52 ☠ Project A.D.A.M: Fallout

12 1 0
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Argenia Military Hospital — Beberapa Jam Setelah Ledakan

Bau antiseptik menusuk hidung. Lampu-lampu putih menyorot lorong panjang yang sunyi, hanya diiringi suara roda ranjang pasien yang bergesekan dengan lantai ubin dan dengung listrik dari mesin pemantau. Di salah satu ruang isolasi, seorang bocah delapan tahun terbaring lemah di ranjang logam dengan tubuh dibalut perban.

Alvano Abyantara Deran.

Kelopak matanya bergerak pelan, lalu terbuka. Cahaya putih menyilaukan membuatnya menyipit. Sekilas ia melihat bayangan seseorang berdiri di sampingnya—bermantel abu-abu, wajahnya dipenuhi luka bakar kecil, tapi sorot matanya masih tajam dan tegas.

“Kakek …” Suara itu keluar serak dari bibir kecilnya.

Aryan menoleh. Dalam sekejap, raut kerasnya melunak. Ia menepuk bahu cucunya dengan lembut. “Tenang, Nak. Kau aman sekarang.”

Namun, kata aman terasa kosong. Di luar ruangan, suara sirene ambulans terus meraung. Perawat berlarian membawa brankar, dan di setiap lintasan bayangan itu, Alvano melihat serpihan dunia yang baru saja hancur. Asap masih keluar dari pakaian koyak di tubuhnya. Ada sisa jelaga di ujung jarinya—jejak dari laboratorium yang kini tinggal abu.

“Ayah … Ibu …” Suaranya bergetar. “Mereka ikut naik helikopter juga, kan, Kek?”

Aryan terdiam cukup lama sebelum menjawab. Ia menatap cucunya—mata kecil itu masih berisi harapan, tapi juga ketakutan. Akhirnya, ia menunduk.
“Mereka ... sudah pergi, Alvano.”

Bocah itu menatap lurus, tanpa suara. Seperti sesuatu di dalam dirinya baru saja runtuh. Dengan pelan, ia menutup wajahnya dengan tangan. Bahunya berguncang, tapi air matanya tidak banyak keluar—seolah tubuh kecilnya sudah terlalu lelah untuk menangis.

Aryan menatap pemandangan itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasakan penyesalan yang amat berat.
“Mereka mati dengan berani,” katanya pelan. “Ayahmu dan Ibumu menutup sistem inti supaya reaktornya tidak meledak lebih besar. Kalau bukan karena mereka, tak akan ada yang selamat—termasuk kau.”

Alvano menggeleng pelan, suara seraknya nyaris tak terdengar. “Tapi ... kenapa mereka harus mati? Siapa yang melakukan ini?”

Aryan menatap jendela, ke arah langit yang diselimuti asap hitam. “Pengkhianatan, Nak. Ada orang-orang yang menginginkan hasil penelitian kita. Mereka mencuri data Project A.D.A.M, lalu menghancurkan laboratorium agar tidak ada bukti yang tersisa.”

Ia membuka map hitam di tangannya, meletakkannya di meja. Lembaran-lembaran di dalamnya sebagian gosong, tapi masih terbaca. Di halaman depan, tertulis:

Project A.D.A.M — Animal Deviation and Adaptive Mutation
Kerja sama keluarga Darendra, Callsey, Albercio, Sean, dan Dirgantara.

NEXT PSYCHOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang