Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
Langit sudah sepenuhnya gelap ketika Geovan memutar kemudi dan keluar dari area parkir kafe. Hujan tipis masih turun, menetes di kaca depan, membuat lampu jalan terlihat berkilau kabur. Wiper bergerak ritmis, “klek—klek—klek,” seperti jarum jam yang menghitung perlahan. Suara mesin mobil terdengar rendah, hampir menyerupai dengung yang menenangkan bagi sebagian orang—tapi bagi Geovan, itu hanya latar untuk pikirannya yang terus bekerja.
Ia menggenggam setir dengan satu tangan, sementara tangan satunya mengetuk ringan di sisi pintu. Napasnya stabil, tapi tatapannya dingin, menatap jalan yang sepi di depannya. Sesekali, lampu kendaraan lain berpapasan, memantulkan kilatan cahaya ke wajahnya, memperlihatkan garis rahang yang kaku dan pandangan tajam seperti predator yang tengah menimbang buruannya.
“Kirei…” gumamnya lirih, hampir seperti menguji bagaimana nama itu terdengar di bibirnya.
Pikiran Geovan melayang kembali pada rapat sore tadi. Bagaimana gadis itu menunduk di kursi, berusaha menahan air mata, mencoba tetap terlihat kuat di depan semua orang. Sebagian dari dirinya masih bisa melihat sosok Kirei setahun lalu, yang dulu dengan tangan gemetar pertama kali memegang pistol. Geovan yang menuntunnya waktu itu—bagaimana menempatkan jari di pelatuk, cara mengendalikan napas, hingga bagaimana menghadapi ketakutan yang membuat tubuh membeku.
Dialah yang menempa Kirei, tapi sekarang Kirei berdiri di posisi pemimpin. Pemimpin yang menurutnya … lemah.
“Dia tidak pernah benar-benar lepas dari perasaan,” batinnya. “Dia bisa menembak tepat sasaran, bisa bertarung mati-matian. Tapi dalam mengambil keputusan? Dia masih gadis kecil yang mudah goyah.”
Geovan menyalakan rokok, menurunkan kaca sedikit agar asapnya bisa keluar. Bau tembakau bercampur dengan udara malam yang lembap. Api kecil dari korek menerangi wajahnya sebentar, menyoroti mata hitam yang penuh dengan keyakinan dingin.
Bagi Geovan, PE bukan sekadar kelompok pembunuh bayaran. Itu warisan, simbol kekuatan, dan jalan untuk membuktikan dirinya. Byzarvilous Yehezkiel, ayah Byza yang kini meringkuk di balik jeruji besi, telah lama menanamkan doktrin bahwa dunia ini milik mereka yang cukup berani untuk meraihnya dengan darah. Geovan masih ingat jelas kata-kata keras yang menempel di kepalanya.
“Pemimpin bukanlah orang yang dicintai, tapi orang yang ditakuti. Rasa hormat lahir dari ketakutan, bukan kasih sayang.”
Kirei tidak pernah bisa memenuhi standar itu.
Geovan menarik napas dalam, membiarkan asap rokok keluar perlahan. Dari kaca spion, ia melihat pantulan matanya sendiri. Sepasang mata dingin, tak ada keraguan di sana.
“Kalau dia terus memimpin dengan cara seperti ini, PE akan hancur lebih cepat daripada serangan musuh,” pikirnya. “Satu keputusan sentimentil saja bisa memicu runtuhnya segalanya.”