Pagi itu bandara terasa lebih dingin dari biasanya.
Ridho berdiri dengan jaket timnasnya, ransel tergantung di bahu. Di depannya, Salma menggendong Mikail yang masih terlelap, wajah kecilnya tersembunyi di dada ibunya.
“Kalian yakin pulang hari ini?” tanya Ridho pelan.
Salma mengangguk.
“Iya, mas. Mikail masih terlalu kecil buat ikut perjalanan jauh. Lagi pula… di Surabaya ada mama sama papa.”
Ridho menunduk, mengusap jari Mikail perlahan.
“Mas berat ninggalin kalian.”
Salma tersenyum tipis.
“Ini cuma sementara. Mas berangkat buat negara.”
Ridho menarik napas panjang, lalu memeluk Salma hati-hati agar tidak menekan Mikail. Pelukan itu lama, seolah ingin menyimpan kehangatan untuk hari-hari yang akan berjauhan.
“Jaga diri baik-baik,” kata Salma pelan.
“Kamu juga, sayang.”
Pengumuman keberangkatan terdengar. Para pemain mulai bergerak menuju gate.
Ridho melangkah beberapa langkah, lalu menoleh kembali.
“Doain mas ya, mas pamit, Assalamualaikum.”
Salma mengangguk mantap. “Selalu, Waalaikumsalam.”
Ridho tersenyum, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi, bukan karena tak ingin, tapi karena tahu, jika ia menoleh sekali lagi, langkahnya akan terlalu berat.
Malam di Surabaya terasa tenang.
Salma duduk di ruang keluarga rumah mereka, Mikail tertidur di ayunan kecil di samping sofa. Televisi menyala menampilkan siaran langsung pertandingan timnas dari Korea.
Nama Ridho terpampang di layar sebagai center back utama.
Salma merapatkan selimut Mikail, lalu duduk kembali menatap layar. Tangannya menggenggam ponsel, pesan singkat dari Ridho masuk tepat sebelum kick-off.
“Mas main buat kalian.”
Salma menahan senyum dan air mata.
“Main yang baik, mas,” gumamnya.
Ketika kamera menyorot Ridho di lapangan, berdiri tegap di lini belakang, Salma tahu satu hal:
Jarak memang memisahkan mereka malam ini.
Tapi tujuan mereka tetap sama.
Salma menatap layar televisi dengan penuh keyakinan, bukan sebagai istri pemain, tapi sebagai rumah yang menunggu dengan sabar.
Stadion di Korea dipenuhi cahaya putih. Udara dingin menusuk, napas Ridho terlihat samar setiap kali ia menarik napas dalam-dalam.
Ia berdiri di lini belakang, memandang tribun yang tak henti bergemuruh.
“Fokus, Do,” suara Arhan terdengar dari sisi kiri.
Ridho mengangguk. “Siap.”
Peluit dibunyikan.
Menit-Menit yang Tegang
Sejak awal, Korea bermain cepat. Umpan-umpan pendek, pergerakan tanpa bola, dan tekanan tinggi membuat lini belakang Indonesia harus bekerja ekstra.
Menit ke-17.
Penyerang Korea lolos dari jebakan offside.
Ridho berlari mengejar, membaca arah bola dengan tenang. Tepat sebelum kaki lawan menyentuh bola, Ridho melakukan tekel bersih. Bola terlempar keluar lapangan.
Sorakan penonton Korea berubah jadi gumaman kecewa.
“Nice, Dho!” teriak Marselino.
Ridho mengangkat tangan singkat. Fokusnya tak goyah.
Surabaya, Ruang Keluarga
Di Surabaya, Salma menatap layar televisi tanpa berkedip. Mikail tertidur di gendongan kain di dadanya.
Setiap kali kamera menyorot Ridho, Salma menahan napas.
“Tenang, mas… tenang,” bisiknya.
Babak Kedua
Menit ke-61.
Korea mendapatkan sepak pojok.
Ridho berdiri tepat di tengah kotak penalti, memberi aba-aba pada rekan-rekannya. Bola melayang tinggi.
Ridho melompat, menyundul bola keluar area berbahaya.
Tubuhnya terjatuh keras ke rumput, tapi ia langsung bangkit.
Coach Shin di pinggir lapangan bertepuk tangan kecil.
Menit ke-83.
Korea hampir mencetak gol. Tendangan keras dari luar kotak penalti ditepis Ernando, bola muntah mengarah ke striker lawan.
Ridho menutup ruang, menjatuhkan badan, dan memblok bola dengan paha.
Rasa perih menjalar, tapi Ridho tetap berdiri.
Ia menepuk dadanya sendiri, menarik napas panjang.
“Bertahan,” gumamnya. “Buat kalian.”
Peluit Akhir
Skor bertahan imbang.
Ridho berdiri terdiam sesaat setelah peluit panjang berbunyi. Dadanya naik turun, keringat bercampur embun dingin.
Di Surabaya, Salma menutup mata sebentar, lalu tersenyum lega. Ia menatap Mikail yang masih tertidur.
“Ayah main hebat,” bisiknya.
Pesan Singkat
Tak lama setelah pertandingan, ponsel Salma bergetar.
Ridho: “Mas masih utuh. Kamu sama Mikail gimana?”
Salma tersenyum, mengetik pelan.
Salma: “Kami baik-baik saja. Terima kasih sudah pulang dengan selamat, meski lewat layar.”
Ridho membaca pesan itu di ruang ganti. Untuk pertama kalinya malam itu, bahunya benar-benar rileks.
Jarak masih ada.
Tapi hati mereka tak pernah pergi ke mana-mana.
Lorong stadion sudah sepi ketika Ridho berjalan tertatih ringan menuju ruang medis. Rasa nyeri di pahanya mulai terasa jelas setelah adrenalin pertandingan menghilang.
“Cuma memar,” kata dokter tim sambil menekan perlahan area yang diblok Ridho tadi.
“Besok aman, asal istirahat.”
Ridho mengangguk. Baginya, rasa sakit itu kecil bahkan nyaris tak berarti dibanding rasa lega karena pertandingan terlewati.
Kamar Hotel
Malam di Korea terasa asing. Lampu kamar hotel redup, hanya suara pendingin ruangan yang menemani.
Ridho duduk di tepi ranjang, membuka ponsel. Jarum jam sudah menunjukkan lewat tengah malam di Korea, tapi di Surabaya baru menjelang tidur.
Ia menekan tombol video call.
Layar menyala.
Salma muncul dengan wajah lelah tapi tenang. Rambutnya terikat asal, lampu kamar temaram.
“Assalamualaikum mas,” panggilnya pelan.
Ridho tersenyum kecil. “ Waalaikumsalam sayang, Mikail?”
Salma menoleh ke samping kamera. “Tidur. Dari tadi habis nonton ayah di TV.”
Ridho tertawa lirih, lalu menurunkan volume suaranya.
“Boleh lihat?”
Salma menggeser kamera perlahan. Mikail tertidur pulas di boks kecilnya, tangan mungilnya mengepal, napasnya teratur.
Ridho menatap lama. Lama sekali.
“Mas kenapa jalannya agak aneh tadi?” tanya Salma, matanya tajam meski suaranya lembut.
Ridho menghela napas kecil. “Keblok sedikit. Tapi aman, sayang.”
Salma diam sejenak. “Jangan bohong sama Salma.”
Ridho tersenyum lemah. “Iya… memar. Tapi mas baik-baik saja.”
Salma mengangguk, lalu mendekat ke kamera.
“Mas harus jaga diri. Mas nggak cuma milik lapangan.”
Ridho menelan ludah. “Mas tahu.”
Doa yang Tak Terucap
Mereka terdiam. Tak ada kata, tapi layar kecil itu cukup menampung rindu.
Ridho berbisik, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Mas pulang, Salma sama Mikail harus utuh.”
Salma menjawab pelan, “Kami nunggu, yaudah mas istirahat gih biar cepet pulih kondisinya, Assalamualaikum.”
Ridho menatap wajah Salma lama, lalu menoleh lagi ke Mikail yang tertidur. Ia mengangkat tangan, seolah menyentuh layar.
“ Iya sayang, makasi ya, Waalaikumsalam, Selamat tidur jagoan ayah,” gumamnya.
Panggilan berakhir.
Ridho merebahkan tubuhnya perlahan. Rasa nyeri di paha masih ada, tapi dadanya terasa penuh dengan sesuatu yang hangat dan menenangkan.
Di jarak ribuan kilometer, dua orang yang ia cintai tertidur dan itu cukup untuk membuatnya kuat kembali besok.
KAMU SEDANG MEMBACA
S untuk Salma (Rizky Ridho Ramadhani)
RomanceON GOING..! Cast : Rizky Ridho Ramadhani (Ridho squad Timnas) : Salma (gadis yang dijodohkan oleh mama Ridho) : Silvy (pacar Ridho) karena hubungan baik antara keluarga Ridho dan keluarga Salma membuat kedua orangtua mereka ber...
