Part 39 ( Semarang )

191 10 6
                                        

____

Sore itu, matahari Jakarta mulai meredup. Latihan Persija berakhir lebih lambat dari biasanya karena pelatih menambah porsi fisik. Ridho pulang dengan tubuh lelah, kaos latihannya basah oleh keringat. Tapi di kepalanya, hanya ada satu hal-ingin cepat-cepat sampai rumah, melepas rindu pada Salma, dan berharap istrinya sudah sedikit melunak setelah pertengkaran beberapa hari terakhir.

Mobilnya memasuki halaman rumah. Ridho turun sambil tersenyum tipis, membayangkan Salma menyambut di pintu dengan wajah manisnya. Namun, sesampainya di depan pintu, ia merasakan sesuatu yang janggal. Rumah itu... sepi. Tidak ada suara televisi, tidak ada aroma masakan, bahkan sandal Salma tidak ada di teras.

Dengan cepat Ridho membuka pintu.
"Assalamualaikum, Sayang... mas pulang," ucapnya, berusaha terdengar riang.

Hening.

Ia meletakkan tas olahraga, lalu berjalan ke ruang tamu, menyalakan lampu. Ruangan itu rapi, terlalu rapi. Tidak ada jejak keberadaan Salma. Perasaan aneh mulai merayapi dadanya. Dengan langkah cepat, Ridho menuju kamar.

Kamar itu... kosong. Lemari sedikit terbuka. Beberapa pakaian Salma sudah tidak ada. Hati Ridho berdegup keras, tangannya langsung bergetar.

"Salma... jangan bilang kamu-"

Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sebuah amplop putih di atas meja rias. Tertulis dengan tulisan tangan yang ia kenal betul: Untuk Mas Ridho.

Napas Ridho tercekat. Ia mengambil amplop itu dengan hati-hati, seperti takut isinya akan mengubah segalanya. Perlahan ia buka, lalu membacanya.

---

Isi surat Salma:

> Mas Ridho,
Assalamualaikum

Salma pamit. Maaf kalau Salma pergi dengan cara seperti ini. Salma sudah terlalu lelah menahan sakit hati, terlalu capek terus merasa ragu dengan cinta kita. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri.

Salma pulang ke Semarang, ke rumah bapak dan ibu. Aku ingin menenangkan hati, menjauh dari semua bayangan Saskia yang masih ada di sekeliling Mas.

Mas, aku sayang sama kamu, tapi aku tidak bisa hidup dalam keraguan. Aku ingin Mas menyelesaikan semua masalah, membereskan masa lalu, dan buktikan kalau yang ada di hati Mas hanya aku seorang.

Jangan cari aku dulu. Kalau Mas benar-benar tulus, Mas pasti tahu cara untuk membuat aku kembali.

- Salma.

---

Begitu selesai membaca, Ridho jatuh terduduk di tepi ranjang. Surat itu bergetar di tangannya, matanya panas, lalu air mata jatuh deras tanpa bisa ditahan.

"Salmaa..." suaranya parau, nyaris tak keluar. "Kenapa kamu pergi kayak gini, Sayang..."

Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, tubuhnya terguncang hebat. Perasaan bersalah menghantam keras. Semua kenangan bersama Salma berputar di kepalanya-tawa, doa bersama, momen sederhana menonton TV selepas Isya. Semua terasa seperti harta berharga yang tiba-tiba direnggut.

Ridho mencoba menelepon Salma, berkali-kali, tapi tak diangkat. Nomornya aktif, tanda istrinya benar-benar membawa ponselnya, tapi Salma memilih diam.

"Ya Allah..." Ridho menatap langit-langit kamar, air mata mengalir tanpa henti. "Aku salah... aku terlalu bodoh... Aku janji Sayang, aku bakal buktiin kalau aku cuma milik kamu."

Ia meremas surat itu erat-erat, seolah tak ingin terlepas. Hatinya hancur, rumah itu kini hanya sunyi tanpa Salma.

___

S untuk Salma (Rizky Ridho Ramadhani)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang