Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
A.D.A.M Laboratory — 20 years ago
Alvano kecil menatap lampu laboratorium yang berkelip-kelip, netra milik bocah 8 tahun itu belum sepenuhnya memahami dunia di sekitarnya, tapi ia sudah bisa merasakan ketegangan yang menempel di udara. Bau logam dan cairan kimia yang tajam menusuk hidungnya. Tangannya masih kecil, ia menggenggam erat boneka kain yang sudah usang—satu-satunya pengingat dari rumah yang kini mulai terasa asing.
Di sekelilingnya, para ilmuwan bekerja dengan serius. Mengawasi tabung-tabung kaca, pipa yang bersilangan, dan monitor yang menampilkan angka-angka dan grafik bergerak. Alvano tahu—atau setidaknya ia merasakan—bahwa ada sesuatu yang salah. Suasana itu tidak normal, tapi belum ada yang bisa dijelaskan dengan kata-kata untuk anak seusianya.
DUAR!
Tiba-tiba, suara ledakan pertama mengguncang lantai laboratorium. Suara itu seperti pecahan langit yang jatuh di telinganya, disusul teriakan panik para ilmuwan. Tabung-tabung kaca pecah berhamburan, percikan api menari di udara, dan kabut uap kimia mulai memenuhi ruangan. Alvano kecil terhuyung, jatuh terduduk di lantai dingin dengan tangan yang masih menggenggam boneka.
Ia menoleh, melihat beberapa orang dewasa yang berlari ke arahnya. Tatapan mata mereka penuh kepanikan. Tangan mereka berusaha menggapai apa saja, tapi ada bagian laboratorium yang meledak lebih dahsyat. Alvano merasakan panas menyebar seketika, suara logam yang meledak dan pecahan kaca yang beterbangan.
“Alvano! Pegang tanganku!” teriak salah satu ilmuwan dewasa—suara itu samar, tapi cukup untuk membuat langkah kaki Alvano kecil bergerak.
Ia meraih tangan itu, mencoba berdiri. Akan tetapi, ledakan berikutnya berhasil menghentakkan seluruh tubuhnya. Tubuh kecil itu terdorong, tersandung di reruntuhan tabung kaca. Manik kecilnya mulai basah oleh asap dan debu. Ia mendengar jeritan, tangisan, dan teriakan—bukan hanya ilmuwan, tapi juga suara binatang yang terjebak di dalam laboratorium.
Di kejauhan, ia menangkap bayangan subjek eksperimen yang kabur—binatang-binatang yang selama ini dikurung di tabung kaca, sebagian bereaksi dengan kepanikan. Salah satunya, yang kemudian ia ketahui sebagai D-09 (D-Nine), panther hitam yang gagah, melesat keluar melalui pintu darurat yang terbuka akibat ledakan. Suara langkah kaki dan dengusan napas binatang-binatang itu bercampur dengan gema ledakan dan kaca pecah.
D-09 berlari, tubuhnya lincah dan gesit, naluri bertahan hidupnya lah yang menuntun setiap gerakannya. Ia merasakan kepanikan para ilmuwan dan aroma kematian yang menusuk, tapi juga sensasi aneh—kebebasan—yang membuat setiap ototnya tegang dan siap. Ia tahu hidupnya kini berada di ambang pilihan. Tetap menjadi salah satu subjek dari Project A.D.A.M, atau mengukir nasibnya sendiri di dunia luar yang asing.
Di antara kekacauan itu, Alvano melihat kedua orang tuanya mencoba menolongnya sambil menyelamatkan peralatan laboratorium penting. Namun, salah satu tabung besar yang menahan cairan berbahaya jatuh dan meledak, percikan kimia mengenai tubuh mereka. Suara jeritan mereka pecah di telinganya, membuat Alvano terhuyung dan menutup mata. Ia tidak mengerti sepenuhnya apa yang terjadi. Semua menjadi kabur—jeritan panik, api, asap, pecahan kaca—dan di tengah itu, ia hanya bisa merasakan satu hal. Yakni, rasa kehilangan yang dalam.