53 ☠ D-09: The Memory of Fire

6 1 0
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Malam itu dunia berwarna merah. Langit seolah meneteskan darah, menyelimuti tanah dengan cahaya muram dari kobaran laboratorium yang runtuh. Api menjilat reruntuhan logam dan beton, menari di atas puing-puing yang masih berasap. Bau logam, belerang, dan daging terbakar membentuk kabut panas yang menyelimuti lembah.

Di antara kehancuran itu, sesuatu bergerak. Suara berat langkah diseret, bergema di antara batang baja yang melengkung. Seekor panther hitam muncul dari balik reruntuhan pintu logam yang sudah meleleh. Tubuhnya tinggi, berotot, dan berlumur jelaga; tapi setiap langkahnya tersendat. Ada luka bakar memanjang di sisi wajahnya, dan di bawah bulu legam, kulitnya robek oleh pecahan kaca. Darah menetes, membentuk garis merah di atas debu hitam.

Namun matanya—sepasang mata kuning keemasan—tetap terbuka. Mereka memantulkan nyala api dari laboratorium yang runtuh, seperti dua bintang yang menolak padam di langit yang sudah mati.

D-09.

Itu identitas yang terukir di plat logam kecil di lehernya, bergemerincing lemah di antara bulunya. Ia tidak tahu arti huruf dan angka itu, tapi suara mereka terasa akrab—seolah ribuan kali diulang di udara dingin laboratorium.

“Subjek D-09 menunjukkan tingkat adaptasi paling tinggi.”

“Naikkan dosis serum.”

“Lihat pupilnya—aktivitas korteks naik.”

“Dia melihat kita.”

Suara-suara itu seperti bayangan yang menempel di pikirannya, tak bisa dihapus oleh api atau hujan. Setiap langkah menjauh dari reruntuhan, gema mereka terdengar makin samar, tapi tak hilang.

D-09 menuruni lereng batu yang retak, melangkah melewati kawah hitam bekas ledakan. Udara panas masih menekan paru-parunya. Ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang—ke arah tempat asalnya yang telah hancur menjadi abu. Di sana, warna merah masih membakar langit malam. Untuk sesaat, angin yang bertiup membawa aroma besi, dan bersamanya muncul sesuatu yang asing. Rasa kehilangan.

Ia tidak tahu kata itu, tapi dadanya terasa berat, seolah ada sesuatu yang tertinggal di antara puing-puing itu.

Ia kembali berjalan. Setiap langkah meninggalkan bercak darah di tanah. Luka di kakinya mulai kaku, tapi ia tidak berhenti. Satu-satunya naluri yang ia pahami hanyalah menjauh dari manusia.

Ketika angin malam mulai dingin, ia berhenti di pinggir lembah. Dari kejauhan, dunia tampak asing dan sunyi. Tak ada dinding kaca. Tak ada suara mesin. Tak ada tangan manusia yang memegang jarum. Dunia terbuka luas di hadapannya—dan anehnya, itu membuatnya takut.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia benar-benar bebas. Tetapi kebebasan itu terasa seperti kehampaan.

Dalam laboratorium, ia tidak pernah sendirian. Selalu ada langkah kaki, suara catatan, kadang teriakan. Akan tetapi, di antara semua itu, ada satu suara yang berbeda—lembut, rendah, dan tidak dingin seperti yang lain.

NEXT PSYCHOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang