Pagi itu udara Surabaya masih sejuk ketika Ridho tiba di mess latihan Persebaya. Langkahnya lebih hati-hati dari biasanya. Meski nyeri di pahanya sedikit berkurang setelah malam yang tenang bersama Salma, rasa tertarik itu belum sepenuhnya hilang.
Sebelum sesi latihan dimulai, Ridho dipanggil ke ruang medis.
"Ridho, duduk dulu," ujar salah satu tim medis sambil menyiapkan alat pemeriksaan.
Ridho menuruti. Ia merebahkan kaki kanannya, membiarkan dokter memeriksa dengan teliti. Beberapa tekanan ringan membuat alisnya berkerut.
"Masih terasa?" tanya dokter.
"Iya, Dok. Kalau ditekan di bagian situ," jawab Ridho jujur.
Tim medis saling pandang. Salah satu dari mereka menghela napas pelan.
"Ini masih sisa cedera paha dari timnas kemarin. Belum parah, tapi belum pulih sempurna."
Ridho menegakkan badan. "Saya masih bisa main, Dok."
Dokter mengangguk pelan. "Bisa, tapi bukan sekarang. Kalau kamu memaksakan latihan penuh hari ini atau besok, risiko kambuhnya besar."
Ridho terdiam.
"Kalau kamu ingin tetap tampil di pertandingan Persebaya lawan Persija akhir pekan nanti," lanjut dokter dengan nada tegas tapi tenang, "kami sarankan kamu istirahat dulu dari latihan berat. Fokus pemulihan. Treatment, fisioterapi ringan, dan latihan terkontrol."
Ridho mengusap wajahnya pelan. Laga itu bukan laga biasa. Bukan hanya soal klub lamanya, tapi juga pembuktian.
"Berarti saya absen latihan?" tanyanya.
"Bukan absen total," jawab tim medis. "Latihan ringan saja. Tanpa duel, tanpa sprint maksimal. Kalau kamu disiplin, peluang main akhir pekan tetap besar."
Ridho mengangguk pelan. "Baik, Dok. Saya ikut saran kalian."
Keputusan yang Berat
Keluar dari ruang medis, Ridho duduk sendiri di bangku lorong. Suara peluit latihan terdengar dari kejauhan. Rekan-rekannya mulai pemanasan di lapangan.
Ia menatap pahanya, lalu mengepalkan tangan.
"Demi satu pertandingan… dan demi karier yang lebih panjang," gumamnya.
Di saat yang sama, wajah Salma terlintas di kepalanya. Cara istrinya menatapnya tadi malam. Penuh khawatir, tapi juga penuh percaya.
Ridho mengeluarkan ponselnya, mengirim pesan singkat.
"Aku disuruh istirahat dulu sama tim medis. Biar bisa main lawan Persija."
Tak lama, balasan masuk.
"Hati-hati ya, Mas. Aku lebih pilih kamu sehat daripada maksa. Tapi aku percaya keputusan kamu."
Ridho tersenyum kecil. Pesan itu menenangkan dadanya.
Janji dalam Diri
Ridho berdiri, berjalan perlahan menuju lapangan latihan. Ia tidak ikut sesi penuh, hanya melakukan stretching ringan di pinggir lapangan ditemani fisioterapis.
Ernando melirik ke arahnya. "Kenapa di pinggir?"
"Disuruh jaga badan," jawab Ridho singkat.
Ernando mengangguk paham. "Yang penting Sabtu nanti kamu berdiri di belakang kami."
Ridho menatap lapangan, matanya tajam.
"Iya. Dan kalau aku main… aku pastikan aku siap."
Pagi itu, Ridho belajar satu hal penting:
kadang, mundur selangkah adalah cara terbaik untuk menang di momen paling besar.
__
Dua hari menjelang laga akhir pekan, nama Ridho kembali memenuhi berita olahraga. Bukan karena gol atau tekel kerasnya, melainkan kondisi fisiknya.
Di ruang konferensi pers Persebaya, kamera berjejer rapi. Kilatan lampu sesekali menyala. Pelatih duduk di tengah, dengan beberapa pemain di sampingnya. Ridho ada di ujung, tenang, meski pahanya masih terasa sedikit kaku.
Seorang wartawan mengangkat tangan.
"Coach, bagaimana kondisi Ridho? Banyak kabar menyebutkan dia belum fit seratus persen."
Pelatih menjawab diplomatis. "Ridho dalam pantauan tim medis. Kami ambil keputusan terbaik, bukan hanya untuk pertandingan ini, tapi juga untuk jangka panjang."
Pertanyaan lain menyusul, lebih tajam.
"Ridho, ini laga emosional buat kamu. Mantan klub, tekanan suporter, dan sekarang cedera. Kamu yakin siap?"
Ridho menarik napas, lalu mendekatkan mikrofon.
"Saya siap secara mental. Soal fisik, saya mengikuti arahan tim medis dan pelatih. Kalau diturunkan, saya akan bertanggung jawab."
"Apakah ini jadi pembuktian pribadi?" tanya wartawan lain.
Ridho menggeleng pelan. "Ini bukan soal saya. Ini soal Persebaya."
Judul yang Membebani
Sore harinya, Ridho duduk di rumah, menatap layar ponsel. Berita demi berita bermunculan.
"Ridho Diragukan Tampil di Laga Panas"
"Cedera Paha, Ridho Bisa Absen Lawan Persija?"
"Laga Emosional, Ridho di Persimpangan"
Salma duduk di sampingnya sambil menggendong Mikail. Ia melirik layar ponsel Ridho, lalu menatap wajah suaminya.
"Jangan dibaca semua, Mas," ucapnya lembut.
Ridho tersenyum tipis. "Sulit nggak baca. Tapi Mas nggak mau terpengaruh."
Salma mengangguk. "Orang-orang cuma lihat Ridho sebagai pemain. Aku lihat Ridho sebagai manusia."
Ridho menoleh, menatap Salma lama. Kalimat itu menenangkan lebih dari apa pun.
Suara dari Luar
Malam itu, telepon Ridho berdering. Nomor tak dikenal.
"Ridho, ini dari salah satu media nasional. Kami mau konfirmasi, benarkah kamu memaksakan diri demi laga lawan Persija?"
Ridho menjawab tenang. "Saya tidak memaksakan diri. Saya profesional. Keputusan ada di pelatih dan tim medis."
"Kalau kamu absen, apa kamu takut dicap lari dari tekanan?"
Ridho tersenyum kecil, tapi suaranya tegas.
"Saya tidak lari dari apa pun. Sepak bola mengajarkan saya kapan harus maju, kapan harus menunggu."
Telepon ditutup. Ridho menghela napas panjang.
Di Balik Sorotan
Malam semakin larut. Rumah kembali tenang. Mikail tertidur di dada Salma. Ridho berdiri di dekat jendela, menatap lampu kota Surabaya.
"Mas kepikiran?" tanya Salma pelan.
"Sedikit," jawab Ridho jujur. "Tapi Mas tahu satu hal."
Salma menatapnya. "Apa?"
Ridho berbalik, mendekat. "Apa pun yang mereka tulis, yang Mas perjuangkan tetap sama."
Ia menatap Salma dan Mikail.
"Keluarga. Klub. Tanggung jawab."
Salma tersenyum, matanya berkaca. "Itu cukup, Mas."
Di luar sana, media boleh bersuara keras. Tapi di dalam rumah itu, Ridho menemukan ketenangan—sebuah jangkar yang membuatnya tetap berdiri, meski tekanan datang dari segala arah.
____
Hari itu Surabaya cerah tapi terasa panas di lapangan latihan Persebaya. Semua pemain menjalani pemanasan ringan, tapi Ridho terlihat sedikit berbeda. Paha kanannya masih terasa kaku, meski latihan ringan sudah ia jalani dengan disiplin.
Pelatih memanggil Ridho ke tepi lapangan. Di sana, dokter tim ikut berdiri, menatap serius.
"Ridho," kata pelatih sambil menepuk bahunya, "kami sudah memantau kondisi kamu selama dua hari terakhir."
Ridho menunduk sedikit, menahan rasa tegang. "Masih terasa, Coach, tapi Mas bisa main kalau diperlukan."
Dokter ikut bicara, nada tegas tapi menenangkan. "Cedera kamu tidak parah, tapi belum sepenuhnya pulih. Kalau dipaksakan terlalu keras, risiko kambuh tinggi."
Ridho mengangguk. "Mas paham, Dok."
Pelatih menatap Ridho panjang. "Dua opsi ada. Satu, kamu duduk di bangku cadangan dan kami menurunkan center back lain. Dua, kamu main dari menit pertama tapi dengan monitoring ketat. Aku nggak mau memaksa, tapi juga nggak mau kamu menyesal."
Ridho menarik napas panjang. Matanya menatap pelatih dan dokter. "Mas siap, Coach. Mas janji akan bermain hati-hati. Tapi Mas ingin membantu tim."
Pelatih mengangguk pelan. "Kalau itu keputusanmu, aku serahkan ke kamu. Tapi dengar tubuhmu. Kalau rasa sakit meningkat, langsung kasih tanda."
Ridho menepuk dada pelan. "Siap, Coach. Mas ngerti."
Dokter tersenyum tipis. "Baik. Kita siapkan fisioterapi ringan sebelum pertandingan. Pastikan pemanasan maksimal besok."
Ridho menunduk, menatap kedua orang yang menuntunnya selama cedera. Hatinya campur aduk antara lega, tegang, dan semangat. Ia tahu, besok bukan sekadar pertandingan—bukan sekadar klub, tapi juga kebanggaan diri.
Di Rumah, Menenangkan Diri
Malam harinya, Ridho pulang lebih awal. Salma sudah menunggu, Mikail tertidur pulas. Ia duduk di sofa, menghela napas panjang.
"Mas… keputusan final?" tanya Salma lembut.
"Aku main, sayang. Tapi Mas harus hati-hati. Dokter dan Coach sudah kasih arahan," jawab Ridho, suara tenang tapi mata berbinar.
Salma tersenyum tipis, lalu menaruh tangan di pipi Ridho. "Hati-hati, ya, Mas. Aku nggak mau kehilangan Mas karena maksa."
Ridho membalas genggaman tangan Salma dengan hangat. "Mas janji. Fokus, tapi tetap aman."
Mikail menggerakkan tangan mungilnya, membuat Ridho tersenyum. "Tenang, Nak. Ayah masih kuat."
Suasana malam itu dipenuhi campuran tegang, hangat, dan cinta. Ridho tahu besok akan menjadi ujian, tapi ia tidak sendirian—di rumah, ada Salma dan Mikail, dan di lapangan, ada tim yang percaya padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
S untuk Salma (Rizky Ridho Ramadhani)
RomansaON GOING..! Cast : Rizky Ridho Ramadhani (Ridho squad Timnas) : Salma (gadis yang dijodohkan oleh mama Ridho) : Silvy (pacar Ridho) karena hubungan baik antara keluarga Ridho dan keluarga Salma membuat kedua orangtua mereka ber...
