49 ☠ The Fracture Within

20 4 5
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Markas ADD Legion berdiri di balik sebuah gudang tua di kawasan industri pinggir kota. Dari luar, bangunannya tampak kumuh, seolah sudah lama ditinggalkan. Cat dindingnya mengelupas, pintu besi berkarat, dan jendela sebagian besar tertutup papan kayu. Akan tetapi, di balik fasad usang itu, jantung organisasi berdetak dengan teratur. Ruang bawah tanah penuh teknologi mutakhir, peralatan cyber, dan ruang strategi yang dirancang menyerupai pusat komando militer.

Lampu neon putih menerangi ruangan utama. Beberapa monitor besar menempel di dinding, menampilkan peta kota, data lalu lintas komunikasi, serta potongan berita tentang kecelakaan mobil yang menimpa Alkeanan dan Arial. Suara keyboard dan kipas pendingin mesin server jadi latar musik di ruangan itu.

Alvino Rickardo—atau yang biasa dipanggil Vino—duduk di depan meja panjang penuh kabel dan perangkat keras. Jemarinya menari di atas keyboard mekanik dengan ritme cepat. Mata tajamnya fokus pada kode yang terus bergulir di layar. Sesekali ia menyesap kopi hitam yang sudah dingin. Di sebelahnya, layar lain menampilkan detail akun-akun pribadi milik anggota Psycho Elite, juga rekaman CCTV yang ia bajak dari beberapa titik jalan.

Tak jauh dari sana, Zenin Aldiga Kovalen duduk menyandarkan tubuh di kursi dengan santai. Rambutnya yang agak berantakan menutupi sebagian wajah, tapi sorot matanya tajam mengawasi layar Vino. “Lo terlalu terburu-buru,” komentarnya datar. “Kalau lo jebol firewall dengan pola itu, sistem bisa menandai kita.” Nada bicaranya tenang, tapi ada sinis tipis di baliknya. Zen selalu begitu—dingin, penuh kalkulasi, selalu tampak tahu lebih banyak dari yang ia katakan.

Di sudut lain, Dennata Alea duduk sendirian di kursi dekat dinding. Ia memainkan pisau lipat kecil di tangannya, membuka dan menutupnya berulang kali. Ekspresinya tanpa senyum, tapi tatapannya menyimpan bara. Sesekali pandangannya berhenti pada selembar foto kusut di meja kecil di sebelahnya, foto Geovan yang terselip di balik catatan usang. Jemarinya menekan gagang pisau lebih kuat setiap kali nama itu terlintas di pikirannya.

Gregorius Kennant, berbeda dari yang lain, membawa energi yang lebih hidup. Ia sedang berdiri, memantul-mantulkan bola basket kecil di lantai ruangan, dribble pelan sambil bersiul. Kaos longgar dan posturnya yang tegap bikin dia tampak lebih seperti atlet kampus daripada anggota geng kriminal. “Kalian ini terlalu tegang,” katanya sambil tersenyum tipis. “Santai sedikit, toh target kita masih sibuk dengan drama internal mereka.”

Alvano Abyantara Deran, kakak sepupu Davin yang juga dikenal sebagai dokter pribadi Keluarga Callsey, tampak paling tenang. Ia duduk di kursi dengan segelas teh hangat di tangan, membaca catatan medis yang ia bawa. Dari semua yang ada di ruangan itu, Alvano terlihat paling normal—berpenampilan rapi, berwajah ramah, suaranya lembut. Akan tetapi, justru itulah yang membuatnya berbahaya. Wajah yang bisa dipercaya adalah topeng terbaik.

Kriettt!

Pintu besi berdecit ketika terbuka. Suara langkah sepatu berat terdengar menghantam lantai beton. Semua kepala refleks menoleh. Davin masuk.

NEXT PSYCHOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang