Part 41 ( Antara Penyesalan dan Ketakutan)

214 13 7
                                        

.....

Malam itu, suasana rumah orang tua Ridho di Surabaya terasa hening. Ridho duduk termenung di ruang keluarga, ditemani secangkir teh hangat yang diseduh ibunya. Sejak Salma pergi ke Semarang, hatinya tak pernah benar-benar tenang. Ia sudah menceritakan semuanya pada kedua orangtuanya, dan malam itu, mereka kembali mencoba menasihati.

“Do, kamu harus sabar,” ucap ayahnya dengan nada tenang. “Wanita kalau sudah hamil besar itu perasaannya lebih peka. Jangan keras kepala, apalagi masih ada perempuan lain yang mengusik.”

Ridho menghela napas panjang, menundukkan kepala. “Aku tahu, Pak, Bu… aku salah. Aku terlalu membiarkan Saskia terus mendekat. Padahal yang aku cintai itu hanya Salma. Aku ingin sekali minta maaf langsung, tapi Salma menolak ketemu.”

Ibunya mengelus bahu Ridho, suaranya lembut tapi penuh kekhawatiran. “Nak, cepatlah kamu susul Salma. Jangan ditunda-tunda. Perempuan itu kalau merasa sendirian, dia bisa semakin sakit hatinya. Ingat, kandungannya sudah besar.”

Belum sempat Ridho menjawab, ponselnya yang tergeletak di meja tiba-tiba berdering keras. Nama Ibu Mertua tertera di layar. Jantung Ridho langsung berdegup kencang, firasat buruk menyergap.

Dengan tangan gemetar ia mengangkat telepon itu.
“Halo, Bu? Bagaimana kabarnya Salma?”

Suara di seberang terdengar terbata-bata, panik.
“Ridho… Nak, Salma dilarikan ke rumah sakit! Dia kesakitan, seperti kontraksi… padahal usia kandungannya baru delapan bulan! Sekarang kami ada di IGD, dokter bilang kemungkinan besar bayi harus dilahirkan lebih cepat.”

Ridho sontak berdiri, wajahnya pucat pasi. “Apa?! Bu, bagaimana keadaan Salma sekarang?!”

“Dia lemah, Nak. Dia terus memanggil namamu… cepatlah ke sini. Rumah Sakit Umum Semarang. Tolong, Ridho…” suara ibunya Salma pecah oleh tangisan.

Ridho hampir tak bisa bernapas, air matanya menggenang. “Ya Allah… Bu, tolong jaga Salma. Saya berangkat sekarang juga!”

Telepon terputus. Ridho menjatuhkan ponselnya ke sofa, wajahnya hancur. Ibunya langsung panik.
“Do, ada apa?!”

Ridho menatap kedua orangtuanya dengan mata berkaca-kaca. “Bu… Pak… Salma di rumah sakit. Dia kontraksi… bayinya harus lahir sekarang, padahal belum cukup bulan!”

Suasana rumah langsung berubah tegang. Ayah Ridho berdiri cepat. “Cepat berangkat, Do! Jangan tunggu besok! Ayah antar ke bandara sekarang juga.”

Ridho mengangguk cepat, matanya basah. Ia berlari ke kamar mengambil tas dan jaket, sementara ibunya ikut menyiapkan beberapa barang.

Sambil berjalan tergesa menuju mobil bersama ayahnya, Ridho berdoa lirih, air matanya menetes.
“Ya Allah, lindungi istriku… lindungi anakku. Jangan ambil mereka dariku. Aku janji akan perbaiki semuanya…”

Mobil pun melaju kencang menuju bandara Juanda, meninggalkan rumah dengan suasana penuh kecemasan.

__

Perjalanan dari Surabaya ke Semarang terasa seperti mimpi buruk bagi Ridho. Di sepanjang perjalanan, dadanya sesak, pikirannya penuh ketakutan. Setiap kali menatap layar ponsel, ia berharap ada kabar bahwa Salma dan bayinya selamat. Namun pesan yang masuk hanya membuatnya makin cemas — “Salma sedang di ruang bersalin.”

Begitu tiba di rumah sakit, Ridho langsung berlari menuju ruang IGD. Nafasnya tersengal, langkahnya tergesa, matanya mencari wajah yang ia rindukan.
Di depan ruang bersalin, ia melihat ayah dan ibu Salma duduk gelisah.

Ridho langsung menghampiri mereka. “Bu… Pak…” suaranya nyaris tak keluar.

Ibu Salma menoleh, matanya sembab. “Ridho, Nak… kamu datang juga,” ucapnya lirih, penuh kelegaan tapi juga duka.

Ridho menunduk dalam, air matanya menetes. “Saya minta maaf, Bu… Saya terlambat. Bagaimana Salma sekarang?”

“Dia masih di dalam, Nak,” jawab ibu Salma dengan suara serak. “Dokter bilang tekanan darahnya tinggi, dan bayinya harus segera dikeluarkan. Tapi kamu harus kuat, ya. Salma terus memanggil namamu…”

Ridho menatap pintu ruang bersalin yang tertutup rapat, napasnya berat. Ia menekan dada, seolah menahan perih. “Ya Allah, jangan biarkan aku kehilangan mereka…”

Ayah Salma menepuk bahunya pelan. “Nak, banyak berdoa. Kalau semua sudah selesai, bicara baik-baik sama Salma. Jangan ulangi kesalahanmu.”

Ridho hanya bisa mengangguk, menatap kosong ke arah pintu. Waktu terasa berjalan sangat lambat.

Setelah hampir dua jam yang terasa seperti seumur hidup, lampu di atas pintu ruang bersalin padam. Seorang dokter keluar, wajahnya lelah tapi tersenyum tipis.
“Alhamdulillah… ibu dan bayi selamat. Bayinya lahir prematur, tapi cukup kuat. Ibu butuh istirahat sekarang.”

Ibu Salma langsung menangis haru, menutup wajah dengan kedua tangannya. Ridho terpaku, tubuhnya lemas oleh lega dan tangis yang tertahan.
“Alhamdulillah…, terima kasih ya Allah…”

Beberapa saat kemudian, seorang perawat membawa keluar bayi mungil dalam selimut putih, menuju ruang perawatan bayi. Ridho berdiri, air matanya langsung jatuh ketika melihat wajah kecil itu — mungil, merah muda, dan begitu rapuh.

“Ini… anak saya?” suaranya bergetar.

Perawat tersenyum lembut. “Iya, Pak. Bayinya laki-laki. Boleh diadzani sekarang sebelum kami bawa ke ruang inkubator.”

Ridho mengangguk cepat, menahan air mata yang tak berhenti menetes. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi kecil bayinya dengan gemetar. Lalu, dengan suara bergetar tapi tegas, ia mulai melafalkan adzan di telinga kanan putranya:

> “Allahu akbar… Allahu akbar…”

Suaranya lirih tapi penuh haru. Setiap kalimat yang keluar terasa seperti penebusan — seolah ia sedang berjanji di hadapan Allah untuk menjadi ayah yang lebih baik.
Air matanya jatuh satu per satu di pipinya sendiri, tapi ia terus melanjutkan hingga selesai.

Ketika adzan terakhir terucap, Ridho menunduk mencium kening kecil putranya. “Selamat datang di dunia, Nak… Maaf kalau ayah belum sempurna. Tapi ayah janji, ayah akan jaga kamu dan ibumu seumur hidup.”

Perawat tersenyum dan membawa bayi itu dengan hati-hati ke ruang perawatan. Ridho berdiri mematung, dadanya terasa sesak — bukan karena sedih, tapi karena campuran bahagia dan rasa bersalah yang menumpuk.

Tak lama kemudian, ia dipersilakan masuk ke ruang perawatan Salma.
Salma terbaring lemah di ranjang, wajahnya pucat tapi damai. Matanya terbuka perlahan ketika mendengar langkah Ridho mendekat.

“Mas…” panggilnya lirih.

Ridho langsung menggenggam tangan Salma dan menunduk, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Sayang… maafkan Mas. Mas datang terlambat. Tapi semuanya sudah selesai, kamu dan bayi kita selamat…”

Salma tersenyum samar, air matanya mengalir. “Salma dengar adzan tadi… itu suara Mas, ya?”

Ridho mengangguk pelan. “Iya, Sayang. Mas yang adzanin dia. Anak kita laki-laki, kuat seperti kamu.”

Salma menatap langit-langit, lalu menoleh pada Ridho. “Aku cuma mau satu hal, Mas… tolong jangan biarkan luka ini terulang. Aku capek berjuang sendirian.”

Ridho menggenggam tangan istrinya lebih erat. “Mas janji, Sayang. Setelah malam ini, nggak akan ada siapa pun di antara kita lagi. Aku akan perbaiki semuanya… demi kamu dan anak kita.”

Salma mengangguk pelan, menatap wajah Ridho yang penuh tangis dan penyesalan. “Aku percaya, Mas…”

Ridho menunduk, mencium punggung tangan istrinya lama sekali, seolah ingin menebus semua waktu yang hilang.
Di sudut ruangan, suara lembut bayi mereka terdengar menangis kecil — suara yang menjadi saksi awal lembaran baru kehidupan mereka.

Bagaimana di part ini para Readers? Sudahkan menyentuh lubuk hati kalian yang terdalam?
Jangan lupa vote dan comen tentang pendapat kalian ya, love you❤️❤️

S untuk Salma (Rizky Ridho Ramadhani)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang