Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
Rumah Keluarga Albercio berdiri sunyi di kawasan pinggiran kota, dikelilingi pagar besi tinggi dan pepohonan rindang yang meranggas setengah karena musim kemarau. Dari luar, rumah itu masih terlihat megah—arsitektur kolonial dengan sentuhan modern, kaca besar di luar, dan dinding batu yang kokoh.
Namun, bagi siapa pun yang pernah mengenalnya, keheningan rumah itu sekarang lebih mirip seperti tanda luka.
Dulu, suara tawa Arial dan obrolan hangat ayahnya—Alkeanan—mengisi setiap sudut. Sekarang, hanya ada satu orang yang menetap di dalam. Alzevin Giordano Albercio. Anak sulung, pewaris nama keluarga sekaligus satu-satunya yang tersisa untuk menjaga rumah itu tetap hidup.
Zevin baru saja menutup telepon dari Kirei. Ia sempat terdiam beberapa detik setelah sambungan terputus, memandangi layar ponsel yang kembali gelap. Wajahnya yang tegas tak menunjukkan banyak emosi, tapi sorot matanya jelas mengeras.
“Kirei … akan menginap di sini, ya?” gumamnya lirih, seakan sedang menimbang sesuatu yang lebih besar dari sekadar permintaan seorang adik teman lama.
Ia meletakkan ponsel di atas meja kayu panjang di ruang tamu, lalu bangkit. Langkah kakinya bergema pelan di lantai marmer, ritme yang terdengar jelas karena rumah itu terlalu sepi.
Pintu kayu tua itu berderit pelan ketika Zevin mendorongnya. Suara engsel yang tidak lagi mulus memantul di lorong sepi, seperti mengingatkan bahwa rumah itu sudah terlalu lama tidak dihuni sepenuhnya.
Begitu melangkah masuk, aroma khas rumah tua langsung menyambutnya—campuran kayu yang lembap, debu tipis yang menempel di karpet, dan samar-samar bau lavender dari pengharum ruangan yang sudah hampir habis. Zevin menghela napas pendek. Rumah ini dulu selalu ramai. Suara ayahnya yang berat, tawa Arial yang keras kepala, bahkan ocehan ringan saat mereka berkumpul di ruang tengah. Kini, hanya ada keheningan yang menekan.
Zevin menutup pintu perlahan. Ia menggantung jasnya di gantungan dekat pintu, lalu melepaskan jam tangan dari pergelangan. Gerakannya tenang, tapi netranya menyapu seisi ruangan seakan mencari sesuatu yang hilang. Mungkin, ia hanya butuh memastikan dirinya tidak sepenuhnya sendirian.
Tangannya menyusuri saklar, menyalakan lampu gantung di ruang tengah. Cahaya kuning redup mengalir ke dinding, memperlihatkan foto-foto keluarga yang masih tertata rapi di rak. Zevin berhenti sejenak di depan satu foto besar. Ia, Arial, dan ayah mereka, Alkeanan Gioveraldo Albercio, sedang berdiri di depan sebuah kapal. Wajah Arial penuh tawa di foto itu, senyum khas yang seperti menolak tunduk pada siapa pun. Zevin menatapnya lebih lama daripada yang ia mau, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.
“Aku harus menyiapkan kamar tamu,” gumamnya, mengingat telepon Kirei yang berkata kalau gadis itu akan menginap nanti.
Langkah Zevin menyusuri lorong menuju lantai dua. Lantai kayu berderit setiap kali diinjak, suara yang dulu tidak pernah mengganggu, tapi kini terdengar terlalu keras di tengah sunyi. Ia membuka pintu kamar tamu pertama—jendela tertutup rapat, debu tipis menempel di meja kecil, dan sprei yang kusut karena jarang dipakai.