...
Sore itu, udara Jakarta terasa agak mendung. Salma sedang jenuh di apartemen, perasaannya sejak semalam memang belum tenang sepenuhnya. Ia mencoba menenangkan diri dengan jalan sebentar ke kafe dekat stadion, sekadar membeli camilan kesukaannya.
Dengan langkah pelan dan perut yang semakin berat, Salma masuk ke kafe. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat matanya menangkap pemandangan di sudut ruangan.
Ridho.
Suaminya.
Duduk berhadapan dengan seorang perempuan cantik berambut panjang, wajahnya familiar. Tidak salah lagi—itu Saskia.
Salma membeku di tempat. Suara ramai kafe seakan menghilang, hanya tersisa detak jantungnya yang berdegup kencang. Ia melihat Saskia menyentuh tangan Ridho di atas meja, sementara Ridho tampak menarik tangannya dengan ekspresi kesal.
Namun, bagi Salma, itu cukup. Adegan itu sudah terlanjur menusuk hatinya.
Air matanya mulai menggenang. Ia ingin berbalik pergi, tapi justru langkahnya membawa dirinya mendekat.
“Mas…” suara Salma serak, tapi cukup keras membuat Ridho dan Saskia menoleh bersamaan.
Wajah Ridho langsung pucat. Ia terlonjak kaget, berdiri dari kursinya. “Salma?! Sayang, ini bukan seperti yang Salma lihat!”
Saskia tersenyum miring, jelas menikmati momen itu. “Oh… jadi ini istrimu? Cantik juga, meskipun—”
“Cukup, Saskia!” bentak Ridho, memotong ucapan mantannya.
Salma menatap Ridho dengan mata yang berkaca-kaca. “Mas… Salma percaya sama mas. Salma berusaha percaya. Tapi kenapa Mas masih ketemu dia diam-diam?”
Ridho panik, mencoba mendekat. “Sayang, tolong dengerin mas dulu. Mas nggak pernah janjian sama Saskia. Dia yang maksa—”
“Kalau memang dia maksa, kenapa Mas masih duduk sama dia? Kenapa nggak langsung pergi?” potong Salma dengan suara bergetar, air matanya jatuh begitu saja.
Ridho terdiam. Kata-kata Salma menampar logikanya. Ia memang seharusnya pergi sejak awal, tapi ia terlalu sibuk mencoba menyelesaikan masalah dengan Saskia sendirian.
“Sayang… mas salah. Mas cuma nggak pengen Salma khawatir. Mas kira mas bisa beresin sendiri tanpa bikin Salma tahu. Tapi ternyata malah jadi begini…” ucap Ridho, suaranya lirih penuh penyesalan.
Salma menggeleng, menahan sesak di dadanya. “Mas… Salma istri mas. Salma pengen jadi tempat Mas berbagi, bukan malah ditutupi. Salma nggak kuat kalau terus-terusan begini.”
Saskia berdiri, melipat tangan dengan ekspresi puas. “Lihat? Aku bilang juga apa. Kamu nggak akan bisa terus sembunyi, Ridho. Karena aku akan selalu ada.”
Ridho menoleh tajam ke Saskia. “Pergi, Saskia! Jangan ganggu hidupku lagi!”
Namun kata-kata itu sudah terlambat untuk Salma. Hatinya terlanjur hancur. Ia menoleh sekilas ke arah Ridho, lalu melangkah keluar kafe dengan tubuh gemetar.
“Sayang! Tunggu!” Ridho mengejar, tapi Salma sudah lebih dulu masuk ke taksi yang kebetulan berhenti di depan kafe. Pintu tertutup, meninggalkan Ridho yang hanya bisa menatap dengan wajah penuh penyesalan.
---
Malam itu, apartemen terasa dingin. Salma duduk di kamar, menangis terisak-isak sambil memeluk perutnya. Janin di dalam rahimnya menendang pelan, seolah merasakan keresahan ibunya.
“Mas… kenapa Mas nggak jujur dari awal…” bisiknya, suaranya pecah oleh tangis.
Sementara itu, Ridho berdiri di ruang tamu, linglung dan merasa bersalah. Ia mengetuk pintu kamar berulang kali.
“Sayang, tolong buka pintunya. Mas salah, mas janji bakal cerita semuanya. Tolong jangan jauhin mas,” ucapnya dengan suara serak.
Tapi Salma tak membukakan pintu. Malam itu mereka berdua berpisah dalam diam, dengan dinding dingin yang semakin tebal memisahkan hati mereka.
___
Pagi di apartemen terasa muram. Sinar matahari yang menembus jendela tidak mampu menghangatkan suasana hati Ridho dan Salma. Semalaman mereka tidak bicara sepatah kata pun. Ridho tidur di sofa ruang tamu, sementara Salma terisak di balik pintu kamar, menahan sakit yang tak kunjung reda.
Saat sarapan, Ridho mencoba membuka obrolan.
“Sayang… ayo kita bicarakan baik-baik. Aku nggak mau kita terus seperti ini.”
Salma hanya menatap piring kosong di depannya. Nafsu makannya hilang. “Mas… aku sudah berusaha percaya. Tapi ternyata Mas masih memilih menyelesaikan masalah sendiri tanpa melibatkan aku. Aku ini siapa buat Mas?”
“Sayang, jangan bilang begitu… kamu segalanya buat aku. Aku cuma takut kamu kepikiran, takut kondisi kandunganmu terganggu kalau aku cerita semua,” jawab Ridho, suaranya bergetar.
Salma menahan air matanya. “Justru itu, Mas. Aku nggak butuh dilindungi dengan cara disembunyikan. Aku butuh Mas jujur. Aku butuh Mas percaya sama aku.”
Ridho terdiam, tak sanggup membantah.
---
Hari-hari berikutnya berjalan kaku. Setiap kali Ridho pulang latihan, Salma lebih banyak diam. Bahkan saat Ridho mencoba bercanda, Salma hanya tersenyum tipis. Di hatinya, luka yang ditoreh Saskia semakin dalam, apalagi karena Ridho tidak tegas sejak awal.
Puncaknya terjadi malam itu. Ridho pulang agak larut karena rapat tim. Begitu masuk apartemen, ia melihat Salma duduk di sofa sambil menatap layar ponsel dengan wajah sedih.
“Ada apa, Sayang?” Ridho mendekat.
Salma menunjukkan layar ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
> Saskia: “Aku selalu lebih tahu sisi Ridho daripada kamu. Karena aku pernah jadi segalanya buat dia.”
Ridho mengepalkan tangan, wajahnya merah menahan marah. “Dasar Saskia! Aku sumpah bakal selesaikan ini!”
Tapi bagi Salma, semua sudah terlalu melelahkan. Ia berdiri dengan susah payah, menatap Ridho dengan mata berkaca-kaca.
“Mas… aku capek. Aku nggak kuat lagi. Aku butuh ketenangan, bukan bayangan masa lalu Mas yang terus menghantui kemarin Silvy sekarang Saskia, besok siapa lagi mas?.”
“Sayang, tolong jangan bilang begitu. Aku janji bakal beresin semua. Aku akan bikin Saskia berhenti ganggu kita!”
Salma menggeleng, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. “Mas, aku percaya Mas sayang sama aku. Tapi kenyataannya, Saskia masih ada di antara kita. Dan Mas nggak bisa cegah itu dari awal. Aku… aku pengin pulang dulu, Mas. Ke rumah Ibu Bapak di Semarang.”
Ridho terdiam, wajahnya pucat. “Sayang, jangan. Jangan tinggalin aku. Aku butuh kamu di sini. Aku nggak bisa latihan, nggak bisa main kalau pikiran aku terus kepikiran kamu. Aku nggak bisa hidup kalau kamu nggak ada di sampingku.”
Namun Salma tak menjawab. Ia masuk ke kamar, menutup pintu perlahan. Ridho hanya bisa menatap kosong, hatinya hancur.
---
Keesokan harinya, saat Ridho berangkat latihan dengan terburu-buru, Salma duduk di tepi ranjang dengan koper kecil di sampingnya. Tangannya bergetar saat merapikan baju-baju bayi yang sudah ia beli.
“Maaf, Mas… aku nggak kuat lagi. Aku harus pulang dulu, biar pikiranku tenang.”
Dengan perasaan campur aduk, Salma meninggalkan apartemen. Ia memesan taksi online, menatap gedung-gedung Jakarta yang berlalu di jendela mobil dengan air mata mengalir deras.
“Semarang… aku pulang, Bu, Pak. Aku butuh kalian,” lirihnya sambil mengelus perutnya.
Sementara itu, Ridho baru menyadari sesuatu saat latihan selesai. Ia mencoba menelpon Salma, tapi ponselnya sudah tidak aktif. Panik mulai melanda, perasaan buruk menghantam dadanya.
“Sayang… jangan bilang kamu benar-benar pergi…”
Gimana nih part yang ini?
Makin greget gak?
Share cerita ini ke teman teman kamu ya, jangan lupa komen dan vote nya❤️❤️🫶
Love you kalian......
KAMU SEDANG MEMBACA
S untuk Salma (Rizky Ridho Ramadhani)
RomantikON GOING..! Cast : Rizky Ridho Ramadhani (Ridho squad Timnas) : Salma (gadis yang dijodohkan oleh mama Ridho) : Silvy (pacar Ridho) karena hubungan baik antara keluarga Ridho dan keluarga Salma membuat kedua orangtua mereka ber...
