Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
Aftermath — The Café
Kafe kecil di pinggir kota itu nyaris kosong. Jam digital di atas pintu menunjukkan pukul 23.47. Lampu neon di luar berkelip samar, menarik perhatian sesekali mobil yang melintas di jalanan sepi. Di dalam, aroma kopi hitam bercampur samar dengan asap rokok yang menggantung di udara. Hanya ada beberapa meja terisi. Sisanya dibiarkan kosong, seolah kafe itu sengaja dibiarkan jadi tempat singgah orang-orang yang butuh pelarian.
Di sudut paling belakang, tiga orang duduk melingkari meja bulat. Byza menyandarkan tubuh ke kursi dengan gelisah, jari-jarinya mengetuk meja tanpa henti. Di depannya, cangkir kopi masih penuh, uapnya sudah berhenti mengepul. Wajahnya merah karena emosi yang belum reda sejak rapat berakhir.
Geovan duduk di samping Byza, postur tubuhnya tampak santai, tapi tatapannya menusuk. Ia memutar sendok kecil di dalam kopinya dengan tenang, seolah yang baru saja mereka lalui hanyalah sebuah diskusi biasa.
Reynand, di seberang mereka, duduk tegak dengan punggung menempel ke kursi. Tangannya terlipat di dada, pandangan tajamnya tertuju pada Byza yang dari tadi mendengkus kesal.
Suasana meja itu dipenuhi ketegangan tak kasat mata.
“Gila,” Byza akhirnya bersuara, nadanya penuh amarah. “Kirei beneran nggak mikir. PE vakum? Serius? Itu sama aja kita nyerah di depan musuh!”
Reynand menahan napas sebentar sebelum menjawab. Suaranya lebih kalem, tapi jelas menegur. “Za, turunin dikit nada bicara lo. Kita lagi di luar markas, jangan sampai orang lain dengar.”
Byza mendengkus lagi, lalu menunduk sebentar, tapi jari-jarinya kembali mengetuk meja dengan keras. “Gue nggak bisa terima, Rey. Kita sepakat soal memecah PE jadi dua kubu. Itu rencana paling masuk akal. Cari dalang, ungkap siapa yang ngincer kita. Bukan malah kabur.”
Geovan menyesap kopinya, lalu meletakkan cangkir dengan bunyi tak yang terdengar tajam di telinga. “Dia nggak kabur, Za. Dia lari. Itu dua hal yang berbeda.” Keduanya menoleh ke arahnya. Geovan menatap mereka balik, tenang, tatapannya dingin. “Dan pemimpin yang lari di saat genting? Tidak pantas disebut pemimpin.”
“Alasan?” Geovan mengangkat alis. “Alasan untuk menutup mata dari kenyataan? Untuk meninggalkan apa yang sudah kita bangun? Kalau itu alasannya, gue nggak tertarik.”
Byza mengangguk cepat, netranya menyala penuh emosi. “Setuju! Kirei pikir dia bisa ambil semua keputusan sendiri, seenaknya. Padahal kita ini inti, kita punya suara. Dia pikir dengan vakum semua orang akan selamat? Omong kosong! Musuh justru makin gampang ngincar kita kalau kita pasif.”
Reynand memijat pelipisnya. Kopinya sudah dingin, tapi ia belum menyentuhnya sama sekali. “Kalian berdua terlalu emosional.”
“Emosional karena apa?” Byza langsung menyambar. “Karena gue peduli sama PE? Karena gue nggak mau kita terlihat pengecut di mata orang lain?”