diantara petugas dan Mr. Zarv. Petugas itu pun mengangguk dan menyerahkan ponselnya untuk dipinjam oleh sang tahanan.