Ruangan rumah sakit itu masih dipenuhi dengan aroma obat dan kehangatan air mata. Salma terbaring di ranjang dengan tubuh lemah, tapi di wajahnya terlukis ketenangan yang tak pernah Ridho lihat sebelumnya. Di pelukannya, seorang bayi mungil berbalut selimut putih tampak tenang, sesekali merengek pelan.
Ridho berdiri di sisi ranjang, masih tertegun. Hatinya bergetar hebat melihat darah dagingnya sendiri untuk pertama kali.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menatap wajah kecil itu—begitu mirip dengan Salma. Hidung mungilnya, bibir tipisnya, dan kulitnya yang halus seolah Tuhan menggambar dengan penuh cinta.
Salma tersenyum pelan, suaranya lirih,
“Mas... ini anak kita.”
Ridho terisak, suaranya serak, “Iya, sayang... ini titipan paling indah dari Allah.”
Ia mengusap lembut kepala bayi itu, lalu menatap Salma penuh haru.
“Boleh Mas.. mengadzani dia?” tanyanya perlahan.
Salma mengangguk pelan, menahan tangis haru.
Dengan tangan bergetar, Ridho mengangkat bayi mungil itu ke dalam pelukannya. Ia mendekatkan bibir ke telinga kanan si kecil, suaranya bergetar ketika ia mulai melantunkan kalimat suci itu.
“Allahu Akbar... Allahu Akbar...”
Setiap lafaz keluar dengan penuh getaran jiwa, seolah menembus langit.
Perawat yang ada di ruangan itu ikut menunduk, ikut merasakan keheningan sakral yang menyelimuti suasana.
Ridho terus melantunkan adzan dengan suara yang menurun di akhir, pelan dan lembut, seolah sedang berbicara langsung pada hatinya sendiri.
“Allahu Akbar... La ilaha illallah...”
Air matanya kembali jatuh.
Selesai mengadzani, Ridho menatap bayi itu, lalu berbisik,
“Selamat datang di dunia, Nak... semoga kamu tumbuh jadi anak yang kuat, sholeh, dan selalu melindungi ibumu.”
Salma menangis dalam diam, menatap suaminya yang kini terlihat begitu lembut dan penuh kasih.
Mereka saling berpandangan, tanpa perlu kata-kata, seolah seluruh luka, amarah, dan perpisahan kemarin luluh dalam keajaiban kecil di pelukan mereka.
Ridho mencium kening Salma.
“Terima kasih, sayang... kamu sudah berjuang hebat,” ucapnya dengan suara parau.
Salma membalas lirih, “Aku juga minta maaf... kalau aku sempat pergi tanpa pamit.”
Ridho menggeleng cepat, menggenggam tangan Salma erat.
“Sudah, jangan diingat lagi. Yang penting sekarang... kita mulai dari awal, demi dia.”
Tangis bahagia kembali pecah.
Di luar jendela, matahari sore menembus tirai, membiaskan cahaya hangat ke wajah mereka bertiga—seolah langit turut memberkati awal kisah baru keluarga kecil itu.
___
Sudah hampir dua minggu sejak Mikail lahir. Setelah semua yang terjadi, Ridho tahu—ada satu hal terakhir yang harus ia lakukan sebelum benar-benar menutup masa lalunya: menyelesaikan semuanya dengan Saskia.
Pagi itu, Ridho berpamitan pada Salma dan keluarganya.
“Mas yakin mau ke Jakarta sendirian?” tanya Salma lembut sambil menggendong Mikail.
Ridho mengangguk. “Iya, Sayang. Aku harus selesaikan ini. Aku nggak mau ada bayangan masa lalu yang terus menghantui kita.”
Salma menggenggam tangannya erat. “Hati-hati, Mas. Aku percaya kamu.”
Ridho mengecup kening istrinya, lalu membelai lembut kepala Mikail yang tertidur di pelukannya.
“Ayah pulang cepet, ya, Nak…”
---
Jakarta menyambutnya dengan langit kelabu dan hiruk pikuk yang tak pernah berhenti. Sudah lama ia tak menjejakkan kaki di kota ini. Rasanya asing, padahal dulu tempat ini sempat menjadi bagian dari hidupnya.
Ridho melangkah ke kantor manajemen Persija. Beberapa staf menatapnya kaget—ia memang belum sempat memberi kabar soal rencananya. Namun ia tak ingin berlama-lama. Ada satu tujuan yang lebih penting.
KAMU SEDANG MEMBACA
S untuk Salma (Rizky Ridho Ramadhani)
RomanceON GOING..! Cast : Rizky Ridho Ramadhani (Ridho squad Timnas) : Salma (gadis yang dijodohkan oleh mama Ridho) : Silvy (pacar Ridho) karena hubungan baik antara keluarga Ridho dan keluarga Salma membuat kedua orangtua mereka ber...
