Hari pertandingan akhirnya tiba.
Jakarta pagi itu seolah bernafas lebih cepat. Jalanan sekitar Senayan padat oleh lautan manusia berbaju merah. Ada yang membawa spanduk, ada yang mengibarkan bendera besar, ada yang menyanyikan yel-yel dengan suara serak tapi penuh kebanggaan.
Suasana itu membuat dada Ridho terasa hangat.
Sejak pagi, para pemain timnas sudah berkumpul di hotel untuk briefing singkat. Ruangan hening, hanya suara AC dan langkah pelatih yang terdengar.
Pelatih berdiri di depan, menatap satu per satu wajah mereka.
“Kalian akan bermain di hadapan lebih dari delapan puluh ribu orang. Mereka datang karena percaya pada kalian. Jangan biarkan tekanan membuat kalian lup kalian pantas berdiri di lapangan itu.”
Ridho menunduk sebentar, meresapi tiap kata.
Setelah briefing, mereka bersiap menuju bus. Begitu keluar dari lobby hotel, suara suporter langsung menyambut.
“INDONESIAAAA! INDONESIAAAA!”
Ridho sempat menoleh ke samping, melihat kerumunan yang dipenuhi warna merah. Beberapa dari mereka mengenali dirinya dan berseru memanggil namanya.
“RIDHOOO! MAIN BAGUS YA, CAPTAIN!”
“AYOOO DOOOO, KITA PERCAYA KAMUU!”
Suara-suara itu terasa seperti bensin untuk semangatnya.
---
Di dalam bus menuju GBK
Ridho duduk di kursi dekat jendela. Earphone tersangkut di telinganya, tapi musiknya hanya pelan ia lebih banyak mendengarkan suara pikirannya sendiri.
Di kursi belakang, Marselino bercanda dengan Arhan.
Ernando sibuk memutar-mutar botol minumnya.
Ada gugup, ada antusiasme, ada adrenalin yang mulai naik.
Ponsel Ridho bergetar.
Ada pesan dari Salma.
‘Mas… kami sudah di stadion. Tribun VIP. Mikail pakai baju kecil warna merah. Nanti kalau selesai pemanasan, lihat ke atas ya… Aku ada di sana.’
Ridho tersenyum tipis.
Tangannya mengepal tanpa sadar.
“Aku main untuk kalian,” gumamnya.
---
Saat tiba di lorong GBK
Lorong itu panjang, dingin, namun megah.
Suara ribuan suporter bergema sampai ke dalam, seperti gelombang besar yang mengguncang dada.
Ridho berdiri paling depan.
Ia memejamkan mata sebentar, lalu menarik napas panjang.
Arhan menepuk bahunya dari belakang.
“Ayo Do. Ini panggungmu.”
Marselino menambahkan dengan senyum lebar,
“Kalau kamu gugup, lihat aja muka suporter. Mereka lebih gugup daripada kamu.”
Semua tertawa kecil, meredakan tegang.
Pelatih memukul kedua tangannya keras-keras.
“Fokus! Kita main dengan kepala dingin, hati panas!”
Pintu lorong terbuka.
Cahaya dari stadion masuk, menyilaukan mata.
Suara gemuruh pecah.
> “INDONESIA! INDONESIA! INDONESIA!”
Ridho melangkah keluar… dan semesta merah itu seolah menyambutnya.
---
Pemanasan
Saat pemain mulai jogging kecil, Ridho menoleh ke tribun VIP seperti pesan Salma.
Di antara ribuan manusia, ia melihat sosok yang ia kenal:
Salma, mengenakan kerudung merah.
Di pelukannya, Mikail kecil memakai jersey mini bertuliskan “ALASKA 10”.
KAMU SEDANG MEMBACA
S untuk Salma (Rizky Ridho Ramadhani)
RomanceON GOING..! Cast : Rizky Ridho Ramadhani (Ridho squad Timnas) : Salma (gadis yang dijodohkan oleh mama Ridho) : Silvy (pacar Ridho) karena hubungan baik antara keluarga Ridho dan keluarga Salma membuat kedua orangtua mereka ber...
