55 ☠ Rise of Resolve

9 1 0
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Pagi datang perlahan, seperti seseorang yang masih ragu untuk benar-benar menyingkap tirai malam. Cahaya pertama menerobos lewat celah jendela, jatuh lembut di lantai kayu kamar tamu yang ditempati Kirei di rumah besar milik Keluarga Albercio. Debu halus menari di udara, menandai bahwa kamar ini sudah cukup lama tidak disentuh tangan lain selain Zevin yang kemarin membersihkan kamar tamu supaya layak ditempati.

Kirei membuka mata perlahan. Selama beberapa detik, ia lupa di mana dirinya berada. Langit-langitnya terasa asing, aroma kopi tercium samar dari lantai bawah, dan suara lembut jam antik di dinding yang berdetak pelan-semua terasa seperti mimpi yang belum sepenuhnya terbentuk.

Baru setelah pandangannya menangkap mantel hitam milik Zevin yang tergantung di kursi dekat pintu, kesadarannya kembali perlahan. Ya, ia berada di rumah Keluarga Albercio sekarang. Ia ingat kalau ia menginap di sini semalam.

Kenangan dari malam sebelumnya kembali menyeruak di benak Kirei pagi itu. Ruang kerja yang dipenuhi peta dan data, percakapan dengan Zevin tentang hilangnya Arial dan Om Keanan, dan pengumuman vakum Psycho Elite yang masih menggema di kepalanya.

Seketika perutnya terasa kosong, tapi bukan karena lapar. Lebih karena kehilangan yang belum sempat ia tangisi.

Kirei duduk perlahan di tepi ranjang. Udara pagi yang menembus dari celah jendela membuat kulitnya menggigil ringan. Ia menarik selimut sebentar dan menatap cermin kecil di meja rias. Wajahnya di sana tampak pucat, matanya pun sembab, tapi masih ada sisa ketegaran di baliknya.

"Bangun, Kirei," gumamnya lirih. "Jangan pernah kelihatan lemah. Mama Melisa nggak akan suka kalau lihat kamu begini."

Ia menepuk pipinya pelan, lalu berdiri. Langkahnya tanpa suara ketika membuka pintu kamar. Koridor rumah itu panjang dan tenang. Dindingnya dipenuhi foto lama-potret Keluarga Albercio dalam berbagai masa dan momen. Salah satu foto menarik perhatiannya. Keanan dengan senyum hangat, memeluk dua anaknya yang masih kecil-Zevin dan Arial.

Kirei berhenti di depan foto itu cukup lama. Ada sesuatu dalam senyum Keanan yang membuat dadanya sesak.
"Om Keanan ..." bisiknya, hampir tanpa suara. "Om pasti tahu sesuatu, 'kan? Penyebab kemalangan bertubi-tubi yang menimpa orang-orang di sekitarku beberapa waktu terakhir."

Ia mengembuskan napas, lalu melanjutkan langkah ke lantai bawah dengan perasaan bergemuruh. Tangga kayu itu berderit pelan di bawah kakinya, seolah ikut menahan napas bersama seisi rumah.

Begitu sampai di bawah, aroma kopi hitam menyambutnya. Dapur itu hangat-sederhana tapi rapi, dengan cahaya matahari menerobos lewat jendela besar. Zevin berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Rambutnya masih sedikit berantakan, tanda bahwa ia belum benar-benar tidur semalam.

Tanpa menoleh, Zevin sepertinya sudah tahu kalau Kirei baru saja tiba. Ia berkata diselingi sindiran dalam kalimatnya, "Pagi cepat sekali datang untuk seseorang yang katanya mau istirahat dan rebahan seharian."

NEXT PSYCHOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang