38 ☠ Between Mission and Feeling

27 2 0
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Kirei menatap pemandangan malam dari balik jendela besar yang berada di kamar markas dengan pikiran melanglang buana. Keputusannya yang berniat untuk memecah PE menjadi dua kubu membuat ia bimbang. Apakah ini adalah pilihan yang terbaik bagi mereka? Ataukah ini justru awal dari mala petaka sebenarnya?

Kirei tidak tahu.

Ia bingung.

Di saat-saat seperti ini, entah kenapa ia jadi teringat dengan kakak laki-lakinya, Arkenzo Callisto.

Kakaknya itu pasti menanggung banyak sekali beban selama dia hidup, tapi dia tidak pernah menunjukkan perasaannya pada siapapun. Kak Enzo lebih banyak memendam semuanya seorang diri dan bertindak sesuai naluri.

Tangan Kirei terkepal kuat seiring dengan rasa sesak yang mulai memenuhi rongga dada. Setahun sudah berlalu, dan Kirei tetap belum bisa menyembuhkan luka yang telah ditorehkan orang-orang itu padanya.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu membuat Kirei terkesiap. Gadis itu spontan mendongak dan menatap jam dinding yang terletak tepat di atas pintu kamarnya. Pukul 00.00 tepat tengah malam. "Siapa yang mengetuk pintu kamarku malam-malam begini?" Kirei bergumam sembari beranjak untuk membuka pintu.

Ceklek!

"Davin?"

Memang. Tidak biasanya Davin berada di markas saat tengah malam seperti ini. Selama setahun terakhir mengenal Abryan Davin, Kirei tidak pernah sekalipun mendapati Davin berada di markas saat malam hari, apalagi sampai menginap. Laki-laki itu biasanya akan pulang saat senja, sebelum malam menjelang. Katanya sih, biar mamanya tidak marah karena dia pulang larut malam.

Davin beruntung karena masih memiliki orang tua yang lengkap.

Tidak seperti dirinya.

"Ada apa?"

Bukannya menjawab, Davin malah langsung masuk ke dalam kamar Kirei dan menutup pintu di belakangnya. Suara engsel pintu berderit pelan, seakan keberatannya sendiri mendengar pintu itu ditutup terlalu tergesa. Cahaya lampu meja di sudut kamar tampak redup, memantulkan bayangan lembut di dinding dengan warna pastel tersebut.

Ia beranjak mendekati Kirei yang tengah duduk di dekat jendela terbuka. Angin malam menyusup masuk, membawa aroma hujan yang baru reda bercampur dengan dinginnya logam pagar besi dari luar. Tirai tipis bergoyang perlahan, menepuk bahu Kirei yang masih duduk tegak memandang gelapnya halaman markas dari jendela kamarnya.

"Kukira kamu sudah pulang. Tumben sekali," tutur Kirei setelahnya. Suaranya terdengar datar, seakan pikirannya masih tertambat pada sesuatu di luar jendela.

"Ada sesuatu yang ingin kupastikan," kata Davin dengan tangan terulur untuk merapikan beberapa helai surai hitam Kirei yang sedikit berantakan karena tersapu angin malam. "Kudengar ... kamu ingin memecah PE jadi dua kubu. Kenapa?"

Manik cokelat madu Kirei seketika melebar dan ia spontan mendongak ke arah laki-laki di depannya dengan bibir terkatup rapat, seperti menahan kata-kata yang belum siap keluar. Udara di antara mereka mendadak tegang, seolah keheningan kamar ikut menunggu jawabannya.

"Kamu ... tahu dari mana?"

Davin hanya mengangkat bahu, menjauhkan tangannya dari surai hitam Kirei. Suara gesekan halus terdengar ketika ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian di ruang rapat."

Kirei terhenyak. Ia tidak menyangka kalau Davin akan mendengar percakapan para inti. Padahal, sebelum memulai rapat, Byza sudah memastikan kalau tidak ada siapapun yang berkeliaran di sekitar lantai tiga markas. Mengingat hari sudah malam, lantai itu semestinya kosong. Ia sendiri tidak menyangka kalau Davin akan langsung bertanya perihal apa yang didengar laki-laki itu padanya.

"Ohh."

"Ohh?" Davin mengangkat sebelah alisnya, sorot matanya menyipit dalam cahaya lampu temaram. Respon ogah-ogahan yang keluar dari mulut Kirei membuat atmosfer kamar kian sesak. "Jadi kamu benar-benar akan memecah PE jadi dua kubu?"

Kirei mengangguk tanpa beban, meski nada suaranya terdengar lebih dingin dibanding biasanya. "Aku punya alasan, dan aku tidak harus memberitahu padamu tentang alasanku juga, 'kan?"

Bibir Davin terkatup rapat. Ia memperhatikan Kirei beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Tidak biasanya Kirei berbicara sesarkas ini padanya. Apakah masalah yang terjadi beberapa waktu terakhir berhasil mengacaukan gadis itu?

"Jangan gegabah, Rei."

"Pergilah, Davin. Keputusan akhir akan kuberitahu besok saat para anggota sudah datang. Kamu juga tidak mungkin menginap di markas malam ini, 'kan?"

Laki-laki dengan potongan rambut undercut itu benar-benar dibuat bungkam sekarang. Tatapannya tertahan pada Kirei yang masih duduk di tepi jendela, siluet wajahnya disinari lampu nakas yang bersinar temaram, bercampur dengan cahaya bulan yang masuk dari balik tirai tipis jendela. Ada guratan dingin dalam suara gadis itu, seolah ia menutup semua pintu agar Davin tak bisa masuk lebih jauh ke ruang batinnya.

Ya, seharusnya Davin merasa senang karena telah berhasil mengacaukan Kirei—target utama dalam misi balas dendamnya. Setiap kalimat pedas, setiap keputusan gegabah yang keluar dari mulut gadis itu, mestinya menjadi bahan bakar untuk niat jahatnya.

Namun entah mengapa, bukannya puas, hatinya justru terasa gelisah.

Perasaan Kirei bukanlah hal yang penting baginya.

Ya, benar.

Itu tidak penting sekarang.

Yang terpenting, ia sudah berhasil mengacaukan PE dan para pimpinannya dari dalam. Tinggal menunggu waktu sampai mereka semua yang terlibat dengan insiden dua puluh tahun silam benar-benar hancur.

Tanpa sepatah kata pun, Davin meraih gagang pintu. Engsel berderit lirih ketika pintu dibuka, mengizinkan dinginnya koridor gelap menyusup masuk. Ia melangkah keluar tanpa suara, meninggalkan Kirei bersama angin malam yang masih menembus jendela terbuka.

Baik Kirei maupun Davin sendiri merasa kalau jarak yang terbentang di antara mereka berdua kini semakin terlihat jelas. Kirei bahkan sudah mengerti, kalau sejak awal ... Davin tidak pernah serius tentang hubungan mereka. Itulah kenapa ia biarkan saja hubungan tanpa status ini tetap berjalan. Ia juga tidak ada niatan untuk meminta kepastian hubungan pada laki-laki yang entah sadar atau tidak telah menjadi sosok yang paling ia butuhkan di tengah kekacauan dalam hidupnya saat ini.

Namun, Kirei sudah bertekad kalau ia tidak akan bergantung pada orang lain lagi. Sebab ia sadar, karena latar belakang keluarganya, setiap orang yang dekat dengannya mau tidak mau pasti akan ikut terlibat. Begitulah yang ia simpulkan mengenai kasus yang menimpa Bang Nathan dan Arial. Bukan tidak mungkin kalau anggota PE yang lain juga akan terkena imbasnya, 'kan?

Kirei tidak ingin itu terjadi.

PE dan para anggotanya adalah rumah kedua bagi Kirei, dan sebisa mungkin, ia ingin semuanya tetap aman.

Biarlah ia yang menanggung semuanya seorang diri.



•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
NEXT PSYCHOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang